Putri Pilipa adalah Putri tunggal Kerajaan Cokelat yang pelupa. Sebagai putri satu-satunya, Putri Pilipa kelak akan jadi pemimpin Kerajaan Cokelat. “Apakah aku mampu? Aku ini pelupa!” keluh Putri Pilipa.

Suatu hari, Putri Pilipa membantu juru masak istana membuat roti. Tapi sayang sekali, dia lupa mengangkat roti dari panggangan sehingga roti-roti yang sudah susah payah dibuat, jadi gosong. Putri Pilipa sangat sedih dan menemui orangtuanya, Raja dan Ratu. “Aku tidak ingin  jadi pemimpin Kerajaan Cokelat, aku tidak bisa!” kata Putri Pilipa. “Kau harus bisa karena itu masa depanmu,” kata Raja dan Ratu. “Apa yang harus kulakukan agar aku bisa melakukan perbuatan yang membanggakan?” tanya Putri Pilipa. “Kau harus berdoa meminta bimbingan pada Yang Kuasa, dengarkan kata hatimu,” jawab Raja dan Ratu.

Setelah berdoa, Putri Pilipa berkeliling kerajaan dan sampai ke suatu desa yang pernah ditimpa bencana banjir. Dia melihat lahan yang rusak dan rumah yang hancur. “Aku akan membangun desa ini lagi!” kata Putri Pilipa. Setelah desa itu dibangun kembali, orang-orang mulai berdatangan ke desa itu dan menetap. Putri Pilipa bahagia, tapi dia merasa belum puas akan perbuatan baiknya.

Suatu hari, seorang Nenek tua datang ke desa dan meminta tolong agar Putri Pilipa melakukan sesuatu. “Tolong kuburkan guci ini di tanah, karena guci ini sudah tua dan tidak terpakai lagi,” kata si Nenek. “Baik, Nek,” ucap Putri Pilipa menyanggupi. “Kali ini aku tidak boleh lupa!” ujar Putri Pilipa berjanji.

Tapi, lagi-lagi Putri Pilipa lupa, dan dia membawa guci si Nenek pulang ke istana! Tiba-tiba, terdengar suara si Nenek dengan gaung yang menakutkan. “Putri bodoh! Jika kau lupa, gunakan pena serta kertas, lalu catat apa yang harus kau kerjakan! Gara-gara kau, aku kehilangan kesempatan untuk membuat desa itu kebanjiran lagi dengan guci sihirku!” kata si Nenek.

Putri Pilipa tidak takut. “Jadi itu ulahmu penyihir jahat! Aku tidak bodoh! Sifat pelupaku ini akhirnya bisa membuat kebaikan juga! Ayo maju, hadapi aku!” ujar Putri Pilipa seraya menghunus pedang pusaka Kerajaan Cokelat dan si Nenek penyihir jahat lari ketakutan. “Si Nenek memang jahat, tapi dia ada benarnya. Mencatat bisa membantuku mengingat,” gumam Putri Pilipa. Dia lalu menghancurkan guci sihir dengan pedang pusaka Kerajaan Cokelat.

Raja, Ratu, dan rakyat Kerajaan Cokelat gembira mendengar Putri Pilipa mengalahkan penyihir jahat. “Ayahanda, Ibunda, mulai sekarang aku akan bekerja keras dan berdoa agar bisa menjadi pemimpin Kerajaan Cokelat di masa depan,” janji Putri Pilipa. Raja dan Ratu tersenyum bangga pada Putri tunggal mereka.

 

 

Cerita: Seruni     Ilustrasi: JFK

You may also like
Latest Posts from Majalahjustforkids.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *