Piano Tua

Saat itu pulang sekolah, Lidia melihat tetangga yang satu kelas dengannya, Willy, berjalan sambil senyum senyum. “Siapa yang berani dengar cerita seram-ku?!” seru Willy pada kumpulan anak-anak yang langsung menjauh. “Payah! Penakut semua!” kata Willy.

Willy memang senang menakuti teman-temannya. “Coba ceritakan padaku,” kata Lidia. “Kalau kamu nggak seru! Pasti nggak takut!” keluh Willy. Tapi akhirnya Willy bercerita pada Lidia.

Willy yang orangtuanya pedagang barang antik, hari ini mendapat kiriman piano tua. “Katanya piano itu berhantu, jadi dijual pemiliknya,” cerita Willy. “Main saja ke rumahku, tapi hati-hati ya, pasti kamu ketemu hantu piano tua!” tambah Willy sambil tertawa dan berlari ke mobil jemputan sekolah. Mendengar cerita Willy, Lidia tak takut tapi ingin tahu.

Hari Minggu, Lidia main ke rumah Willy karena ingin melihat piano tua yang katanya berhantu. Ketika Lidia mau menekan bel, dia mendengar sesuatu dari rumah Willy.  Suara Piano. “Eh, ada Non Lidia!” tiba-tiba terdengar suara. Lidia terlonjak kaget. Rupanya Bi Umi, asisten rumah tangga Willy.

“Rumah kosong,” kata Bi Umi. “Kosong? Aku dengar suara piano tadi,” kata Lidia. “Ah, dari rumah lain, kali!” jawab Bi Umi. Kemudian wajah Bi Umi pucat. “Bi..Bibi pergi lagi ya, ada yang lupa dibeli,” kata Bi Umi sambil menatap gugup ke dalam rumah Willy, lalu meninggalkan Lidia yang bingung sendirian.

Keesokan harinya di sekolah waktu istirahat siang, Lidia mencari Willy. Ternyata dia duduk sendiri, melamun. “Biasanya kamu cerita yang seram-seram ke teman, kok murung?” sapa Lidia. “Aku menyesal menakut-nakuti teman, karena aku mengalami sendiri bagaimana rasanya takut,” kata Willy dengan suara pelan.

Willy lalu menunjukkan foto-foto di smartphone miliknya. Foto-foto itu kabur tidak jelas, tapi Lidia bisa mengenali bentuk piano di foto-foto itu. “Aku coba foto piano tua berkali-kali tapi hasilnya selalu seperti itu. Dan sesudah kufoto, lampu rumah selalu redup,” cerita Willy dengan suara pelan. Sekarang Lidia jadi ikut takut.

Karena Willy ketakutan, orangtuanya mengirim piano tua kembali ke pemiliknya. Piano tua diangkut dengan mobil box. Lidia dan Willy menyaksikan piano itu diangkut ke dalam mobil box. Setelah semua beres, mobil box itu melaju dan di tengah jalan tiba-tiba mogok.

Pak supir menggaruk kepalanya bingung. Lidia dan Willy berpandangan, takut. “Piano tua…,” bisik Lidia. Willy mengangguk pelan. Tak lama kemudian, mesin mobil box menyala lagi dan akhirnya berjalan mantap. Lidia dan Willy menghela napas lega. Tapi..entah apa lagi yang akan dilakukan piano tua itu. Lidia takut membayangkannya. (Seruni/Nov)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *