Permudah Masyarakat Temukan Bank Sampah Terdekat, Unilever Indonesia Berkolaborasi dengan Google My Business

Rasanya, saat ini manusia tak bisa lepas dari plastik. Sekitar 150 tahun silam, manusia menciptakan plastik sebagai materi yang ringan, kuat, dan murah. Tak hanya bisa menciptakan aneka benda berguna bagi kebutuhan sehari-hari, terobosan plastik bahkan bisa membantu jantung berdenyut dan pesawat melesat di udara.

Namun sayang, lebih dari 40 persen plastik hanya digunakan satu kali lalu dibuang. Dan, delapan juta ton di antaranya berakhir di laut setiap tahun, mengganggu ekosistem laut termasuk mengancam keberlangsungan hidup satwa penghuninya.

Hingga kini, masalah limbah plastik masih menjadi isu utama di Indonesia. Apalagi, negara kita termasuk penyumbang kedua sampah plastik terbesar di dunia. Untuk menyelamatkan bumi, pemilahan sampah plastik supaya bisa didaur ulang berkali-kali didengungkan, namun fakta di lapangan tak semanis harapan.

Sebagai perusahaan yang memiliki komitmen jangka panjang untuk turut menangani permasalahan sampah plastik di Indonesia dari hulu ke hilir, PT Unilever Indonesia, Tbk. hari ini merilis hasil studi tentang rantai nilai sampah plastik di Pulau Jawa. Salah satu fakta yang didapat, baru sekitar 11,83% sampah plastik yang sudah didaur ulang.

Untuk itu, guna meningkatkan laju daur ulang sampah plastik pasca konsumsi, Unilever Indonesia mendorong digitalisasi Bank Sampah melalui kolaborasi dengan Google My Business. Digitalisasi ini memungkinkan masyarakat untuk lebih mudah menemukan Bank Sampah, sehingga masyarakat yang sudah memilah sampah dari rumah akan bisa menyalurkan sampahnya dengan tepat, tidak terbuang ke TPA (Tempat Pembuangan Akhir).

Kendala Bank Sampah: Pengumpul Sampah Terkecil

Ya, melalui Bank Sampah, masyarakat bisa ikut aktif berpartisipasi dalam mengelola sampah rumah tangga, terutama sampah yang dapat didaur ulang seperti plastik, kertas, kaleng, dan lainnya. Bank Sampah akan membantu menyalurkan sampah kemasan yang kita kumpulkan ke proses daur ulang.

Para pembicara dalam Webinar #1: “Studi Terkini Mengenai Pengelolaan Sampah: Pentingnya Revolusi Melalui Kolaborasi”

Unilever Indonesia menganggap penting digitalisasi Bank Sampah ini, mengingat peran Bank Sampah masih perlu ditingkatkan. Diungkapkan oleh Nurdiana Darus, Head of Corporate Affairs and Sustainability PT Unilever Indonesia, Tbk., berdasarkan studi tentang rantai nilai daur ulang sampah plastik, khususnya di Pulau Jawa oleh Unilever Indonesia bekerja sama dengan Sustainable Waste Indonesia (SWI) dan Indonesian Plastic Recyclers (IPR), terdapat fakta cukup memprihatinkan. “Dari studi, 83% sampah plastik yang terkumpul berasal dari pemulung, 15,2% dari Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) ataupun Tempat Pengolahan Sampah 3R (TPS3R), dan hanya 1,5% berasal dari Bank Sampah. Hal ini menunjukkan peran Bank Sampah sebagai salah satu pihak yang memiliki fungsi strategis dalam mengatasi dampak sampah pasca konsumsi masih perlu ditingkatkan,” ungkapnya pada acara #BerbagiCeritaUnilever bertajuk Semangat Kolaborasi Menuju Kehidupan Lestari yang dilakukan secara daring, hari ini, Rabu (19/08).

Lebih lanjut, Dini Trisyanti selaku Direktur SWI memaparkan hasil studi yang dilakukan sepanjang Oktober 2019 hingga 20 Februari 2020 tersebut. “Masyarakat di perkotaan Pulau Jawa menghasilkan sekitar 189.000 ton/bulan atau 6.300 ton/hari sampah plastik, dan hanya sekitar 11,83% atau kurang lebih 22.000 ton/bulan yang dikumpulkan kemudian didaur ulang. Sekitar 88,17% masih diangkut ke TPA atau berserakan di lingkungan,” katanya.

Temuan lain juga mencatat bahwa penyerapan sampah plastik pasca konsumsi di Pulau Jawa masih sangat rendah, yakni baru sekitar 0,09 juta ton plastik per tahun dibandingkan dengan kapasitas daur ulang plastik nasional yang berada di kisaran 1,65 juta ton plastik per tahun. “Dibutuhkan intervensi dan kolaborasi dari berbagai pihak untuk menjembatani kesenjangan ini, termasuk dari sisi teknologi dan inovasi,” katanya.

Nurdiana menambahkan,  permasalahan pengelolaan sampah plastik maupun pengelolaan sampah secara keseluruhan memerlukan perhatian serius dari semua pihak. “Sebagai pihak produsen, paling lambat pada tahun 2025, Unilever secara global berkomitmen untuk mengurangi setengah dari penggunaan plastik baru, mempercepat penggunaan plastik daur ulang, serta mengumpulkan dan memproses kemasan plastik lebih banyak daripada yang dijualnya,” katanya.

Pentingnya Digitalisasi Bank Sampah

Sebagai bagian dari visi tersebut, Unilever  Indonesia ingin membantu mempercepat proses daur ulang plastik lewat pengumpulan sampah dari masyarakat. Itulah sebabnya, mereka mendorong pentingnya digitalisasi Bank Sampah agar semua masyarakat Indonesia bisa terlibat aktif memilah dan mengumpulkan sampah plastik rumah tangga mereka.

Para pembicara dalam Webinar #2: “Mendorong Peran Bank Sampah Melalui Revolusi Digital”

Maya Tamimi selaku Head of Division Environment & Sustainability Unilever Indonesia Foundation menerangkan bahwa potensi dan manfaat Bank Sampah begitu besar. Sejak 2008, Unilever Indonesia Foundation mulai mengenalkan program Bank Sampah berbasis komunitas dan hingga kini telah berhasil membangun 3.858 unit bank sampah dan telah mengurangi sebanyak 12.487 ton sampah non-organik.

“Menurut pengamatan kami, salah satu kendala yang masih menghambat peranan Bank Sampah adalah aksesibilitas, yaitu belum meratanya penyebaran informasi mengenai lokasi Bank Sampah. Di era teknologi seperti sekarang, digitalisasi bank sampah dapat membantu memudahkan masyarakat mengakses dan memanfaatkan Bank Sampah terdekat,” jelas Maya.

Nah, lewat kerja sama Unilever Indonesia dengan Google My Business ini, informasi mengenai Bank Sampah akan muncul saat pengguna mencari nama bisnis atau nama bidang usaha di search engine dan Google Maps. Saharuddin Ridwan selaku Ketua Asosiasi Bank Sampah Indonesia menanggapi, “Kerjasama ini akan sangat membantu masyarakat untuk menemukan Bank Sampah secara online dengan mudah, sehingga pada akhirnya diharapkan akan meningkatkan minat dan partisipasi masyarakat terhadap program Bank Sampah.”

Saat ini, lebih dari 300 Bank Sampah binaan Unilever Indonesia telah terdaftar di Google My Business. Perusahaan akan terus memantau dan mengajak lebih banyak lagi Bank Sampah untuk bergabung, sehingga mereka dapat ikut memanfaatkan teknologi digital dalam mengembangkan usaha.

Untuk mengetahui data Bank Sampah binaan Unilever Indonesia yang telah terhubung dengan platform Google My Business, silakan kunjungi: www.unilever.co.id/sustainable-living/yayasan-unilever-indonesia/program-lingkungan/

Photo Capture: Efa

You may also like
Latest Posts from Majalahjustforkids.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *