“Hai, Pingi!” teriak seekor burung camar saat terbang melintasi bongkahan es di sekitar Kutub Selatan. Pingi, si burung pinguin mencari-cari asal suara yang memanggilnya itu.

Pingi baru menyadari suara yang memanggilnya itu berada di langit. Ternyata berasal dari sahabatnya, Amar, si burung camar. “Hei, Amar, kau dari mana?” tanya Pingi sambil berteriak kencang.

“Ternyata daerah di bagian Utara itu indah, lho. Ada banyak pepohonan hijau di mana-mana,” cerita Amar. Pingi pun terdiam dan mulai mendengarkan cerita petualangan si Amar.

Pingi sebenarnya agak iri dengan kemampuan sahabatnya itu. Amar dengan kedua sayapnya yang kuat, dapat terbang melintasi berbagai daerah dan berpetualang di tempat-tempat asing.

Pingi dan Amar sudah bersahabat sejak lama. Keduanya sering bermain bersama. Namun, sejak Amar bisa terbang, ia sering bepergian ke tempat-tempat yang jauh. Keduanya pun jarang bertemu setelah Amar sering bepergian. Tapi, sesekali Amar mengunjungi tempat tinggal Pingi untuk mengobrol dan bercerita.

“Amar, aku juga ingin bisa terbang seperti kamu!” ungkap Pingi. “Aku ingin sekali berpetualang ke daerah lain, nggak cuma berenang saja,” ungkap Pingi lagi.

“Aku juga bingung kenapa kamu tidak bisa terbang, padahal kamu juga memiliki sayap sama seperti aku,” jawab Amar penasaran. “Mulai besok, aku akan ajari kamu terbang ya!” janji Amar kepada Pingi.

Keesokan harinya, Pingi dan Amar sudah bersiap di tebing yang tak terlalu tinggi. “Ayo coba kepakkan sayapmu, Pingi!” perintah Amar yang berdiri tak jauh dari tempat Pingi berdiri.

“Aku pasti bisa terbang!” ujar Pingi kepada dirinya sendiri. Ia terus menerus menyemangati dirinya. Sayap mungil Pingi pun mulai dikepakkan pelan-pelan. Tak seperti sayap Amar yang lebar dan kokoh, sayap Pingi justru tak terlalu besar. Pingi juga tak punya bulu seperti halnya sayap Amar.

Pingi pun mengambil ancang-ancang berlari dari kejauhan. Kaki Pingi yang pendek terlihat berlari kecil ke arah tepi tebing. “Plak..plak..plak,” suara jejak kaki Pingi yang lebar. Sesampainya di tepi tebing, ia langsung mengibaskan kedua sayapnya sekuat mungkin. Tapi, kepakan sayap Pingi tak bisa membuat ia terbang seperti Amar. Tiba-tiba terdengar suara yang cukup keras. “Gubraaaaaak…” Pingi terjatuh di atas tumpukan es. Untungnya, tebing itu tidak terlalu tinggi.

“Aku mau coba lagi,” ujar Pingi tak kapok mencoba untuk terbang. Ia kembali berlari mengambil ancang-ancang. “Plaak..plaak..plaak..” Pingi melompat dan akhirnya terjatuh kembali. Berkali-kali Pingi mengulanginya, berkali-kali pula ia terjatuh.

“Sudahlah nanti kita coba lagi,” saran Amar. “Aku sekarang mau mencari makan di daerah Utara,” ujar Amar kemudian. Amar meninggalkan sahabatnya dan terbang menuju Utara untuk mencari makan.

Beberapa jam kemudian, saat Pingi asyik berenang mencari ikan di sekitar bongkahan salju tempat tinggalnya, terdengar teriakan minta tolong. “Toloooong, Pingi, sayapku terluka. Sakit sekaliii…”

Ternyata di langit, Amar sedang terbang terhuyung-huyung. Salah satu sayapnya terluka. “Aku tak kuat lagi terbang,” kembali Amar berteriak.

Akhirnya, Amar tak bisa lagi mengepakkan sayapnya. Ia terpelanting ke permukaan laut dengan sangat kencang. “Byuuuur…”

Amar mulai tenggelam ke dasar laut. Melihat kejadian itu, Pingi langsung menarik nafas dalam-dalam dan mulai menyelam untuk menyelamatkan sahabatnya itu. Dengan kedua sayapnya, Pingi mulai meliuk-liuk di dalam air laut. Kepakan sayap Pingi hampir mirip dengan sirip seekor ikan. Ditambah lagi, dengan dorongan dari kedua telapak kakinya yang cukup lebar. Dengan sekejap, ia berhasil menemukan Amar yang mulai tenggelam. Pingi langsung menarik Amar ke atas permukaan.

Sesampainya di daratan, Amar terbaring lemas dengan sayapnya yang masih terluka. “Uhuuk..uhukk..,” Amar terbatuk-batuk gara-gara menelan air laut. Beruntung, Amar masih bisa diselamatkan. “Terimakasih ya, Pingi,” ujar Amar terbata-bata.

“Tadi, cuaca buruk disertai petir melanda daerah Utara,” cerita Amar. “Sayapku terluka karena menabrak ranting pohon,” tambah Amar. Pingi mendengarkan dengan seksama.

“Tanpa pertolonganmu, aku pasti sudah tenggelam,” tutur Amar tersadar. “Iya, aku sadar ternyata semua hewan itu punya kelebihan dan kekurangan, pinguin memang tidak bisa terbang, tapi bisa berenang dengan baik dan cepat,” ujar Pingi.

“Kamu bisa terbang, aku bisa menyelam,” ujar Pingi yang disambut dengan tawa Amar. Kedua sahabat itu menyadari kekeliruan mereka selama ini. Pingi kemudian mengobati sayap Amar yang masih terluka. Meski berbeda, mereka tetap bersahabat. (Cerita : JFK / Ilustrasi : Fika)

You may also like
Latest Posts from Majalahjustforkids.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *