Mela duduk di kelas 3 SD dan baru saja pindah ke sekolah baru. “Aku ingin cepat punya teman baru,” gumam Mela. Tak lama kemudian, harapan Mela terkabul, dia punya 2 teman baru, Gina dan Ani. Mereka suka membaca seperti Mela. Tapi, ada satu hal yang berbeda, Mela sering sakit, sedangkan Gina dan Ani selalu sehat dan kuat.

Tak terasa, bulan puasa hampir tiba. Di sekolah, anak-anak sudah bersemangat menjalankan ibadah puasa. Begitu juga dengan Gina dan Ani. “Tahun ini, aku mau coba puasa penuh,” ujar Ani. “Aku juga! Bagaimana denganmu, Mela?” tanya Gina. “Iya, aku juga mau mencoba puasa penuh,” jawab Mela. “Asyik! Kalau begitu, ini janji kita sebagai teman,” Ani dan Gina serentak berkata.

Pulang sekolah, Mela terlihat murung. Tahun lalu, sewaktu berpuasa, dia sakit, sehingga tak bisa puasa penuh. “Harusnya aku jujur pada Gina dan Ani. Tapi, aku takut mereka jadi tak suka padaku. Aku tak ingin kehilangan teman-teman baruku,” sesal Mela. Dia hanya berharap tidak jatuh sakit lagi.

Akhirnya, bulan puasa tiba. Di hari pertama, Mela, Gina, dan Ani bisa berpuasa penuh tanpa halangan. Ketika hari ketiga tiba, Mela terbangun dari tidurnya. Ia merasa badannya panas dan kepalanya pusing. “Oh! Ini karena kemarin aku berjalan pulang ke rumah tanpa payung waktu gerimis,” ucap Mela panik. Ia pun berusaha untuk tidur lagi, tapi tidak bisa.

Tak lama kemudian, Mama mengetuk pintu kamarnya. “Mela, waktunya sahur,” panggil Mama. “Iya, Ma!” seru Mela. “Aku harus menyembunyikan keadaanku dari Papa dan Mama. Kalau tidak, mereka pasti menyuruhku membatalkan puasa,” bisik Mela. “Mela, kamu tak apa-apa? Kok, kelihatan lemas?” tanya Papa. “Kalau sakit, jangan dipaksa puasa, ya, Nak,” nasihat Mama. “Iya, Pa, Ma. Mela nggak sakit, cuma ngantuk saja,” sergah Mela.

Di sekolah, Mela disambut oleh Gina dan Ani. “Hari ini kita harus semangat lagi. Ayo, puasa penuh!” seru mereka. “Iya,” sahut Mela. Tapi, siang hari ada pelajaran olahraga. Mela berlari keliling lapangan satu putaran dan tiba-tiba merasa sekelilingnya gelap. Kemudian, ia pingsan dan tak ingat apa-apa lagi.

Ketika bangun, Mela menyadari dia ada di ruang kesehatan sekolah. “Mela!” seru Mama, Ani, dan Gina yang segera menghampiri Mela. Mela menangis dan berkata, “Maaf, Mama, Gina, Ani. Sebetulnya aku sakit, tapi tidak jujur. Aku tak ingin melanggar janji puasa bersama teman-teman baruku,” ucap Mela. Gina dan Ani memeluk Mela.

“Kami sedih kalau kau memaksa puasa, padahal sedang sakit. Kami tak akan kecewa. Kita kan teman,” tandas Gina dan Ani. Mama mengelus rambut Mela. “Mela, niatmu berpuasa sangat bagus. Tapi, kau harus bijaksana. Niat berpuasa seharusnya untuk Tuhan, bukan untuk orang lain. Karena kamu sering sakit, kamu bisa berdoa pada Tuhan agar diberi kekuatan dan perlindungan dalam berpuasa,” nasihat Mama. Mela pun mengangguk mengiyakan.

 

 

 

Cerita: Seruni            Ilustrasi: JFK

 

 

You may also like
Latest Posts from Majalahjustforkids.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *