Caty adalah seekor kucing bertubuh gemuk dan berbulu lebat berwarna kuning. Suatu hari, Caty jalan berkeliling mencari makanan. Saat sedang asyik berjalan, tiba-tiba, lewatlah seekor tikus bernama Misy.

“Hehe… pucuk dicinta, ulam pun tiba. Rezeki memang tak ke mana. Lagi lapar-laparnya, eh, muncul seekor tikus,” ujar Caty tertawa senang. “Wah, kalau aku makan tikus ini, perutku pasti langsung kenyang, deh, hehe…,” ujarnya lagi.

Misy yang terkejut, tak menyangka akan berpapasan dengan Caty. “Waduh! Bahaya, nih, bisa-bisa aku dimakan oleh kucing itu!” gumam Misy. Caty dan Misy saling berpandangan. Tak menyia-nyiakan kesempatan, Caty berlari ke arah Misy, mencoba untuk menerkamnya. Sayang, Caty kalah cepat dengan Misy. Misy yang kecil dan lincah, berhasil melarikan diri dan lolos dari kejaran Caty. “Aaarghh!!! Gagal, deh, aku makan enak,” seru Caty kesal.

Keesokan harinya, Caty kembali berkeliling untuk mencari makanan. Caty berjalan lemas karena kelaparan. “Aduh, aku sangat lapar. Sudah dua hari ini aku belum makan,” keluh Caty. Caty terus berjalan sambil sesekali menengok ke kiri dan ke kanan. Caty berharap ada mangsa yang bisa ia dapatkan untuk mengisi perutnya.

Tiba-tiba, tanpa sengaja, Caty berpapasan dengan Digy. Digy adalah seekor anjing besar yang sedang menatapnya tajam. “Aduh, bagaimana ini? Aku harus lari ke mana?” gumam Caty gemetar.

Perlahan namun pasti, Digy terus mendekat ke arah Caty. Wajah Caty pucat. Saking takutnya, Caty tidak mampu menggerakkan badannya. Sementara, anjing besar itu hanya tinggal berjarak satu meter saja dari Caty. “Aaahhhh… tolonggg… siapa pun bantu aku…!!!” Caty berteriak sekencang-kencangnya.

Ternyata, tak jauh dari situ, ada Misy, tikus yang hendak diterkam Caty kemarin. “Siapa itu yang meminta tolong, ya?” ujar Misy. Misy pun segera berlari ke arah suara teriakan itu.

Dari kejauhan, Misy melihat Caty, kucing yang hendak menerkamnya kemarin, sedang dihadang oleh Digy, seekor anjing yang sangat besar. Tak kehilangan akal, Misy segera memanggil teman-teman tikusnya yang lain. “Hai, teman-teman! Ayo, ikut aku. Ada yang sedang kesusahan di sebelah sana. Kita harus segera menolongnya,” seru Misy pada teman-temannya. Tikus-tikus pun berdatangan untuk menolong Caty. Digy yang tak menyangka akan melihat tikus sebanyak itu, lari menjauh dari Caty.

“Terima kasih, Misy. Terima kasih juga untuk kawan-kawanmu. Padahal kemarin aku sudah jahat. Hampir saja kau aku makan,” ucap Caty merasa malu. “Sama-sama, Caty. Kita memang diharuskan untuk menolong yang membutuhkan,” kata Misy. “Kau tidak usah memikirkan hal yang kemarin. Aku sudah memaafkannya,” kata Misy lagi.

“Apa kamu masih merasa lapar?” tanya Misy pada Caty. “Iya, dari kemarin aku belum mendapatkan makanan,” jawab Caty. “Baiklah. Aku punya persediaan makanan, apa kamu mau? Ya, untuk sementara saja,” ujar Misy tersenyum. “Terima kasih, Misy. Tak kusangka, kau membalas kejahatanku dengan kebaikan. Aku jadi malu. Sekali lagi maafkan aku, Misy,” ucap Caty sangat menyesal. Caty dan Misy saling berpelukan dan menjadi sahabat.

 

 

Cerita: JFK      Ilustrasi: JFK

You may also like
Latest Posts from

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *