Jakarta, majalahjustforkids.com – Coba deh kamu amati, apakah kamu suka merasa lesu, lemah, lunglai, lemas? Duh, jangan-jangan kamu alami gejala kurang darah atau anemia. Apalagi bagi anak perempuan atau remaja putri yang sudah alami menstruasi, jangan dianggap sepele ya gejala ini!

Ya, kurang darah atau anemia masih menjadi salah satu persoalan kesehatan di Indonesia. Bahkan angka kejadian meningkat, dari 21,7% (2013) menjadi 23,7% (2018) dari total populasi di Indonesia berdasarkan data Riskesdas. Ditemukan pula, 3 dari 10 remaja Indonesia menderita penyakit anemia, dan 62.6% kasus anemia yang terjadi disebabkan oleh kekurangan zat besi atau istilah medisnya anemia defisiensi besi (ADB).

Hal ini ditegaskan oleh Bapak Dwi Adi Maryandi, SKM, MPH, Ketua Tim Kerja Pemberdayaan dan Penggerakan Masyarakat, Kementerian Kesehatan RI.  “Anemia masih menjadi salah satu masalah kesehatan yang menjadi fokus pemerintah hingga saat ini. “Di Indonesia, prevalensi anemia sebesar 48,9% pada ibu hamil dan 38,5% pada anak di bawah 5 tahun. Bahkan lebih tinggi pada remaja usia 12-18 tahun. Anemia bisa disebabkan oleh banyak hal, dan salah satu penyebab yang paling banyak terjadi adalah akibat kekurangan zat besi,” katanya dalam acara peluncuran kampanye “Jangan Cuek, Ayo Cek Gejala Kurang Darah” yang diusung oleh P&G Health Indonesia melalui brand Sangobion, Rabu (30/11/22).

Kegiatan yang didukung oleh Kementerian Kesehatan RI dan Perhimpunan Hematologi & Transfusi Darah Indonesia (PHTDI) ini digelar untuk memberikan edukasi mengenai pentingnya deteksi risiko anemia kekurangan zat besi ini digelar sekaligus dalam rangka memperingati Hari Kekurangan Zat Besi 2022.

Kelompok Paling Rentan

Diuraikan oleh Ketua Umum Perhimpunan Hematologi & Transfusi Darah Indonesia (PHTDI), Dr. dr. TB. Djumhana Atmakusuma, SpPD-KHOM, kurang darah atau anemia adalah kondisi ketika jumlah sel darah merah dan kadar hemoglobin menurun.

“Salah satu jenis anemia adalah anemia kekurangan zat besi yang dapat memengaruhi siapa saja, tetapi anak-anak, orangtua, dan wanita dengan usia reproduksi yang mengalami menstruasi dan kehamilan termasuk kelompok yang paling rentan. Kondisi tubuh seperti hamil, pendarahan, menstruasi yang berlebihan, hemoroid, dan gastritis juga dapat menyebabkan tubuh mengalami kekurangan zat besi dan apabila tidak diatasi dapat menjadi anemia kekurangan zat besi,” katanya.

dr. Djumhana melanjutkan, kekurangan zat besi dapat membatasi pengiriman oksigen ke sel, mengakibatkan sering kelelahan, tidak produktif, dan penurunan imunitas tubuh. “Maka dari itu, menjaga keseimbangan zat besi dalam tubuh sangat penting bagi kesehatan, sebagai salah satu cara untuk mengatasi kelelahan dan anemia. Manajemen dengan pemberian suplemen zat besi juga penting diberikan sebagai terapi simptomatik apabila diagnosis anemia kekurangan zat besi telah ditegakkan. Namun, tetap perlu untuk mencari dan mengatasi penyebab anemia itu sendiri,” imbuhnya.

Ayo Cek Gejala Kurang Darah

Gejala umum anemia biasanya disebut dengan istilah 5L, yakni Lesu, Lelah, Letih, Lemah, Lalai. Namun sayangnya, gejala dan tanda anemia (termasuk anemia yang disebabkan oleh kekurangan zat besi) terkadang tidak jelas dan spesifik sehingga banyak penderita tak sadar bahwa mereka sebenarnya telah alami anemia.

Meski begitu, dr. Djumhana mengatakan, ada beberapa gejala dan tanda anemia yang dapat diwaspadai. “Tanda yang terlihat antara lain pucat, kuku rapuh, bibir pecah-pecah, sariawan dan rambut rontok. Sementara itu, gejala yang dapat dirasakan antara  lain kelelahan, sakit kepala, nafas pendek, susah konsentrasi, pusing, tangan dan kaki terasa dingin, kelelahan, sulit tidur dan rentan terkena infeksi.”

Untuk mengurangi angka keajadian anemia di Indonesia khususnya bagi remaja putri, Bapak Dwi Adi Maryandi mengatakan Kemenkes telah melakukan berbagai program. Pemerintah telah merekomendasikan beberapa upaya pencegahan dan penanggulangan anemia yang dilakukan dengan memberikan asupan zat besi yang cukup ke dalam tubuh untuk meningkatkan hemoglobin. Masyarakat juga dihimbau untuk mengonsumsi makanan gizi seimbang, serta mengonsumsi TTD (tablet tambah darah) bagi remaja dan ibu hamil. Kementerian Kesehatan RI juga mendorong adanya gerakan aksi bergizi dalam mengupayakan konsumsi TTD menjadi bagian di sekolah terutama siswi SMP dan SMA atau sederajat,” urai Bapak Dwi Adi.

Luncurkan Aplikasi Anemiameter

Pencegahan selalu lebih baik daripada pengobatan. Nah, sekarang ada alat bantu bagi masyarakat nih untuk membantu mendeteksi apakah terdapat risiko anemia zat besi. Bertepatan dengan peluncuran Melalui Kampanye “Jangan Cuek, Ayo Cek Gejala Kurang Darah”, P&G Health melalui brand Sangobion meluncurkan terobosan terkini, ANEMIAMETER, aplikasi digital berbasis web pertama di Indonesia untuk deteksi risiko anemia kekurangan zat besi.

Brand Director Personal Healthcare P&G Health Indonesia, Anie Rachmayani mengatakan, “Aplikasi berbasis web ANEMIAMETER ini untuk menilai risiko anemia kekurangan zat besi dan selanjutnya dapat menjadi referensi saat berkonsultasi kepada dokter. Penting diingat aplikasi ini bukan merupakan alat diagnosis mandiri dan tidak menggantikan diagnosis medis. ANEMIAMETER dapat diakses melalui akun resmi Instagram @Sangobion4Life dan situs Sangobion.co.id. Selain deteksi risiko, penting juga untuk mengonsumsi makanan yang kaya akan zat besi seperti daging merah, telur, ikan, sayuran hijau, dan kacang-kacangan, serta mengonsumsi Sangobion, suplemen zat besi dan multivitamin untuk memastikan kebutuhan zat besi dan vitamin tercukupi dan terhindar dari anemia kekurangan zat besi,” imbuhnya.

Perlu diketahui, kampanye “Jangan Cuek, Ayo Cek Gejala Kurang Darah” dilakukan selama bulan November 2022 hingga Januari 2023 melalui rangkaian program untuk tenaga profesional kesehatan, roadshow edukasi dan penilaian risiko anemia gratis dengan praktisi kesehatan melalui “Tanya Anemia Center” yang tersebar di 10 titik se-Jabodetabek.

Inisiatif yang dilakukan Sangobion mendapat apresiasi positif dari Kemenkes. “Terkait anemia, kami mengapresiasi inisiatif P&G Health atas komitmen terus-menerus dalam upaya meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya deteksi risiko gejala anemia,” tutup Bapak Dwi Adi.

Foto: Efa, Ist

 

 

 

You may also like
Latest Posts from Majalahjustforkids.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *