“Dita, duduk sini sebentar. Ayah mau bicara,” panggil Ayah. Dita menghampiri Ayah dan duduk tepat di sampingnya. “Ada apa, Yah?” tanya Dita penasaran.

Awalnya, Ayah hanya menanyakan bagaimana pelajaran di sekolah dan kabar teman-temannya. Tapi, ternyata setelah itu pertanyaan Ayah mulai terdengar aneh. “Dita, mulai bulan depan Ayah akan pindah tugas ke Sorong,” jelasnya. “Ayah sudah mengurus semua keperluan pindah sekolahmu. Jadi, mulai bulan depan, kita sekeluarga akan pindah ke sana,” lanjut Ayah.

Semalam, setelah mendengar berita yang sangat mengejutkan itu, Dita langsung mengurung diri di kamar. Ia tak pernah membayangkan untuk pindah dari kota yang sangat ia cintai.

Akhirnya, pagi ini Dita memilih berangkat sekolah dengan berjalan kaki, daripada naik mobil bersama Ayah. Ia masih sangat kesal dengan berita buruk yang disampaikan sang Ayah.

“Dit, kamu kok ngelamun gitu?” tanya Zee teman sebangkunya. “Aku lagi kesal,” jawab Dita singkat. “Tapi aku juga sedih,” lanjutnya. Zee yang tidak tahu apa-apa, hanya menggeleng-geleng melihat tingkah temannya. “Bulan depan Ayahku pindah ke Sorong, dan aku juga pindah sekolah ke sana,” kata Dita lesu. “Sorong? Itu di Irian sana, kan? Kamu serius, Dit?” ucap Zee tampak tak percaya. Obrolan mereka lantas terhenti karena bel masuk berbunyi.

“Dit, coba lihat ini, deh,” celetuk Zee sambil menyodorkan smartphonenya. “Kamu mau liburan ke sini, Zee?” tanya Dita. “Ini, tuh, Raja Ampat, Dit. Tempatnya nggak jauh dari Sorong. Kalau kamu pindah ke sana, berarti kamu bisa sering main ke tempat indah ini, dong?” ujar Zee. Dita hanya terdiam mendengar perkataan Zee.

Ternyata, Dita juga penasaran dengan tempat indah yang ditunjukkan oleh Zee. Ia lantas mencarinya di internet. Ia menemukan banyak foto indah tentang kota Sorong. Tanpa disadari, ia mulai semangat jika mengingat dirinya akan pindah ke sana. Namun, ia juga sangat berat meninggalkan teman-temannya di sini.

Ibu pun melihat Dita yang sedang mencari tahu tentang kota Sorong. “Kalau kita nanti pindah ke Sorong, Dita mau ke tempat itu?” tanya Ibu tiba-tiba. “Ibu ngagetin aja, deh,” ucap Dita buru-buru mengganti layar laptopnya. “Ibu tahu, pasti kamu berat meninggalkan kota ini. Apalagi banyak teman-temanmu di sini. Tapi, di sana banyak tempat bagus, lho, Dit. Kamu juga bisa punya banyak teman di sana,” nasihat Ibu. Dita hanya mengangguk pelan.

Waktunya hampir tiba. Minggu depan, ia sudah harus meninggalkan Jakarta. Semua barang yang akan dibawa juga sudah siap. Dita mulai siap untuk berpisah dengan temannya sementara. Ia akan rajin berkunjung karena Ayah masih harus ke kantor pusat di Jakarta untuk memberikan laporan. Dita akan ikut agar bisa menemui teman-temannya.

Sehari sebelum kepindahan, Dita berpamitan kepada teman sekelasnya di depan kelas. Semua teman sekelasnya pun bersalaman dan memberikan salam perpisahan. Zee sebagai teman sebangku Dita, tak bisa menahan tangisnya. “Jangan nangis, Zee. Kita, kan, akan ketemu sebulan sekali,” ujar Dita. Zee pun memberikan pelukan hangat kepada Dita sambil menghapus air matanya. (Cerita: Nindy/Ares/Ilustrasi: Putri)

You may also like
Latest Posts from Majalahjustforkids.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *