Tepat pukul 5 sore, Bobby, Nesa, dan Aini sudah berkumpul di depan gerbang sekolah. “Ayo kita masuk!” ajak Aini. Mereka pun berjalan memasuki halaman sekolah. “Wah, tumben gerbangnya belum dikunci sama Pak Eko,” ucap Bobby. “Iya, jadi kita nggak perlu memanjat pagar, deh,” timpal Aini.

Pohon mangga berukuran besar tepat berada di depan Bobby, Nesa, dan Aini. Ketiganya menatap ke atas pohon dengan berbarengan. Mereka masih saja takjub dengan ukurannya yang besar dan rindang. “Pantas, ya, dibilang angker! Pohon ini kelihatan tua sekali,” ucap Nesa.

“Bagaimana kalau kita duduk di bangku itu sambil menunggu adanya penampakan?” ajak Bobby sembari menunjuk bangku panjang tak jauh dari pohon berdiri. Aini mengangguk setuju. Ketiganya lantas duduk berdampingan menghadap pohong angker.

Setengah jam berlalu, hembusan angin menerpa pohon angker. Langit pun mulai gelap seiring matahari yang kian tenggelam. “Aini, aku mau pipis,” ujar Nesa. “Aku juga,” kata Aini. “Ayo, kita ke toilet bareng,” ajak Nesa.

“Lalu aku ditinggal sendirian, nih?” tanya Bobby kebingungan. “Iyalah, masa kamu ikut ke toilet bareng kita! Kamu tunggu di sini saja,” jawab Aini sambil pergi ke toilet bersama Nesa.

Waktu menunjukkan pukul 17.45.

Kereseeek.. Kereseeek.. Kereseeek..

Terdengar suara dedaunan di pohon angker saat tertiup angin. “Aduh, Aini dan Nesa lama sekali ke toiletnya, sih!” gumam Bobby sambil celingukan.

Tiba-tiba, samar-samar terlihat seorang Nenek berdiri di dekat pohon. Bobby mengucek matanya, berharap apa yang dilihatnya menjadi lebih jelas. “Itu dia Nenek yang diceritakan Pak Eko,” bisik Bobby.

Bobby pun memberanikan diri untuk menghampiri si Nenek. “Nenek, kenapa? Ada yang bisa aku bantu?” tanya Bobby.

Nenek yang sedari tadi mencari-cari sesuatu itu lantas menengok ke arah Bobby. Wajahnya dihiasi kerutan. Tiap helai rambut Nenek sudah berubah warna menjadi putih. Tubuhnya pun sedikit membungkuk. Tapi, penampilan nenek sama sekali tidak menyeramkan. Beda dengan bayangan Bobby sebelumnya saat diceritakan Pak Eko.

“Nenek sedang mencari cermin Nenek yang hilang,” jawab Nenek dengan suara yang sedikit serak. “Hah, cermin?” timpal Bobby tak percaya.

Dari kejauhan, Aini dan Nesa baru selesai buang air kecil di toilet sekolah. “Itu si Bobby, kok, ngomong sendiri di dekat pohon?” tanya Aini penasaran. “Iya, Bobby ngomong sama siapa, ya?!” ucap Nesa.

Aini dan Nesa lalu berjalan mendekati Bobby.

“Bobby, kamu dari tadi ngobrol sama siapa?” tanya Nesa. “Hah, aku ngobrol sama nenek ini. Cerminnya hilang. Aku sedang membantu mencarinya,” jawab Bobby menengok ke arah Nesa.

“Nenek? Dari tadi, kita berdua nggak melihat ada nenek-nenek di sini,” kata Aini. “Ada dari tadi di sini,” timpal Bobby sambil balik menengok ke arah nenek tadi berdiri.

Alangkah kagetnya Bobby, saat melihat tak ada siapa-siapa di dekat pohon. Padahal, baru beberapa detik yang lalu ia mengobrol dengan si Nenek itu. “Apa?! Tadi Nenek itu ada di sini,” teriak Bobby yang mulai merasa takut.

Tanpa berpikir panjang, ketiga sahabat itu pun langsung memutuskan untuk pulang. Mereka berjalan kaki agak cepat, karena hari mulai berganti malam. (BERSAMBUNG)

 

Cerita: JFK    Ilustrasi: JFK

You may also like
Latest Posts from Majalahjustforkids.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *