Hari Jum’at bisa dikatakan adalah hari paling santai di sekolah, tapi Ani tampak gelisah. “Aku harus cepat-cepat,” gumam Ani sambil melihat jam di dinding kamarnya. Pukul setengah enam pagi, Ani berjalan pelan-pelan melewati pintu kamar Mama. Sejenak ia menahan napas, takut ketahuan. “Oh iya, Mama dinas ke luar kota. Aku lupa!” Ani menepuk keningnya sambil tertawa. “Halangan terakhir adalah Bi Idun,” bisik Ani.

“Non Ani, tumben bangun pagi,” sapa Bi Idun ketika Ani berjalan ke luar rumah. “Iya, Bi, aku mau jalan pagi dulu,” jawab Ani. “Wah, hebat. Rajin sekali sekarang, Non Ani,” puji Bi Idun. Setelah menutup pintu pagar, Ani pun berlari ke tujuannya. Ia sampai di sebuah rumah kosong dan masuk ke dalam. “Guk-guk!” suara gonggongan anjing kecil  menyambutnya. “Cokelat!” seru Ani.

Memelihara anjing diam-diam, inilah rahasia Ani. Mama tidak mengijinkannya memelihara anjing di rumah, jadi Ani terpaksa memeliharanya di rumah kosong dengan bantuan Pak Satpam. Ketika Pak Satpam datang, wajahnya nampak murung. “Neng Ani, Bapak punya kabar buruk. Rumah kosong ini besok akan dipugar, jadi kita tidak bisa memelihara Cokelat lagi,” katanya. Wajah Ani pucat. Dia tidak ingin berpisah dengan Cokelat.

Seharian di sekolah Ani bersedih. Bahkan pelajaran kesukaannya, seni budaya, tidak bisa membuatnya bersemangat. Hari ini kelas Ani diminta menggambar anjing dan Ani menjadi sedih dan ingin menangis. Untung dia bisa menahan tangisnya. Tapi, seseorang memperhatikannya. “Ani, kenapa kau terlihat  sedih sekali?” tanya Melina ketika pulang sekolah. Melina selalu datang dan pulang dengan sepeda ke sekolah. Ani pun bercerita tentang permasalahannya.

“Aku harus berpisah dengan anjing kecilku karena rumah tempatku memeliharanya akan dipugar,” ujar Ani. “Aku akan membantumu,” ucap Melina. Ani pun pulang diantar Melina. “Ternyata rumah kita dekat, ya!” seru Melina senang.

Ani dan Melina membawa Cokelat ke rumah Melina. Cokelat bisa tinggal di sana. “Terima kasih, Melina. Kau baik sekali!” ujar Ani memeluk Melina. “Aku senang bisa membantu. Tapi, Ani, kau harus berusaha agar Cokelat bisa tinggal di rumahmu. Dulu aku juga tidak boleh memelihara binatang, karena Mama dan Papa tidak yakin aku bisa mengurusnya. Aku harus belajar mandiri, tidak malas, dan bertanggung jawab,” cerita Melina. “Kau benar, Melina. Selama ini Bi Idun selalu menyiapkan pakaianku. Aku juga minta bantuan Pak Satpam untuk memelihara Cokelat,” ucap Ani menunduk malu. Agar bisa memelihara Cokelat, Ani mengikuti nasihat Melina. Ia menyiapkan keperluannya sendiri, membuat Mama senang. Mama akhirnya mengijinkan Ani memelihara Cokelat di rumah. Kini, Ani tidak punya rahasia lagi.

 

 

 

 

 

Cerita: Seruni     Ilustrasi: JFK

You may also like
Latest Posts from Majalahjustforkids.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *