An, Lud, dan Dey, tiga bersaudara yang tinggal di Kota Zo. Di kota ini, tidak boleh ada tumbuhan dan hewan hidup. Sesuai dengan peraturan, semuanya diganti oleh robot hewan dan tumbuhan plastik.

Walikota Zo, seorang pemuda kejam bernama Zain. Zain terkenal keras dalam menjalankan peraturan. Dia bahkan membentuk pasukan khusus untuk menangkap warga kota yang berani melanggar.

Suatu hari, An, Lud, dan Dey berjalan melewati pertokoan sepi yang sudah lama ditinggalkan. Tiba-tiba, seseorang berlari kencang melewati ketiga saudara itu. Lud melihat ke bawah kakinya dan menemukan sesuatu. “Ini..helai daun? Asalnya dari kantung baju orang yang lari tadi,” ujar Lud mengambil helai daun itu. “Ini bukan daun tiruan!” bisiknya terkejut. “Kita harus menyembunyikan daun ini,” kata An.

Akhirnya, ketiga bersaudara itu sampai di rumah kaca. “Lihat! Anak berambut pirang itu datang lagi,” kata An. Selama tiga bulan terakhir, An, Lud, dan Dey selalu bertemu dengan seorang anak laki-laki berambut pirang di rumah kaca yang penuh dengan tumbuhan tiruan. Dia duduk di kursi roda dan selalu tampak murung.

“Siapa namamu? Aku An, dan ini kedua adikku, Lud dan Dey. Apakah yang membuatmu sangat sedih?” tanya An. “Namaku Mel. Aku ingin sekali melihat pohon Natal sungguhan,” Mel mulai menitikkan air mata. Tepat pada saat itu, datanglah seorang perawat yang akan membawa Mel kembali ke rumah sakit. “Apakah kalian akan datang lagi menemuiku di sini? Aku ingin jadi sahabat kalian,” tanya Mel. “Tentu saja kami akan datang. Kau sudah menjadi sahabat kami,” seru An, Lud, dan Dey.

Sesampainya di rumah, An, Lud, dan Dey berbincang serius. “Kita harus menolong Mel!” kata An. “Tapi, kita bisa ditangkap!” bisik Lud ketakutan. “Apakah kita akan membiarkan Mel menderita terus?” tanya Dey. “Tentu saja tidak! Kita sembuhkan Mel. Ingat orang yang berlari dan meninggalkan helai daun? Aku yakin dia menjual tanaman hidup diam-diam. Kita harus menemuinya,” ujar An.

An, Lud, dan Dey pergi ke pertokoan sepi lagi dan menemukan orang misterius yang meninggalkan helai daun. An menceritakan kisah Mel.

“Panggil saja aku Bibi,” kata si orang misterius penjual tanaman yang ternyata seorang wanita cantik berwajah ramah. “Ambillah pohon cemara kecil ini. Cemara ini akan menjadi pohon Natal yang sangat diinginkan Mel. Kalian tidak perlu membayarnya,” ucap Bibi.

Seminggu kemudian, Mel sudah menunggu An, Lud, dan Dey di rumah kaca. “Kalian benar-benar datang untukku, aku senang sekali!” seru Mel bahagia. “Kami punya hadiah untukmu,” kata An menyerahkan cemara pemberian Bibi kepada Mel.

Mel yang terkejut, menjatuhkan cemara itu ke lantai. Cemara kecil yang menyentuh lantai itu tiba-tiba membesar dan menjadi pohon Natal yang sangat indah!

“Oh! Pohon Natal sungguhan!” Mel sangat bahagia dan menangis terharu. “BERHENTI!! Apa yang kalian lakukan terhadap adikku!?” tiba-tiba, Walikota Zain masuk ke dalam rumah kaca dan berteriak marah. “Pak Walikota, kami bersedia ditangkap, tapi tolong, biarkan Mel memiliki pohon Natal sungguhan. Dengan begitu, dia bisa bahagia dan sembuh dari sakitnya,” kata An, Lud, dan Dey.

“Sebelum menjadi walikota, aku sangat miskin. Aku harus bekerja keras demi menghidupi hidupku dan adikku. Saat bekerja, aku bertemu dengan seorang pengusaha pemilik pabrik pembuat robot dan plastik yang kaya. Dia berbaik hati membiayaiku belajar. Ketika akhirnya aku lulus, dia juga membantuku menjadi walikota. Tak lama kemudian, si pengusaha meninggal. Aku mengambil alih pabrik robot dan plastik miliknya,” cerita Pak Walikota.

“Anda melarang adanya hewan dan tumbuhan sungguhan di kota ini agar semua orang kota bisa membeli produk perusahaan, yaitu robot hewan dan tumbuhan plastik! Dengan begitu, Anda semakin kaya dan berkuasa!” kata An. “Aku sangat serakah dan haus kekuasaan. Tetapi, setelah melihat Mel, aku sangat menyesali perbuatanku! Ternyata, kekuasaan dan kekayaan bukan segala-galanya,” tangis Zain.

“Maafkan Kakak, Mel. Kakak tidak akan menjadi orang yang jahat lagi dan akan membawa hewan dan tumbuhan sungguhan kembali ke kota ini,” seru Zain. “Aku menyayangimu, Kak. Marilah kita melihat pohon cemara Natal bersama-sama,” kata Mel.

“Aku ingat sekarang!” seru Dey. “Ingat apa?” tanya An. “Wajah Bibi yang memberikan kita pohon cemara ini! Wajahnya sama persis seperti lukisan malaikat yang pernah aku lihat di Gereja!” seru Dey dengan mata membelalak kagum. “Dia pasti malaikat!” kata Lud tersenyum lebar. Natal telah kembali ke Kota Zo!

 

 

 

 

 

 

Cerita: Seruni    Ilustrasi: JFK

 

You may also like
Latest Posts from Majalahjustforkids.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *