Ada sebuah bedug besar yang indah bernama Akbar di Kerajaan Dahab. Tapi, Akbar tidak bisa berbunyi. Karena tidak ada satu pun yang tahu tentang Akbar, ketakutan melanda rakyat Dahab.

Untuk menenangkan rakyatnya,  Raja Muhit mencari tahu tentang Akbar.  Dia membaca naskah-naskah kuno yang bisa ditemukannya di kerajaan. Tapi, karena kelelahan, Raja yang sudah tua jatuh sakit.

“Ayah, jangan bekerja terlalu keras. Ingat, kita memasuki Bulan Suci dan harus berpuasa. Ayah harus mempersiapkan diri,” kata Puteri Warda, anak Raja Muhit. “Terima kasih puteriku tersayang,” kata Raja. Puteri Warda  menggantikan ayahnya menyelidiki Akbar. Karena tak ada seorang pun di kerajaan yang tahu mengenai Akbar, Puteri Warda  harus mengembara.

Bulan puasa sudah dimulai.  “Aku harus menjaga pikiran dan perbuatan,” kata Puteri Warda. Setiap hari, dalam pengembaraannya, sang Puteri dengan taatnya berpuasa dan berdoa pada Yang Kuasa agar diberikan kekuatan.

Suatu hari, Puteri Warda sampai di sebuah rumah besar dan indah. Si pemilik rumah menyambutnya. Dia gadis cantik seperti bidadari. “Selamat datang Puteri Warda, kau pasti lelah, beristirahatlah di rumahku. Namaku Nar,” katanya. “Terima kasih Nar, kau bahkan tahu namaku,” kata Puteri Warda.

Keesokan harinya, ketika Puteri Warda hendak melanjutkan pengembaraannya, Nar mencegahnya dan berkata, “Untuk apa melanjutkan pekerjaan yang sia-sia? Ayahmu sekarang mengira kau kabur dari kerajaan dan dia marah! Jika kau pulang, hanya penjara yang menantimu! Bagaimana kalau kau tinggal di sini bersamaku?  Bedug bernama Akbar itu bisa membuat kita bahagia. Bawalah bedug itu ke sini!” seru Nar.

Kini, Puteri Warda tahu siapa Nar sebenarnya.  “Jin jahat! Aku tak akan terbujuk olehmu!” seru Puteri Warda. “Baik, pergilah ke kerajaanmu, karena bencana sudah menanti di sana. Hanya tabuhan bedug Akbar yang bisa menghentikannya. Kau harus menabuh bedug itu, tapi semua orang akan melupakanmu. Inilah pembalasanku!” kata jin Nar sambil menghilang.

Wabah hama menyerang Kerajaan Dahab ketika Puteri Warda sampai di sana. Saat itu, sore terakhir di bulan puasa. Rakyat Dahab menangis sedih. “Aku akan menyelamatkan kalian!” seru Puteri Warda.  “Aku pasrahkan semua pada Yang Kuasa,”  kata Puteri Warda sambil menabuh bedug Akbar. DUG…DUG..DUG! Saat itu juga, hama menghilang dari tanaman pangan Kerajaan Dahab. Rakyat bersorak gembira. Raja Muhit menangis terharu memeluk Puteri Warda. “Kukira aku akan dilupakan,” kata Puteri Warda lega. “Tidak Puteri-ku, itu adalah ujian terakhir, dan kau menang!” kata sang Raja. Mereka berdua lalu menabuh bedug Akbar bersama-sama, bergembira, dan bersyukur pada Yang Kuasa, merayakan datangnya Hari Kemenangan.

 

 

Cerita: Seruni      Ilustrasi: JFK

You may also like
Latest Posts from Majalahjustforkids.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *