Bela si harimau bersembunyi di gua. Dia tak mau ketahuan Murga, Bibinya yang kejam dan galak. Kalau ketahuan, dia akan dipaksa berburu manusia.  SRAK!  Bela terlonjak kaget. “Tenang saja, Bela, ini aku, tidak perlu kaget begitu,” kata Roru si rubah tua yang dihormati para penghuni hutan.

Bela menghela napas lega.  “Kau tidak bisa terus menerus lari dari masalah,” nasihat Roru. “Aku sudah berusaha menjelaskan pada Bibi Murga kalau tidak semua manusia itu jahat.  Tapi dia tidak mau mendengar penjelasanku!” keluh Bela. “Rupanya kau disini, Bela,” suara dingin Murga membuat Bela menjerit ketakutan.

“Bibi Murga!” seru Bela. Murga memandang Bela dengan sedih. “Aku tidak pernah menceritakan kepadamu kenapa aku membenci manusia. Wajar saja jika kau tidak mengerti. Kini kau sudah dewasa, dengarkan ceritaku. Kau masih bayi ketika orangtuamu terbunuh dan adikmu Lisa dibawa pergi oleh para pemburu hewan. Dan sampai sekarang Lisa tidak pernah kembali. Karena manusialah kau tidak pernah mengenal orangtuamu dan adikmu Lisa,” cerita Murga. Bela hanya bisa terperangah.

Berhari-hari Bela memikirkan cerita Bibi Murga. “Aku jadi mengerti kenapa Bibi membenci manusia,” kata Bela. “Tapi tetap saja, jika satu buah busuk, tidak mungkin buah yang lain juga busuk, kan? Lagipula, tidak ada bukti bahwa adikku Lisa sudah mati! Aku tahu, aku akan mencari Lisa!” Bela bertekad.

Murga sangat marah, dan mengejar Bela. “Anak bodoh! Lebih baik kau jadi kuat dan memburu semua manusia daripada mencari Lisa yang sudah mati!” seru Murga. “Maafkan aku, Bibi! Aku sudah dewasa, dan aku akan mengikuti kata hatiku!” ucap Bela. Bela berlari dan Murga mengejarnya. Mereka sampai ke tepi jurang yang di bawahnya sungai deras. “Kau tidak bisa lari lagi!” ucap Murga tertawa. Tapi Bela melompat jauh dan sampai ke seberang. Murga terkejut dan tidak bisa berkata apa-apa. “Percayalah pada Bela, Murga. Aku yakin dia pulang membawa penyelesaian untuk dendam yang terus kau simpan,” kata Roru pada Murga.

Karena kelelahan, Bela terbaring di tepi luar hutan. “Sekarang setelah keluar dari hutan, aku justru tidak yakin dengan jalan yang kupilih. Apa yang harus kulakukan? Sepertinya aku sakit!” tangis Bela. Tiba-tiba, sebuah mobil lewat di dekat Bela dan dua manusia turun mendekati Bela. “Aku akan bernasib sama seperti orangtuaku dan Lisa!” keluh Bela lalu dia jatuh pingsan.

Ketika sadar, Bela menemukan dirinya berada di hutan lagi. “Apakah aku bermimpi?” gumam Bela bingung. Dia melihat ke tanah dan terkejut menemukan sebuah selebaran. Di selebaran itu ada foto seekor harimau yang sedang tersenyum gembira. Harimau di foto itu sangat mirip dengan dirinya. “Halo,” sapa seorang manusia berwajah ramah. “Namaku Gabi, bagaimana keadaanmu?” tanya Gabi pada Bela. “Kau bisa bicara bahasa harimau!” seru Bela terkejut. “Ya, karena aku menyukai harimau dan hewan-hewan di hutan,” ucap Gabi tersenyum. “Kaulah yang telah menyelamatkanku, terima kasih!” kata Bela. Wajah Gabi berubah sedih. “Pertolonganku tidak sebanding dengan perbuatan Kakekku pada keluargamu. Kakek mau menghancurkan hutan tempat tinggalmu dan kedua orangtuamu adalah harimau-harimau pemberani. Mereka berdua melawan Kakekku yang jahat, dan tewas dalam perjuangan itu. Kakek membawa adikmu Lisa, tapi aku menyelamatkan Lisa. Dan aku juga merawat kembali hutan tempat tinggalmu yang dihancurkan Kakek. Sekarang Lisa jadi bintang sirkus terkenal di seluruh dunia. Aku yakin dia pasti senang melihatmu dan mau pulang ke hutan,” kata Gabi.  “Jadi, selama ini kau melindungi hutan tempat tinggal kami! Karena kaulah kami bisa hidup tenang,” ujar Bela memandang Gabi penuh terima kasih. “Maukah kau memaafkan perbuatan Kakekku?” mohon Gabi. “Tentu saja!” seru Bela.

Akhirnya, Bela bertemu kembali dengan Lisa. Mereka berdua sangat bahagia. “Ayo kita menemui Bibi Murga,” ajak Bela. Murga mendengarkan cerita Bela dan Lisa. “Mengapa kau membuat Lisa menjadi harimau sirkus? Bagi kami itu adalah penghinaan!” seru Murga memandang Gabi dengan curiga. “Jika Lisa disukai manusia di seluruh dunia, mereka akan ikut menyukai tempat tinggalnya yaitu hutan tempat kau tinggal. Jika suatu hari nanti hutan ini akan terancam, mereka tidak akan membiarkannya,” jelas Gabi. “Aku setuju dengan Gabi, dukungan orang akan membuat hutan ini aman,” kata Roru rubah bijaksana. “Gabi sudah berbuat banyak bagi hutan ini dan kita,” kata Bela pada Murga, membujuknya. Akhirnya, Murga mau mengerti dan memaafkan perbuatan Kakek Gabi. Kebencian Murga terhadap manusia hilang. Dia bersahabat baik dengan Gabi dan selalu menghormati pendapat Bela dan Lisa. Mereka semua hidup rukun dan bahagia.

 

 

 

Cerita:  Seruni      Ilustrasi:  Agung

You may also like
Latest Posts from Majalahjustforkids.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *