Di Kerajaan Pasimo, seorang putri bernama Alegro menjadi pemimpinnya. Sejak zaman leluhur Putri Alegro, Kerajaan Pasimo membuat piano dan menjualnya ke negeri lain. Karena suara yang dihasilkan piano buatan Kerajaan Pasimo sangat indah, semua orang menyukainya. Putri Alegro dengan bangga meneruskan tradisi leluhurnya.

Suatu hari, ketika Putri Alegro sedang berjalan-jalan di taman istana, seorang petinggi istana datang dan memberi laporan, “Tuan Putri, tahun ini sepertinya kita hanya mampu membuat sedikit piano. Bahkan, mungkin tidak sama sekali!” Putri Alegro terkejut. “Kenapa?” tanyanya. “Para tetua sepertinya sakit karena musim dingin tahun ini sangat panjang,” jawab si petinggi istana. Di Kerajaan Pasimo, piano dibuat oleh orang-orang yang sudah tua yang disebut para tetua. Walau sudah tua, nenek dan kakek ini punya pengetahuan dan kekuatan untuk membuat piano. Putri Alegro menghela napas dan berkata, “Saatnya menjalankan rencana yang kupikirkan!”

Putri Alegro memanggil semua petinggi istana dan mengatakan keputusannya. “Mulai sekarang, para tetua tidak akan membuat piano. Karena mereka sudah tua dan gampang sakit. Hal ini menjadi hambatan dalam membuat piano. Pekerjaan para tetua akan diganti dengan tongkat sihir yang akan kubeli dari Negeri Peri,” perintah Putri Alegro. Para tetua sedih mendengar keputusan Putri Alegro, tapi mereka tidak bisa melakukan apa-apa karena kekuasaan sang Putri.

Setahun kemudian, Putri Alegro menerima laporan dari petinggi kerajaan yang bertugas mengawasi perdagangan piano Kerajaan Pasimo. “Tuan Putri, sekarang banyak keluhan tentang piano buatan kerajaan kita yang dibuat dengan sihir. Pembeli berkata kalau suaranya tidak indah,” ujar petinggi kerajaan. “Aku harus bertanya pada Peri Carla yang menjual tongkat sihir,” pikir Putri Alegro. “Mengapa piano yang dibuat dengan sihir tidak bersuara indah?” keluh Putri Alegro pada Peri Carla. “Sihir tidak punya hati, bakat, perasaan, dan pengalaman. Setiap piano yang dibuat para tetua mempunyai semua itu. Selain itu, para tetua selalu berdoa agar piano buatan mereka jadi yang terbaik,” jelas Peri Carla.

Putri Alegro menyadari kesalahannya. Ia pun meminta maaf pada para tetua dan mengembalikan tugas mereka sebagai pembuat piano. Para tetua sangat gembira karena bisa mengerjakan pekerjaan yang mereka banggakan lagi. “Tuan Putri, bagaimana jika kami jatuh sakit lagi?” tanya para tetua. “Jangan khawatir. Aku sudah membeli tongkat sihir untuk menyembuhkan penyakit. Kalau kalian sakit, aku hanya perlu mengayunkannya pada kalian,” tandas Putri Alegro.(Teks: Seruni/ Ilustrasi: Fika)

You may also like
Latest Posts from

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *