Raku si rakun pintar suka berkelana dan pergi mengunjungi tempat-tempat baru. Suatu hari, Raku mengunjungi negeri Kora, dimana bangsa singa hidup. Bangsa singa yang terkenal akan keberanian mereka, bukan bangsa yang pintar berbicara  dan bercanda. Mereka selalu serius dan lugu. Karena itulah bagi bangsa singa, Raku yang pintar bicara,  suka bercanda serta berpengetahuan luas, sangat menarik.

Suatu hari, Raku diundang ke istana Ratu singa. Di sana, Raku bercerita banyak tentang pengalamannya dan menghibur semua yang ada di istana dengan cerita-cerita lucunya. Ratu singa sangat terhibur dan meminta Raku untuk tinggal. Raku setuju. “Lagipula akhir-akhir ini banyak terjadi bencana alam di banyak negeri yang kukunjungi, yang membuat perjalananku jadi menakutkan. Dan kurasa aku sudah cukup pintar,“ kata Raku. Di negeri Kora, Raku menjadi penulis dan dia hidup tanpa kekurangan dengan menjual buku-bukunya.

Beberapa bulan kemudian, ada bencana angin puting beliung tak jauh dari negeri Kora. Singa-singa mengunjungi lokasi terjadinya bencana setelah angin puting beliung menghilang, bermaksud menolong dan melihat kerusakan. Untungnya tidak ada korban, tetapi singa-singa itu menemukan benda berbentuk kotak yang aneh. “Kita harus melaporkan ini pada paduka Ratu!” kata seekor singa. Ratu singa melihat benda itu. “Aneh sekali. Jika aku mengangkat tangan, singa di dalam kotak ini juga ikut mengangkat tangan,” kata sang Ratu. Saat itu seekor singa prajurit yang membawa senjata mencoba mendekati kotak aneh. Dia terkejut karena singa di kotak itu juga membawa senjata. Seisi istana jadi khawatir.

Ratu singa lalu memanggil Raku ke istana. “Raku, kaulah yang paling pintar di antara kami semua. Bagaimana kita mengetahui kalau penghuni dalam kotak itu bukan ancaman?” tanya Ratu singa. “Mudah saja yang mulia, aku akan bicara padanya,” kata Raku yang bangga pada kemampuannya. Raku berbicara kepada rakun yang mirip dirinya di kotak itu, tapi sia-sia, rakun itu hanya mengikuti apa pun yang dibicarakan Raku dan semua gerakannya! “Menurutku, kita harus mengasingkan benda kotak ini ke tempat yang aman. Ini untuk mencegah adanya serangan dari mereka ke negeri Kora,” kata Raku. Ratu singa meminta Raku dan para prajurit singa menyembunyikan benda kotak itu di gua pantai. Di sana jika air pasang gua akan tertutup air. Penghuni kotak itu tidak akan bisa keluar dan mengancam mereka.

Ketika para singa dan Raku membawa benda kotak itu menuju gua, mereka disapa oleh seekor ikan lumba-lumba bernama Lumba. “Wah, mau kalian bawa ke mana cermin itu?” tanya Lumba. “Cermin? Jadi benda kotak ini namanya cermin! Apakah penghuni dalam cermin yang mirip kita berbahaya?” tanya Raku. “Cermin tidak berpenghuni. Yang kalian lihat itu adalah bayangan kalian sendiri!” jelas Lumba. Mendengar penjelasan Lumba, Raku sangat malu. Ternyata, selama ini dia belum cukup pintar dan masih kurang pengetahuannya!

Raku meminta maaf pada paduka Ratu dan singa-singa lain. Tapi Ratu singa dan singa-singa lain tidak marah pada Raku. “Namun tetap saja, aku ingin berkelana lagi untuk menambah pengetahuan yang kumiliki, agar bisa berguna bagi kota Kora,” kata Raku. “Baiklah kalau begitu, ingatlah Raku, kau selalu punya tempat tinggal di kota ini,” kata Ratu dan singa-singa yang baik hati. “Terima kasih!” ucap Raku sangat bahagia.

 

 

 

 

 

Cerita: Seruni    Ilustrasi: Agung

You may also like
Latest Posts from Majalahjustforkids.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *