Saat ini, terdapat sekitar 2,3 miliar pengidap anemia di dunia, diperkirakan satu dari dua kasus terjadi karena Anemia Defisiensi Besi (ADB). Pasien dapat mengalami gejala seperti mudah lelah, pusing berkunang-kunang, wajah pucat, dan imunitas tubuh rendah. Hal ini dapat mengganggu kualitas, mobilitas, dan produktivitas hidup mereka. Namun banyak juga pasien yang tidak memiliki gejala. Asia Tenggara dan Afrika adalah negara-negara dengan jumlah kasus anemia terbanyak, yang mewakili 85 persen dari total kasus dunia. Tanpa adanya panduan yang konsisten untuk memerangi ADB, 84 persen dari pasien tidak terdiagnosa dengan baik karena sifat dari gejala ADB yang sulit diidentifikasi dan juga banyaknya pasien tanpa gejala.

“P&G Health berkomitmen untuk meningkatkan kesadaran dan edukasi mengenai Anemia Defisiensi Besi, sebuah kondisi yang memengaruhi sebagian besar populasi di Asia. Anemia Defisiensi Besi membatasi kemampuan seseorang menjalankan hidup mereka secara optimal. Apoteker sebagai salah satu lini terdepan dalam kontak dengan pasien, memiliki peran penting di dalam komunitas untuk meningkatkan kesehatan publik. Kami menyadari tanpa adanya panduan khusus dapat menimbulkan kemungkinan terjadinya diagnosa yang salah, atau konseling yang kurang memadai. Dengan adanya ‘Panduan Diagnosa dan Konseling Defisiensi Besi’ yang pertama di dunia ini, kita memberikan apoteker panduan yang terstruktur untuk mendiagnosa dan melakukan konseling bagi pasien defisiensi besi, serta membantu konsumen memiliki hidup yang lebih sehat dan bersemangat,” kata Aalok Agrawal, Senior Vice President, P&G Health – Asia Pasifik, India, Timur Tengah, dan Afrika.

Dr Catherine Duggan, Chief Executive Officer, International Pharmaceutical Federation (FIP) mengatakan, “Visi FIP adalah siapapun dapat memiliki akses terhadap obat-obatan dan teknologi kesehatan yang aman, efektif, berkualitas, dan terjangkau. Selain itu juga, akses pada layanan perawatan farmasi dari apoteker, berkolaborasi dengan berbagai ahli kesehatan. FIP turut bangga dengan diluncurkannya panduan ini untuk membantu apoteker menghadapi kondisi yang serius ini, secara global, khususnya di Indonesia, India, dan Filipina. Kami menanti saat dimana panduan ini digunakan dalam praktiknya dan memberikan kontribusi terhadap kesehatan pasien yang lebih baik.”

Dengan adanya panduan yang terstruktur, apoteker dapat lebih mudah mendeteksi pasien berisiko lebih tinggi, mengidentifikasi gejala, dan melakukan konseling perbaikan nutrisi dan gaya hidup pasien. Panduan ini akan diluncurkan secara bertahap, dimulai dari Asia Tenggara dan India. Panduan empat langkah ini membimbing apoteker untuk berinteraksi dengan pasien ADB atau mereka yang dicurigai mengidap ADB dengan cara yang logis dan bertahap berdasarkan pedoman ASHP. Panduan ini terdiri dari empat langkah yang harus dilewati apoteker yaitu – Membangun, Menilai, Mengedukasi, dan Mengevaluasi.

  1. Membangun. Pada langkah pertama, apoteker dipandu untuk membangun hubungan dengan pasien, dengan melihat apakah adanya kemungkinan pasien mengidap ADB.  Dengan memanfaatkan prinsip komunikasi yang telah ada, apoteker disarankan untuk memperkenalkan diri dan berkomunikasi dengan bahasa yang mudah dimengerti oleh pasien sebelum memastikan apakah pasien mengidap ADB. Apoteker disarankan untuk menginformasikan durasi dari sesi sebelum meminta izin pasien untuk ikut serta.
  2. Menilai. Di langkah kedua, apoteker harus menilai seberapa dalam pengetahuan pasien tentang ADB dan alat-alat diagnosa yang dapat membantu diagnosa ADB. Hal ini bergantung pada apakah pasien sudah didiagnosa atau diduga memiliki kondisi tersebut. Bila sudah didiagnosa, apoteker disarankan untuk menilai pengetahuan pasien tentang kondisi mereka, sikap pasien tentang kondisi mereka, dan untuk memeriksa apakah sebelumnya pasien sudah mendapatkan pengobatan serta batasan pola makan. Bila belum didiagnosa, apoteker disarankan untuk menilai apakah pasien memiliki resiko tinggi mengidap ADB. Hal ini dapat dicapai dengan mencatat tanda-tanda serta gejala yang ada lalu melakukan tes laboratorium untuk memastikan diagnosa.
  3. Mengedukasi. Langkah ketiga bertujuan untuk mengedukasi pasien tentang dosis yang tepat, menjelaskan efek dari obat yang diresepkan, memahami masalah yang dihadapi penderita ADB, dan memberikan informasi tambahan. Hal ini juga meliputi rekomendasi perubahan pola makan dan mengedukasi pasien tentang suplemen zat besi oral. Apoteker juga disarankan untuk menekankan betapa pentingnya mengubah pola makan.
  4. Mengevaluasi. Langkah terakhir dalam panduan ini mengharuskan apoteker untuk mengevaluasi pengetahuan dan pemahaman pasien. Apoteker disarankan untuk mengevaluasi pemahaman pasien tentang ADB, obat yang diresepkan, dan gaya hidup yang direkomendasikan untuk mengontrol kondisi tersebut. Untuk menekankan pentingnya pemahaman tentang obat dan efeknya, pasien harus mampu menjelaskan kembali efek-efeknya. Lalu, apoteker harus mengobservasi kemampuan pasien menggunakan obat dan sikap pasien terhadap ADB.

Dengan menggunakan panduan ini, apoteker dapat mendukung upaya pasien dalam merawat diri sendiri. Hal ini meliputi peningkatan kesadaran dan mengedukasi pasien tentang ADB, serta memastikan pasien memahami dan menjalankan langkah yang diperlukan untuk meningkatkan kesehatan mereka dalam menghadapi ADB.

(Foto : Ist)

 

 

 

 

You may also like
Latest Posts from Majalahjustforkids.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *