Lisa membelalak terkejut dan berdiri dengan cepat sehingga kursinya terjatuh. “AAAA!” Hendi menjerit. PRANG! Terdengar suara piring pecah. “Pe..penunggu pohon bambu!” seru Mbok Sem ketakutan. Wila yang tadi baru saja mengambil minuman, berlari masuk ke ruang makan. “Ada apa?!” tanya Wila khawatir.  “Kami melihat…hantu di tamanmu!” seru Hendi dan Lisa. “Hah?!” ujar Wila pucat. “Penunggu pohon bambu yang belakangan ini menghantui beberapa rumah, akhirnya datang dan menetap di taman kita, Non!” bisik Mbok Sem.

Wila, Lisa, Hendi, dan Mbok Sem yang ketakutan, akhirnya makan bersama di ruang tamu. Mereka tidak berani dekat-dekat dengan taman.

Setelah makan malam, Wila, Lisa, dan Hendi berbicara dengan serius. “Penunggu pohon bambu adalah hantu yang muncul beberapa minggu lalu setelah musibah waduk rusak. Hantu ini mendapat julukan penunggu pohon bambu karena selalu menghantui pohon bambu…Mbok Sem sudah meminta padaku untuk memotong pohon bambu di taman, tetapi aku tidak mau karena pohon bambu sangat indah. Lagipula, papa dan mama pasti tidak setuju!” jelas Wila.

“Kita harus mengusir hantu itu!” kata Hendi yang akhirnya mengumpulkan keberanian. Melihat tekad Hendi, Lisa ikut bersemangat dan tidak takut lagi. “Hendi benar! Hantu tidak akan mengganggu orang yang berani!” kata Lisa. “Aku sangat senang kalian mau menemaniku di sini untuk menghadapi hantu itu…,” kata Wila terharu. “Kita kan teman-temanmu! Saat susah dan senang, kita selalu bersama!”  seru Lisa dan Hendi.

Lisa, Wila, dan Hendi pergi ke taman, bersiap untuk mengusir si hantu penunggu pohon bambu. Mereka berjalan diam-diam agar tidak membangunkan Mbok Sem yang sudah tidur.

“Hei hantu, keluar kau!” seru Wila dan Lisa di tengah taman. Hendi berjaga dengan memegang tongkat pramuka, melindungi kedua temannya jika si hantu menyerang.

Beberapa saat ditunggu, keadaan tetap sunyi. Tidak ada tanda-tanda kehadiran si hantu. “Ayo, keluarlah! Kami tidak takut padamu!” kata Wila dan Lisa lagi.

SRAK! Tiba-tiba, terdengar sebuah suara dari sebelah kanan Wila, Hendi, dan Lisa. Lisa segera mengarahkan senternya ke arah suara itu. Dua mata besar dan lugu memandang lurus pada tiga sekawan yang terkejut.

“Haaaa?!” seru Wila, Hendi, dan Lisa terheran-heran! Ternyata, penunggu pohon bambu bukanlah hantu, melainkan… “Seekor kukang Jawa!” tandas Lisa.

Keesokan harinya di sekolah. “Ternyata, kukang Jawa itu lari dari pemiliknya sewaktu waduk Hijau rusak. Dan sekarang, kukang itu sudah dibawa oleh pihak yang berwajib. Kukang Jawa merupakan hewan langka yang dilindungi, karena itu, dia tidak boleh dijadikan binatang peliharaan!” kata Wila saat istirahat siang ketika bercerita tentang penunggu pohon bambu pada teman-teman sekelasnya.

Teman-teman sekelas Wila bertepuk tangan senang. Lisa dan Hendi yang mendengarkan dari meja belakang kelas, ikut bertepuk tangan. “Pengalaman kita sangat seru, ya?” kata Hendi tersenyum senang. “Kukang Jawa memang suka tinggal di pohon bambu, jadinya, dia dikira hantu,” ujar Lisa terkekeh.

“Ternyata, kabar bahwa Perumahan Hijau itu sangat angker, tidak benar. Kita tidak bertemu hantu, tuh!” kata Hendi percaya diri. “Jadi, kau sudah cukup berani untuk menonton Pemburu Hantu?” tanya Lisa sambil tersenyum lebar. “Te..tentu saja!” ucap Hendi yang tampak ragu. Lisa pun tertawa.

 

(Selesai)

 

Cerita: Seruni   Ilustrasi: JFK

You may also like
Latest Posts from Majalahjustforkids.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *