Pipi tinggal dan tumbuh di hutan yang asri dan sejuk. Di hutan itu, tumbuh pohon cemara, pinus, dan fir yang semuanya sangat indah.

Tapi sayang sekali, hutan dan lingkungan sekeliling Pipi tidak membuatnya bahagia. “Bagaimana aku bisa bahagia jika hanya aku sendiri pohon yang tumbuh kerdil, tidak tinggi seperti cemara-cemara lain?” keluh Pipi.

Ya, umur Pipi seharusnya sudah menjadikan dia tinggi dan cantik seperti pohon-pohon cemara lain. Tapi sungguh sial, dia hanya bisa tumbuh seperempat dari cemara tinggi lainnya. Dan tidak ada yang bisa menjelaskan, kenapa Pipi bisa seperti itu.

Pipi hanya bisa menyesali nasib buruknya, dianggap tidak ada oleh pohon-pohon lain karena keadaannya yang tidak sempurna. Pipi hanya bisa berteman dengan binatang-binatang.

Suatu hari, Pipi yang murung, disapa oleh Gu, burung gagak sahabatnya. “Mengapa terus menerus merenungi nasibmu? Berbahagialah! Sebentar lagi Hari Natal tiba!” kata Gu ceria. Mendengar kata Natal, Pipi bertambah murung.

“Natal hanya untuk cemara-cemara tinggi saja,” kata Pipi. “Jangan menyerah Pipi, yakinlah kebahagiaan pasti datang,” hibur Gu.

Menjelang Natal, cemara-cemara tinggi pasti akan membanggakan diri mereka masing-masing, yakin pasti terpilih menjadi pohon Natal yang akan dibawa oleh manusia dan dihias dengan cantik. Suara para cemara yang saling berlomba membanggakan diri sangat menyebalkan. Tidak mungkin mereka mengerti perasaan pohon kerdil seperti Pipi! Perasaan sedih tidak bisa menjadi tinggi dan menjadi pohon Natal untuk manusia!

Beberapa hari menjelang Natal, Pipi terbangun dari tidurnya karena mendengar suara berisik yang luar biasa keras. Rupanya, pohon-pohon cemara, pohon-pohon fir, dan pohon-pohon pinus bertengkar! Ketiga pepohonan itu saling membanggakan diri.

“Kurasa, sudah saatnya pohon cemara berhenti dijadikan pohon Natal, kita pohon-pohon fir tidak kalah cantik dengan mereka!” kata satu pohon fir. “Huh, kita pohon pinus jauh lebih terkenal dibanding kalian pohon fir!” kata pohon pinus tidak mau kalah. “Jangan konyol! Seluruh dunia tahu kalau pohon cemara adalah pohon Natal!” pohon cemara berkata dengan angkuh.

“Gawat Pipi…rupanya tahun ini pohon fir dan pohon pinus sudah hilang sabar. Jika pohon cemara jadi pohon Natal lagi, pohon pinus dan pohon fir mengancam akan melompat-lompat marah. Ini akan menimbulkan tanah retak dan berbahaya bagi kita dan manusia!” kata Gu panik.

Tapi, apa yang bisa Pipi lakukan? Tiba-tiba, pertengkaran pohon cemara, pinus, dan fir berhenti. Rupanya, rombongan manusia datang. Mereka mencari pohon Natal. Dan yang datang bukan rombongan biasa. Ini rombongan Ratu, manusia yang sangat dihormati, karena memimpin serta membuat sejahtera negara tempat tinggal banyak manusia.

Pohon-pohon cemara, pinus, dan fir bangga dijadikan pohon Natal oleh manusia, tapi impian mereka adalah dijadikan pohon Natal di istana, tempat yang paling megah dan membanggakan di dunia manusia.

“Lihat pohon ini! Bagaimana menurut kalian?” kata sang Ratu menunjuk Pipi. “Yang Mulia, pohon ini pohon cemara, tapi dia tidak bisa tumbuh tinggi,” jelas penasihat istana. “Unik sekali! Sejujurnya, aku mulai bosan dengan pohon-pohon tinggi… pohon cemara kerdil ini sangat menarik! Aku akan menjadikan pohon ini pohon Natal istana,” kata sang Ratu.

Pohon-pohon cemara tinggi, pohon-pohon fir, dan pohon-pohon pinus terkejut. Pipi si pohon kerdil yang mereka remehkan, dipilih oleh Ratu, manusia terhormat, dan akan ditempatkan di istana!

Hal ini membuat mereka semua sadar akan kesombongan dan keangkuhan mereka. Pohon-pohon pinus, fir, dan cemara saling meminta maaf dan sekarang mereka saling memuji satu sama lain.  Kebahagiaan dan harmoni hadir di hutan dan semua bersyukur.

Hari Natal tiba dan Gu mengunjungi Pipi di istana. “Selamat Natal, Pipi! Kau cantik sekali!” puji Gu mengagumi Pipi yang sudah dihias dengan hiasan Natal. “Selamat Natal, Gu, terima kasih. Kau benar, jika kita tidak menyerah, kebahagiaan akan datang,” kata Pipi.

“Kebahagiaan juga datang di hutan. Pohon cemara, Pinus, dan fir mendapat kesempatan menjadi pohon Natal tahun ini, karena mereka tidak lagi sombong dan angkuh. Mereka menitipkan permintaan maaf dan salam Natal padamu, Pipi!” kata Gu. “Aku tidak mendendam pada mereka…sampaikan juga salamku ya,” kata Pipi bahagia.

 

 

 

 

Cerita: Seruni     Ilustrasi: Agung

 

You may also like
Latest Posts from Majalahjustforkids.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *