Koka si kucing mengerjapkan matanya, silau karena terkena sinar matahari pagi yang terang. “Kenapa belakangan ini cuaca semakin panas!” gerutunya. “Hei, bersyukurlah kau masih bisa merasakan sinar matahari!” kata sahabatnya Cici. Cici adalah seekor tikus  sahabat Koka. “Kau benar kawan, ayo kita bertualang hari ini!” ajak Koka. Setelah sarapan pagi, Koka dan Cici segera berangkat dengan bersemangat.  Di tengah jalan mereka bertemu dengan Bulu si burung yang serba tahu kabar hari itu. “Aku bertemu dengan sebuah…ah, bukan…seekor batu aneh!” katanya. Koka dan Cici saling berpandangan. “Hei Bulu, kau salah!” seru Cici. “Batu itu benda mati bukan makhluk hidup seperti kita. Jadi kau harusnya mengatakan sebuah batu,” jelas Koka. “Batu yang aku temui ini bisa berbicara! Aku tidak mungkin salah. Mana pernah aku berbohong pada kalian?” kata Bulu bersikeras. “Iya ya, kau tak pernah bohong,” pikir Cici. “Kalau begitu ayo Cici, ayo kita temui batu ini,” ajak Koka.

Tidak memerlukan waktu lama bagi Koka dan Cici untuk menemukan si batu. Mereka mendengar suara tangisan, dan ketika kedua sahabat itu mendatangi asal suara tangisan, mereka bertemu dengan si batu yang diceritakan Bulu. “Batu itu hampir tenggelam di air matanya sendiri!” seru Cici. Koka segera menolong si batu. Si batu berterima kasih dan memperkenalkan diri. “Namaku Meto, aku adalah meteorit yang mencari kerabatku, meteorit lain yang jatuh ke Bumi lima puluh tahun lalu. Tapi sayang sekali aku tidak bisa menemukannya!” Lalu Meto mulai menangis. “Tenang, kami akan membantumu!” seru Koka. “Hei, tunggu dulu, bagaimana caranya mencari informasi tentang meteorit yang jatuh lima puluh tahun lalu?” tanya Cici. “Ikut aku,” jawab Koka.

Koka mengajak Meto dan Cici pergi ke perpustakaan. Koka melihat sekelilingnya. “Ah itu dia yang kucari!” katanya sambil melihat ke sebuah komputer. Di layar komputer pencarian, muncul artikel dari koran lama dan foto bongkahan batu meteorit. “Itu kerabatku!” seru Meto. “Sekarang kita tinggal pergi menemuinya. Ini di padang pasir!” seru Cici panik. “Kita tinggal pergi naik pesawat sampai di kota terdekat dengan padang pasir ini, mudah,” kata Koka menenangkan Cici.  “Yah, kuserahkan saja padamu, lagipula aku ingin melihat Meto yang sudah jauh-jauh datang ke Bumi bertemu lagi dengan kerabatnya,” kata Cici.

Koka, Cici, dan Meto pergi ke bandara, dan dengan menggunakan segala kecerdikan, mereka akhirnya berhasil naik di dalam kargo pesawat. Tak lama setelah sampai di tujuan, Koka mencari persediaan makanan dan air, lalu mereka bertiga memulai perjalanan jauh. Tiga hari kemudian, Koka dan Cici melihat Meto bertemu kembali dengan kerabatnya dengan hati senang. “Terima kasih banyak, aku akan tinggal di sini mulai sekarang!” kata Meto. “Kalau begitu kami akan kembali ke rumah, jaga dirimu,” ucap Koka dan Cici berpamitan.

Sesampainya di rumah, Cici melihat Koka yang tampak murung. “Aku yakin ada sesuatu yang kau sembunyikan,” kata Cici. “Sebenarnya, sudah lama aku tidak menemui satu-satunya kerabatku, karena kami pernah berselisih paham,” aku Koka. “Aku terkejut! Padahal kau sangat antusias menolong Meto bertemu lagi dengan kerabatnya!” seru Cici. “Aku tahu, sudah saatnya aku bertemu dengan kerabatku dan berbaikan dengannya,” kata Koka menunduk malu. “Nah, kalau begitu ayo kita pergi bersama, kali ini biar aku yang merencanakan petualangan kita!” kata Cici dengan wajah cerah. “Terima kasih sahabatku!” Koka tersenyum gembira.

 

 

Cerita: Seruni      Ilustrasi: Agung

You may also like
Latest Posts from Majalahjustforkids.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *