Keesokan paginya di sekolah, Bobby nampak sedang berdiri di depan pintu kelas. Matanya memandang ke arah lapangan dengan penuh serius.

“Hei, kamu sedang melihat apa, sih? Serius banget!” tanya Aini sambil menepuk pundak Bobby. “Aku sedang melihat anak baru itu, si Nesa. Dia dari tadi menatap sebuah cermin antik. Jangan-jangan itu cermin yang dicari oleh Nenek misterius di pohon angker,” jawab Bobby dengan raut wajah penuh curiga. “Kalau gitu, langsung kita tanya aja,” ajak Aini sembari berjalan menuju ke arah lapangan bersama Bobby.

Dari kejauhan, Nesa sedang duduk di bangku panjang yang berada di tepi lapangan tak jauh dari pohon angker. Ia sedang berkaca dengan sebuah cermin antik. Persis di pinggiran cermin ada hiasan berwarna keemasan. Di bagian bawahnya, ada gagang yang terbuat dari logam berwarna cokelat.

“Nesa, kamu sedang apa?” panggil Aini yang berada tepat di belakang Nesa. Nesa langsung terkejut bukan main. Ia lalu buru-buru memasukkan cermin tersebut ke dalam tasnya.

“Ahhh.. Nggak, kok. Aku nggak lagi ngapa-ngapain,” jawab Nesa terbata-bata. “Barang apa tadi yang kamu sembunyiin?” Aini kembali bertanya. “Bukan apa-apa, kok,” jawab Nesa gugup.

Kriiiiing… Kriiiiing…

Bel tanda masuk berbunyi. “Ayo, kita masuk ke kelas saja,” ajak Nesa menghindar sembari berjalan menuju kelas.

“Sepertinya, ada sesuatu yang disembunyikan Nesa,” bisik Bobby ke telinga Aini. Aini menatap Bobby lalu mengangguk tanda setuju.

Selepas jam sekolah berakhir, Aini langsung menghampiri Nesa. “Nesa, yuk kita selidiki lagi pohon angker itu!” ajak Aini. “Ehmm.. Maaf, ya. Aku nggak bisa. Aku ada urusan keluarga,” kata Nesa sambil beranjak pergi.

“Tuh, kan, bener! Ada sesuatu yang nggak beres dengan anak baru itu,” kata Bobby kepada Aini. “Iya,” timpal Aini singkat. “Bagaimana kalau kita selidiki di internet, siapa tahu kita bisa dapat jawaban hubungan antara pohon angker di sekolah kita, Nenek misterius, dan cermin antik itu,” ajak Bobby. “Wah, benar juga! Ayo, kita ke perpustakaan,” timpal Aini.

Bobby dan Aini pun berjalan menuju perpustakaan yang ada di pojokan. Di ruang perpustakaan, ada beberapa komputer yang bisa digunakan oleh semua siswa SD Cemara. Sesampainya di perpustakaan, Bobby langsung menggunakan salah satu komputer. Aini duduk persis di samping Bobby.

“Nah, ini dia! Ada cerita di sebuah blog tentang sejarah SD Cemara zaman dulu,” ujar Bobby setengah berteriak. “Huss.. Jangan berisik di perpustakaan!” kata Aini.

“Oh iya, maaf. Sebentar aku bacakan, ya,” ujar Bobby pelan. “SD Cemara pertama kali didirikan pada tahun 1975. Tanah yang dijadikan bangunan SD Cemara dulunya adalah sebuah pemakaman keluarga. Di tengah-tengahnya ada sebuah pohon mangga besar. Semua jenazah dipindahkan ke tempat baru. Sebenarnya pohon mangga itu akan ditebang, tapi beberapa kali berusaha ditebang, tak pernah berhasil. Konon, Nenek sang pemilik tanah sekaligus pemilik awal SD Cemara tak menyetujui pemakaman itu digusur. Bahkan Nenek itu berdiri di bawah pohon mangga untuk mencegah penggusuran makam. Ia tak setuju makam digusur karena di situ ada makam suaminya. Sambil memegang sebuah cermin antik, Nenek itu selalu duduk termenung di bawah pohon karena sedih makam suaminya ikut digusur. Hingga suatu hari, pemilik menjual SD Cemara ke orang lain dan pindah ke Australia bersama Neneknya. Nama pemiliknya adalah Budiarto…,” Bobby berhenti sejenak saat membaca blog tersebut.

“Budiarto siapa?” tanya Aini penasaran. Bobby lalu menatap Aini dan berkata; “Budiarto Subagja.” Aini kaget bukan kepalang. Ia lalu teringat saat hari pertama Nesa masuk sekolah. “Nesa waktu pertama kali masuk, menyebut nama lengkapnya, Vannesa Subagja,” kata Aini. Kedua sahabat itu pun beradu pandang dan makin bingung bercampur takut. (BERSAMBUNG)   

 

Cerita : JFK     Ilustrasi: JFK

You may also like
Latest Posts from

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *