“Anak-anak, hari ini kita kedatangan teman baru,” kata Ibu Lutfiah di depan kelas. Di sampingnya, berdiri seorang anak perempuan cantik berambut lurus sebahu. “Halo, teman-teman,” sapa anak itu dengan ramah.

“Ayo, kamu perkenalkan diri,” ujar Ibu Lutfiah, wali kelas 4A SD Cemara, kepada anak perempuan berkulit putih dan hidung mancung itu.

“Hai, perkenalkan namaku Vannesa Subagja. Panggil aku, Nesa saja,” ucap siswi baru tersebut. “Vannesa baru saja pindah ke kota ini, dia sebelumnya tinggal di Australia. Nah, sekarang Vannesa akan bergabung ke kelas kita,” jelas Bu Lutfiah.

“Ok, kamu duduk di sebelah Aini, ya,” kata Bu Lutfiah sambil menunjuk kursi kosong di barisan paling depan tepat di sebelah anak perempuan manis berkerudung.

Vannesa pun berjalan menghampiri kursi kosong tersebut. Ia lalu menjulurkan tangannya kepada Aini untuk mengajak berkenalan. “Halo, aku Nesa,” sapa Nesa sambil tersenyum. Aini pun menyambut jabat tangan Nesa dan membalas senyumnya.

“Mari kita mulai pelajaran kita hari ini,” ujar Bu Lutfiah.

Tepat jam 10, bel istirahat berbunyi. “Ayo, kita jajan ke kantin,” ajak Aini kepada Nesa. “Ayo!” timpal Nesa bersemangat.

Keduanya lantas berjalan melewati halaman sekolah. Tak sengaja, Nesa memerhatikan sebuah pohon besar dan rindang yang berdiri tepat di depan bangunan sekolah. “Hei, jangan lama-lama melihat pohon mangga itu,” ujar Aini sembari menyolek bahu Nesa.

“Ehmm.. Pohonnya besar, ya,” timpal Nesa. “Iya, tapi kamu jangan lama-lama melihatnya, kata orang, pohon ini angker,” ucap Aini. “Angker?” tanya balik Nesa. “Iya, angker artinya menyeramkan. Huh.. Dasar kamu kelamaan tinggal di Australia, sih! Hahaha..,” tutur Aini yang disambut tawa kedua teman sebangku itu.

Sesampainya di kantin, Nesa dan Aini membeli cemilan dan es jeruk. Keduanya asyik mengobrol di bangku panjang depan kantin.

Tiba-tiba, seorang anak laki-laki bertubuh gemuk berlari menuju kantin. Wajahnya berkeringat. “Hei, Aini. Apa kamu sudah dengar kabar terbaru tentang pohon angker itu?” tanya anak laki-laki itu dengan nafas terengah-engah.

“Kabar apa?” Aini balik bertanya dengan raut penasaran. “Iya, katanya malam Jumat kemarin ada penampakan seorang nenek misterius berdiri di dekat pohon, lalu menghilang entah kemana,” cerita anak laki-laki tersebut. “Ahhh, masa?!” ucap Aini yang wajahnya berubah menjadi panik.

“Oh iya, kenalkan teman kelasku yang baru,” ujar Aini sambil menunjuk ke arah Nesa. “Hai, namaku Bobby. Aku dari kelas 4B,” ucap anak laki gemuk tersebut. “Hai juga, namaku Nesa,” sambil berjabat tangan dengan Bobby.

“Ayo, lanjut ceritakan tentang nenek-nenek itu,” lirih Aini makin penasaran. “Iya, kata Pak Eko, si penjaga sekolah yang melihat penampakan nenek itu,” lanjut Bobby.

Nesa yang sedang menyimak pembicaraan Aini dan Bobby, kebingungan. “Di sini masih percaya dengan hantu, ya?” tanya Nesa polos. “Ehmm.. Kita juga percaya nggak percaya, sih. Kita berdua juga nggak pernah melihat penampakannya,” jawab Aini.

“Memangnya di Australia nggak ada hantu, ya?” Aini balik bertanya. “Orang-orang Australia nggak terlalu percaya dengan hal-hal begitu, sih,” jawab Nesa.

“Bagaimana kalau nanti sore jelang Maghrib, kita ke pohon angker itu. Kita tunjukkin ke Nesa, apakah hantu itu beneran ada atau nggak?” ajak Bobby. “Bagaimana, Nesa? Kamu mau?” tanya Aini.

Nesa pun mengangguk pelan meski agak ragu dan sedikit takut. (BERSAMBUNG)

 

Cerita: JFK     Ilustrasi: JFK

You may also like
Latest Posts from Majalahjustforkids.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *