Penyesalan Cica

“Mama, aku jijik ada cacing…!!” teriak seorang gadis cilik sambil berlari dari halaman rumahnya. Ia terus berlari menuju Ibunya yang sedang berada di depan pintu rumah.

“Hiks.. hiks.. hiks, kenapa anak gadis itu takut melihat aku?!” ujar Cica si cacing tanah yang merasa sedih. “Berarti aku memang jelek dan menjijikkan bagi manusia ya!” gumam Cica sambil bersembunyi kembali di dalam tanah.

Sejak kejadian itu, Cica lebih banyak menyendiri dan murung. “Aku menyesal menjadi cacing,” keluhnya kepada diri sendiri. “Aku lebih baik berdiam diri saja di dalam tanah,” tekad Cica.

Sudah berhari-hari, Cica tak pernah keluar dari dalam tanah. Ia juga tidak banyak melakukan kegiatan di dalam tanah. Selama itu pula, Cica bertambah sedih dan murung.

“Hei, Cica!” terdengar suara yang cukup keras. Cica mencari darimana asal suara yang memanggil namanya itu. “Cica, aku ada di atasmu,” lagi-lagi suara itu terdengar keras.

Cica akhirnya mengintip dari lubang di dalam tanah. Ternyata Upu, si kupu-kupu yang sedari tadi memanggil Cica. “Oh kamu, Upu,” jawab Cica dengan wajah murung. “Kamu kenapa, kok murung?” tanya Upu yang penasaran melihat sahabatnya itu.

“Kamu juga tak pernah kelihatan selama beberapa hari ini,” kata Upu. “Kamu ke mana saja?” tanya Upu lagi.

Wajah Cica masih terlihat sedih dan murung. “Aku tidak kemana-mana kok,” jawab Cica. “Lalu kamu kenapa murung dan sedih seperti itu?” tanya Upu yang masih saja penasaran.

“Ayolah, katakan kepadaku kenapa? Aku kan sahabatmu,” Upu kembali bertanya.

“Aku menyesal menjadi cacing!” jawab Cica singkat. “Beberapa hari lalu, ada gadis cilik yang jijik dan takut melihat aku,” tambah Cica.

“Aku merasa buruk rupa karena ketakutan gadis cilik itu,” tutur Cica menjelaskan. “Aku iri padamu, Upu. Kamu terlihat indah dengan warna-warna yang ada di sayapmu itu, dan pasti anak-anak suka melihat tubuhmu itu,” ungkap Cica.

“Haha…hahaha…,” Upu langsung tertawa lebar setelah mendengarkan penjelasan Cica.

Cica kebingungan. “Tuh kan, kamu saja menertawakanku karena aku buruk rupa,” kata Cica.

“Aku bukan menertawakan tubuhmu, tapi seharusnya aku yang iri kepadamu, Cica,” kata Upu. “Cobalah kamu keluar dari dalam tanah dan lihat keadaan di sini,” ujar Upu.

Saat keluar dari dalam tanah, Cica langsung terkejut. Beraneka macam bunga layu dan mulai mengering. Begitu juga dengan tanaman lainnya yang mulai layu. “Kenapa bisa jadi begini, Upu?” tanya Cica. “Apa hujan tidak turun atau sinar matahari terlalu panas?” tanya Cica lagi.

“Beberapa hari ini, hujan turun teratur dan sinar matahari juga tidak terlalu panas, kok,” jawab Upu dengan santainya. “Apa karena tidak diurus oleh ibu pemilik rumah?” Cica tak berhenti bertanya.

“Ibu pemilik rumah juga rajin mengurusi bunga-bunganya,” ungkap Upu. “Lalu kenapa bisa terjadi seperti ini?” tanya Cica.

“Cica, tanaman dan bunga-bunga ini tidak hanya membutuhkan perawatan, air, dan panas matahari yang cukup saja,” ujar Upu. “Tapi mereka juga membutuhkan tanah yang gembur agar tumbuh dengan baik,” jelas Upu.

“Nah, sekarang bagaimana tanah ini mau gembur kalau kamu sebagai cacing tanah tidak melakukan kegiatan sama sekali di dalam tanah?!” kata Upu.

Perkataan Upu itu langsung menyadarkan Cica. Ia merasa menyesal telah mengabaikan pekerjaannya di dalam tanah. “Aku minta maaf, Upu,” kata Cica yang menyadari kesalahannya.

“Tidak usah meminta maaf, Upu,” jawab Upu dengan bijak. “Walaupun kamu terlihat kotor dengan tanah, aku justru iri kepadamu. Karena pekerjaanmu di dalam tanah sudah sangat berguna bagi tanaman dan bunga-bunga,” kata Upu.

Cica pun langsung bekerja menggemburkan tanah agar segala macam tanaman dapat tumbuh dengan baik.

Beberapa waktu kemudian, bunga-bunga kembali bermekaran dan tanaman pun tumbuh rindang. Gadis cilik anak dari ibu si pemilik rumah menghampiri sekumpulan tanaman itu. “Ibu, lihat bunga-bunganya kembali mekar dengan indah,” ujar gadis cilik sambil memanggil ibunya.

“Iya, tanahnya gembur karena cacing itu,” jawab sang Ibu menunjuk Cica yang berlumuran tanah tak jauh dari tempat mereka berdiri. “Iya, ternyata cacing itu berguna ya, terimakasih cacing,” timpal gadis cilik itu.

Upu dan Cica pun saling berpandangan penuh arti. Dua sahabat itu tersenyum dan kembali melakukan kegiatannya masing-masing. ( Cerita : JFK / Ilustrasi : Agung)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *