Hari Kamis sepulang sekolah, Debi bergegas menaiki tangga ke lantai 2 gedung sekolahnya. Di lantai 2, dia segera menuju perpustakaan.

Setiap hari Kamis di perpustakaan, Debi dan beberapa teman sekelasnya ikut grup cerita. Grup ini beranggotakan anak-anak yang suka menulis cerita dan membaca buku.

Grup cerita merupakan salah satu grup bentukan yang terkenal dan disukai di sekolah. Karena jadi favorit, grup ini bahkan punya podcast sendiri.

“Hai Debi, ayo masuk!” sapa Kak Helga ketika Debi masuk ke ruang perpustakaan. Kak Helga adalah kakak kelas Debi yang membuat grup cerita. Dia baik hati, ceria, dan bersemangat. Debi dan teman-teman grup cerita sangat menyukai Kak Helga.

Tiba-tiba, suara guntur menggelegar, mengagetkan anggota grup cerita. Di luar jendela perpustakaan, langit kelabu terlihat murung dan menyeramkan.

“Wah, aku jadi punya ide. Bagaimana kalau kita buat cerita seram kali ini?” usul Debi. “Ide bagus, Debi!” kata Kak Helga antusias. “Kami setuju!” tambah teman-teman Debi.

Setelah memilih cerita-cerita seram yang ditulis oleh anak-anak grup cerita, cerita yang dipilih oleh Debi dan teman-temannya untuk direkam dan diupload ke podcast  adalah cerita Kak Helga.

Debi sudah siap dengan alat perekamnya. “Aku belum pernah rekaman, jadinya gugup nih!” kata Kak Helga. “Tenang Kak, bicara dengan santai tapi jelas. Kalau salah, bisa diulang kok,” kata Debi. Mendengar ini, Kak Helga jadi semangat, dan dia membacakan ceritanya dengan sempurna.

Debi sudah membaca cerita Kak Helga. Tapi entah kenapa, mendengar Kak Helga membacakan cerita seramnya, membuat Debi takut. Itu karena cerita Kak Helga berlatar belakang perpustakaan!

Ini cerita Kak Helga: Suatu hari, Kak Helga membaca di perpustakaan. Tak terasa waktu sudah pukul enam sore. Kak Helga segera beres-beres untuk pulang ketika dia melihat keanehan.

Di sebelah kanan Kak Helga, ada tempat duduk yang memiliki sekat. Ada yang duduk di situ. Seorang anak perempuan yang rambutnya sangat panjang. Kak Helga ingat semua anak di sekolah, dan dia yakin sekali, tidak ada anak seperti itu!

Kak Helga yang bingung, berjalan keluar perpustakaan dan bertemu dengan pustakawan sekolah yang mau mengunci pintu. Kak Helga bilang kalau masih ada anak yang membaca di dalam.

Tapi, pustakawan sekolah tidak menemukan seorang pun. Kak Helga pucat ketakutan. Ketika Debi dan Kak Helga mendengarkan rekaman suara, mereka terkejut.

“Lho, kok ada bagian yang hilang?” kata Debi bingung. “Debi…suaraku yang hilang kenapa hanya kata-kata anak perempuan berambut panjang, ya?” gumam Kak Helga.

BRAK! Suara keras membuat Debi dan Kak Helga kaget. Rupanya, ada tumpukan buku di meja yang terjatuh.

“Kak… aku lihat tumpukan buku itu tadi. Mustahil bisa jatuh karena tumpukannya rapi!” kata Debi ketakutan. Kak Helga dan Debi segera berlari keluar perpustakaan.

Kak Helga dan Debi menceritakan kejadian ini pada teman-teman grup cerita. Beberapa teman yang penasaran, mencoba merekam di perpustakaan. Dan lagi-lagi, rekaman suara hilang di bagian kata anak perempuan. Dan ada kejadian aneh, yaitu jendela perpustakaan yang menutup sendiri.

Akhirnya, Debi dan Kak Helga mencoba merekam di tempat lain, dan ternyata tidak ada suara yang hilang! Hal ini membuat Debi, Kak Helga, dan anak-anak grup cerita, jadi takut bertemu di perpustakaan. Sebagai gantinya, mereka menggunakan ruang kelas sebagai tempat pertemuan!

 

 

 

Cerita: Seruni     Ilustrasi: Novi Chrisna

You may also like
Latest Posts from Majalahjustforkids.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *