Boli adalah seekor anjing yang tinggal dan besar di jalanan. Sedangkan, Golda adalah anjing rumahan yang tinggal di rumah mewah majikannya. Suatu siang matahari bersinar terik. Boli yang kepanasan berjalan lunglai. “Panas!” keluh Boli. Sebuah mobil melintas di sampingnya. Rupanya, itu mobil majikan Golda. Ia sedang berkeliling dengan mobil majikannya.  “Enak sekali, Golda. Dia duduk di dalam mobil mewah dan sejuk! Sedangkan aku, harus mencari tempat berteduh dari panas,” pikir Boli kesal.

“Aku iri dengan Golda si anjing rumahan. Andaikan aku bisa tinggal di rumah majikan Golda,” kata Boli. Tiba-tiba, terdengar suara tawa dari atas pohon. “Siapa itu? Keluarlah jangan bersembunyi!” seru Boli ketakutan. Seekor kucing hitam meloncat lincah dari atas pohon dan berjalan ke sisi Boli. “Aku bisa membuatmu tinggal di rumah majikan Golda, kalau kau mau,” kata si kucing hitam.  “Jangan bohong padaku!” kata Boli marah. Dalam hatinya, ia berharap si kucing tidak bohong. “Buat apa aku bohong? Aku kucing hitam yang bisa mewujudkan keinginan. Tutup matamu dan katakan berulang-ulang dalam hati bahwa kau ingin tinggal di rumah Golda,” jawab si kucing.

Boli lalu menutup mata dan melakukan apa yang dikatakan si kucing. Perlahan, Boli merasakan ruangan yang sejuk dan aroma makanan yang lezat. Ia membuka mata dan terkejut menemukan dirinya ada di sebuah ruangan mewah. “Ini tempat tinggal untuk anjing rumahan. Aku benar-benar tinggal di rumah majikan Golda!” ucap Boli gembira. Ia makan di tempat makan yang bagus. “Daging ini sangat lezat!” seru Boli. “Halo, Boli!” seekor anjing memberi salam. “Golda!” seru Boli. “Aku senang kau tinggal di sini. Mulai sekarang, ayo bekerjasama melindungi majikan kita,” ajak Golda sambil menggoyangkan ekornya. “Melindungi dari apa?” tanya Boli. “Dari orang-orang jahat,” jawab Golda sambil membusungkan dadanya, bangga. “Sepertinya pekerjaan mudah, sama seperti lari di lapangan,” kata Boli.

Suatu malam, Boli yang tertidur dibangunkan oleh Golda. “Orang jahat datang,” bisiknya. “A..apa?!” tanya Boli terkejut. Golda mengajak Boli yang masih mengantuk, turun melalui tangga dan pergi ke halaman rumah. Seorang manusia tinggi besar dengan raut wajah menyeramkan, berusaha membuka jendela. “Pencuri!” seru Golda marah. Ia menggonggong keras. Tapi, si pencuri tidak takut. Dia memukul Golda dengan balok kayu. “Kaiiiiing!” Golda terjatuh. Tapi, dia tak menyerah. Anjing itu bangkit lagi dan menggigit kaki si pencuri. Pencuri berteriak kesakitan dan kabur sambil terpincang-pincang. “Kau tidak apa-apa?” tanya Boli khawatir. Golda yang  terduduk lemas, membuka matanya. “Aku tidak apa-apa,” jawabnya. Boli memejamkan mata dan berteriak dalam hati. Aku tidak ingin menjadi anjing rumahan lagi!

Ketika membuka mata, Boli kembali berhadapan dengan si kucing hitam. “Bagaimana rasanya menjadi anjing rumahan?” tanya si kucing. “Mengerikan! Golda harus menjaga rumah majikannya dengan bertaruh nyawa. Aku tidak mungkin bisa menyayangi seorang majikan manusia seperti itu!” jawab Boli. “Benar, kau seekor anjing liar harus bahagia karena tidak terikat oleh siapa pun. Ingat Boli, apa yang kelihatannya menyenangkan, selalu diikuti dengan tanggung jawab yang besar,” kata si kucing hitam. Sejak itu, Boli selalu mensyukuri kehidupannya. Si kucing hitam pun tak pernah kelihatan lagi. (Cerita: Seruni/ Ilustrasi: Fika)

You may also like
Latest Posts from

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *