Dahulu kala kota Palembang dikelilingi 108 anak sungai dengan sungai Musi sebagai induknya. Untuk menjaga keamanan wilayah, diperlukan sebuah perahu yang larinya cepat. Karena itu Kesultanan Palembang lalu membentuk patroli sungai dengan menggunakan perahu yang disebut dengan perahu Pancalang, berasal dari kata Pancal berarti lepas landas dan lang/ilang berarti menghilang. Makna Pancalang berarti perahu yang cepat menghilang.

Menurut para ahli sejarah, perahu Pancalang merupakan asal muasal lahirnya perahu Bidar. Agar terjaga kelestarian perahu Bidar maka digelarlah lomba perahu Bidar yang berlangsung sejak zaman Kesultanan Palembang Darussalam. Lomba ini sering disebut “Kenceran”.

Ukuran Perahu

Ada dua jenis perahu Bidar yang kini dikenal. Pertama, perahu Bidar berprestasi. Perahu ini memiliki panjang 12,70 meter, tinggi 60 cm, dan lebar 1,2 meter. Jumlah pendayung 24 orang, terdiri dari 22 pendayung, 1 juragan serta 1 tukang timba air. Perahu ini dapat dilihat setiap 17 Juni, bertepatan dengan hari jadi kota Palembang.

Jenis kedua, perahu Bidar tradisional. Perahu ini memiliki panjang 29 meter, tinggi 80 cm, dan lebar 1,5 meter. Jumlah pendayung 57 orang, terdiri dari 55 pendayung, 1 juragan perahu serta 1 tukang timba air.

Pada setiap pagelaran Festival Bidar ini, ribuan orang menontonnya. Baik saat ulang tahun kota Palembang maupun HUT Kemerdekaan RI. Para penonton menyaksikan festival tersebut dari kedua sisi sungai Musi dan dari jembatan Ampera.

Yang Khas dari Palembang

  • Julukan: Venice of the East (“Venesia dari Timur”) atau Kota Air
  • Kerajaan Masa Lalu: Kerajaan Sriwijaya
  • Bahasa: Komering, Rawas, Musi, dan Lahat
  • Etnis: Melayu
  • Kesenian: Dul Muluk, Syarofal Anam
  • Lagu Daerah: Melati Karangan, Dek Sangke, Cuk Mak Ilang, Dirut, Ribang Kemambang
  • Rumah Adat: Rumah Limas, Rumah Rakit

 

(Just For Kids/EF, Foto: Istimewa)

You may also like
Latest Posts from

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *