“Sejak kecil, saya sudah berkeyakinan bahwa usia saya bakal tidak bisa lebih dari 30 tahun. Saya susah percaya dengan orang sekitar, selalu merasa sendirian, merasa bahwa hidup itu berat banget, dan sering kepikiran untuk menyudahinya. Saya bersyukur dulu tidak menyerah, saya coba untuk tenangin diri, tarik napas dalam-dalam 3 kali sampai lebih tenang. Cari orang sekitar yang bisa dipercaya, jangan takut minta bantuan profesional seperti psikolog ataupun psikiater. Ingat, semua akan lewat dan bakal selalu ada jalan,” tutur Cristin seorang gadis remaja, dalam videonya di website ehfa.id.

Tak hanya Cristin, mungkin diluar sana masih banyak lagi Cristin-Cristin lainnya yang sangat membutuhkan bantuan. Nah, dalam rangka Hari Pencegahan Bunuh Diri Sedunia yang jatuh setiap tanggal 10 September, Ikatan Psikolog Klinis (IPK) Indonesia, berkolaborasi dengan Dr. Sandersan Onie, Peneliti Kesehatan Mental dalam Pencegahan Bunuh Diri, meluncurkan Website & Tools Pencegahan Bunuh Diri ehfa.id. Peluncuran secara virtual tersebut menghadirkan keynote speaker Dr. Celestinus Eigya Munthe, Sp.KJ, M.Kes, Direktur Pencegahan dan Pengendalian Masalah Kesehatan Jiwa dan Napza (P2MKJN), Kementerian Kesehatan RI.

“Sepuluh sampai dua puluh tahun ke depan, anak dan remaja merupakan generasi penerus. Masalah ketahanan mental bagi anak dan remaja maupun dewasa usia muda terutama di masa pandemi ini, tentu harus jadi perhatian. Adanya  tekanan hebat, perubahan secara sosial dan keseluruhan dimana secara emosional bisa mengakibatkan peningkatan gangguan kesehatan jiwa di tengah masyarakat. Mari kita bangun sistem kesehatan mental yang baik. Masyarakat bukan lagi objek tapi kini bersama pemerintah menciptakan sistem kesehatan mental. Pentingnya menjaga kesehatan jiwa karena saat ini ada 24 juta orang kehilangan pekerjaan karena pandemi, mengakibatkan ketika berkumpul dalam keluarga, banyak yang merasa sendiri dan terasingkan maka butuh kebersamaan untuk memahami, saling asah, asih, dan asuh. Salah satunya adalah dengan peluncuran website ehfa.id ini,” ujar Dr. Celestinus.

Menurut Asosiasi Internasional untuk Pencegahan Bunuh Diri, setiap 40 detik seseorang melakukan bunuh diri di seluruh dunia, atau sekitar 800.000 kejadian bunuh diri setiap tahunnya.  Lebih dari 75% kasus bunuh diri terjadi di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah (IASP 2021). Sementara data P2MKJN 2019 menyatakan di Indonesia terdapat lebih dari 16.000 kasus bunuh diri setiap tahunnya.

Ketua Umum Ikatan Psikolog Klinis (IPK) Indonesia, Dr. Indria Laksmi Gamayanti, M.Si., Psikolog, mengatakan, ”Bunuh diri perlu mendapatkan perhatian, sebab hal ini termasuk fenomena gunung es dimana kejadian yang terlihat jauh lebih sedikit dibanding jumlah kasus sebenarnya. Terlebih dalam situasi pandemi ini dimana menurut hasil riset IPK, kami menemukan adanya peningkatan mereka yang mengalami gangguan psikologis, rentan stres, depresi, bahkan terancam bunuh diri.” “Peluncuran ehfa.id sebagai salah satu aksi nyata mencegah mereka yang berpikiran untuk melakukan bunuh diri, mengingat bunuh diri adalah masalah global dan masalah kesehatan masyarakat yang serius yang dapat dicegah,” ungkap Dr. Gamayanti.

Dr. Sandersan Onie, Peneliti Kesehatan Mental dalam Pencegahan Bunuh Diri, pendiri Emotional Health for All, dan pemrakarsa website ehfa.id, menjelaskan bahwa berdasarkan penelitiannya, untuk setiap kematian bunuh diri, kemungkinan ada 29 upaya serupa di tempat lain. “Upaya bunuh diri dapat menular, khususnya mereka yang berada di sekitar individu yang bunuh diri,” ucapnya.

Selain itu, Dr. Sandersan menemukan kurangnya keahlian penelitian dalam membantu menginformasikan apa yang perlu dilakukan, seperti upaya pencegahan yang sudah tidak relevan atau tidak efektif dengan zaman yang berubah. Melihat upaya bunuh diri yang banyak dilakukan generasi milenial, Dr. Sandersan mengembangkan website pencegahan bunuh diri ehfa.id.

Website ini menampilkan halaman bantuan saat krisis, yang dapat dikunjungi ketika seseorang merasa ingin bunuh diri. Dalam website ini, pengunjung dapat menggunakan serangkaian fitur berbasis penelitian dan dapat menyaksikan video pengalaman seseorang yang mencegah keinginannya untuk bunuh diri. Tautan ke sumber daya penting, termasuk database psikolog terdaftar IPK Indonesia terdapat dalam website ehfa.id.

Di website ehfa.id terdapat serangkaian alat dan formulir awal untuk mengidentifikasi kondisi krisis yang dialami. Selain itu, terdapat rencana keamanan yang dapat digunakan oleh seseorang yang memiliki tendensi bunuh diri, sebagai bantuan awal mengatasi krisis tersebut.

“Seseorang yang mengalami krisis berarti berada dalam kondisi stres yang sangat tinggi, situasi berisiko tinggi untuk bunuh diri, tidak dapat fokus atau berpikir terlalu jauh, maka Rencana Keamanan yang ditampilkan secara bersahabat ini menawarkan kegiatan yang dapat dilakukan setelah orang tersebut berada dalam kondisi yang lebih tenang, sehingga mereka tahu apa yang harus dilakukan untuk menjaga diri mereka tetap aman,” jelas Dr. Sandersan.

“IPK berharap bahwa kolaborasi seluruh pihak terkait, didukung dengan adanya website ehfa.id termasuk fitur bantuan di dalamnya akan membantu mereka yang sedang mengalami gangguan psikologis dan mempunyai pemikiran melakukan bunuh diri dapat dicegah, tentunya bersama partisipasi lingkungan dan masyarakat,” tutup Dr. Gamayanti.

Foto: Ist

You may also like
Latest Posts from Majalahjustforkids.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *