Rebi adalah seorang ahli rancang bangun yang sukses dan ternama dari Kota Pa. Karya-karya Rebi selalu menjadi pemenang dalam lomba rancang bangunan dan mendapat penghargaan. Pada suatu hari, Rebi diminta membuat sebuah taman dan tentu saja dengan bangga Rebi menerima pekerjaan itu. “Membuat taman bukan sesuatu yang sulit bagiku,” kata Rebi percaya diri.

Tanpa memerlukan waktu lama, Rebi menyelesaikan rancangan tamannya. Dia lalu memperlihatkan rancangannya pada si pemesan. “Aku tidak menyukai rancangan ini. Apakah ada rancangan lain?” tanya si pemesan pada Rebi. Rebi terkejut. “Aku tidak punya rancangan lain, dan aku yakin aku sudah mengusahakan yang terbaik untuk Anda,” kata Rebi. Tapi si pemesan tetap bersikeras ingin rancangan lain.

Rebi sangat marah dan dia menemui gurunya. “Guru, apakah ada yang salah dengan rancanganku?” tanya Rebi menunjukkan rancangannya. “Tidak ada yang salah, rancanganmu ini aman dan bagus,” jawab gurunya. “Tapi si pemesan tidak menyukainya!” kata Rebi. “Justru inilah yang membuat pekerjaanmu menarik. Walaupun terkenal dan dikagumi, kau juga seorang penyedia jasa. Kau harus rendah hati dan mengusahakan yang terbaik untuk si pemesan,” guru Rebi menasihati. “Baik, Guru,” kata Rebi. Untuk menghibur Rebi, gurunya memberikan pajangan kaca berwarna biru. “Teirma kasih, Guru!” kata Rebi bersemangat lagi.

Tapi, beberapa hari kemudian Rebi terkejut melihat pajangan dari gurunya itu pecah berserakan di lantai. “Ulah siapa ini?!” seru Rebi marah. Ternyata, seekor burung namdur yang memecahkannya! Rebi mencari burung itu dan menemukan si burung sedang membangun sarangnya. Ada pecahan-pecahan kaca berwarna biru di sekitar sarang  si burung. Rebi memperhatikan baik-baik sarang burung namdur itu dan seketika kemarahannya hilang.  Rupanya si burung menggunakan pecahan-pecahan pajangan Rebi untuk menghias sarangnya! Di mata Rebi, sarang dan pecahan-pecahan kaca itu bagai gerbang masuk taman bunga dan bunga-bunga yang tumbuh di sekitarnya. “Aku mendapat ide!” serunya gembira.

Beberapa hari kemudian, Rebi bertemu kembali dengan si pemesan. Rebi menunjukkan rancangan taman baru yang dibuatnya berdasarkan sarang burung namdur. “Bagus sekali! Aku menyukai burung dan rancangan ini membuatku teringat akan burung namdur! Aku tak sabar ingin melihat rancangan ini diwujudkan!” kata si pemesan. Rebi sangat gembira. Dia dan si pemesan berjabat tangan, tanda sepakat. Dan pembangunan taman pun dimulai!

Ketika taman selesai, Rebi kembali mengunjungi gurunya dan menceritakan pengalamannya. “Guru, aku baru ingat sekarang. Aku pernah merancang dan membangun sebuah vila di hutan dan daerah yang digunakan untuk membangun vila adalah tempat tinggal burung namdur, aku sangat menyesal, Guru. Kurasa aku telah membuat burung itu kehilangan tempat tinggalnya,” kata Rebi. “Jadi, pelajaran apa yang bisa kau ambil?” tanya gurunya. “Aku tidak akan membuat karya seni yang merusak lingkungan, dan membuat makhluk hidup lain menderita. Dan aku tidak akan menjadi angkuh, karena masih banyak ahli rancang bangun hebat di dunia!” jawab Rebi. “Itu bagus!” kata gurunya sambil tersenyum.

 

 

 

 

Cerita: Seruni    Ilustrasi: Agung

 

You may also like
Latest Posts from Majalahjustforkids.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *