Perhimpunan Dokter Keluarga Indonesia pada tanggal 10-11 Desember 2021 melaksanakan Rakernas, Kongres, dan Pekan Ilmiah Nasional di Denpasar, Bali. Gelaran tersebut dihadiri oleh Menteri Kesehatan Indonesia, Budi Gunadi Sadikin. Dihadiri oleh para dokter keluarga di seluruh Indonesia, gelaran kali ini menampilkan berbagai simposium dan diskusi dengan tema besar yakni, “Penegakan Sistem Kesehatan Nasional untuk Ketahanan Bangsa Melalui Pelayanan Dokter Keluarga di Indonesia”. Salah satu simposium yang menarik adalah pembahasan tentang telemedicine.

Meskipun telemedicine sangat populer pada masa pandemi ini, sebenarnya telemedicine telah diperkenalkan sejak tahun 1970 sebagai pengobatan jarak jauh. Setelah 60 tahun berlalu, telemedicine mengalami banyak perkembangan. Akhir-akhir ini integrasi antara layanan telemedicine dengan data rekam medis elektronik. Adanya data rekam medis yang komprehensif membuat diagnosis tenaga kesehatan lebih taktis, efektif, dan efisien meskipun dilakukan secara jarak jauh via telemedicine.

Hal ini senada dengan pernyataan Dr. Trevino Aristarkus Pakasi, FS, MS, PhD, SpDLP, FISPH, FISCM, SpKKLP pada simposiumnya yang berjudul “Praktik Telemedicine untuk Isolasi Mandiri”. Dalam kesempatan tersebut, Dr. Trevino menyatakan bahwa telemedicine yang didukung dengan data rekam medis saat ini sangat penting karena telemedicine menjadi tonggak layanan kesehatan selama pandemi berlangsung. Integrasi antara telemedicine dan rekam medis elektronik ini ternyata tidak dapat ditemukan pada layanan Kesehatan daring berbasis aplikasi di Indonesia pada umumnya, bahkan layanan yang populer di masyarakat.

Dr. Trevino juga sangat mengapresiasi langkah yang dilakukan oleh DoctorTool, sebuah start up di bidang kesehatan di Indonesia. DoctorTool menjawab kebutuhan akan telemedicine yang lebih baik. DoctorTool dapat menyimpan data rekam medis elektronik secara akumulatif dan digital. Hal ini membantu dokter yang melayani telemedicine untuk melihat riwayat kesehatan pasien sebelumnya guna diagnosis yang lebih baik.

Permintaan akan telemedicine ini juga perlu disambut oleh klinik-klinik yang ada di Indonesia untuk tetap mendapatkan kunjungan pasien meskipun tidak dilakukan secara tatap muka. Dari kliniknya di daerah Cimanggis, Dr. Trevino melakukan inovasi untuk segera beradaptasi dengan membuka layanan telemedicine kepada pasien. Bagi Dr. Trevino, DoctorTool membantu dokter dan pasien untuk saling membagikan data yang diperlukan.

“Kami bangga dan senang bisa membantu ratusan klinik dan dokter di Indonesia untuk bisa meningkatkan pelayanan kesehatan bagi masyarakat Indonesia. Kami merasa bahwa masih banyak lagi hal yang bisa ditingkatkan untuk mendukung kegiatan klinik dan dokter, salah satunya adalah dengan fitur telemedicine berdasarkan rekam medis yang ditawarkan oleh sistem klinik DoctorTool,” ungkap Bapak Rainaldo, Chief Executive Officer DoctorTool.

Co-Founder DoctorTool, Elisa Yoshigoe, menambahkan, “Kami sangat mendukung dokter keluarga agar dapat memberikan pelayanan yang lebih baik. Masih banyak hal lagi yang tengah dipersiapkan DoctorTool untuk membantu penyedia fasilitas kesehatan dan dokter di seluruh Indonesia.” DoctorTool optimis bahwa telemedicine menjadi layanan yang akan terus digunakan oleh masyarakat. Riset dari McKinsey menyebutkan sekitar 80 persen respondennya menyatakan akan tetap menggunakan layanan telemedicine setelah Covid-19 berakhir.

Pemerintah sendiri telah berkomitmen untuk mengembangkan program telemedicine di Indonesia dengan memasukkan program ini sebagai salah satu indikator dalam rencana strategis Kementerian Kesehatan tahun 2015-2019 kemarin dan untuk ke depannya tahun 2020-2024.

Foto: Ist

You may also like
Latest Posts from Majalahjustforkids.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *