“Selamat pagi!” ujar Lisa menyapa Hendi yang sedang membuka kotak bekalnya untuk makan siang. “Pagi, Lisa!” kata Hendi  sambil mengambil satu telur dadar gulung dan melahapnya.  Lisa menggelengkan kepalanya. “Bekal makan siang itu dimakan nanti, waktu istirahat siang!” kata Lisa.

“Sarapanku kurang! Harusnya satu piring nasi lagi. Aku tadi hanya makan 5 roti,” keluh Hendi. “Ya ampun, kamu ini rakus apa lapar?” ucap Lisa sambil menggaruk kepalanya bingung.

“Selamat pagi semua!” tiba-tiba terdengar sebuah suara yang mengejutkan Lisa dan Hendi. “Wila!” seru Lisa dan Hendi senang. Wila adalah sahabat Lisa dan Hendi. Baru-baru ini, Wila mengalami musibah. Waduk Hijau yang ada di dekat kompleks perumahannya rusak. Tembok waduk itu retak dan airnya membanjiri daerah sekitar.

“Bagaimana keadaan rumahmu? Aku kira masih banjir! Habis kamu tidak bilang-bilang kalau mau masuk sekolah hari ini,” kata Lisa. “Yang tertutup banjir hanya jalan menuju kompleks perumahanku saja. Sekarang airnya sudah surut. Rumahku tidak apa-apa,” jelas  Wila.

“Syukurlah!” kata Lisa dan Hendi lega. “Eh, hari Sabtu ini kita belajar bersama dan menginap di rumahku, yuk! Aku kesepian nih. Papa dan mamaku sedang dinas di luar kota,” ujar Wila. “Ayuk, kita mau!” seru Lisa dan Hendi semangat.

Hari Sabtu pun tiba. Lisa dan Hendi sudah berada di rumah Wila. “Sudah lama aku tidak ke rumahmu, Wila. Makin bagus saja daerah sekitarnya,” ujar Lisa dari beranda lantai dua rumah Wila. Kompleks Perumahan Hijau  tempat Wila tinggal, memang dibangun di daerah perbukitan, jadi, pemandangannya sangat indah.

“Ah, kau bisa saja, Lisa! Di sini itu, kalau mau cari makanan dan belanja susah banget. Pusat perbelanjaannya jauh. Kalau rumahmu dan Hendi kan enak dekat mall! Aku lebih suka begitu!” kata Wila. “Wah, kalau rumah dekat dengan pusat perbelanjaan, jadinya macet terus!” gerutu Lisa. “Aku sih lebih memilih macet, daripada banyak hantu!” kata Hendi tiba-tiba. “Apa maksudmu, Hendi?” tanya Lisa bingung.

“Kata orang, Perumahan Hijau ini banyak hantunya!” jelas Hendi pada Lisa. “Iya, Perumahan Hijau sudah dua kali menjadi lokasi syuting acara Pemburu Hantu. Ada dua rumah yang sangat mengerikan di sini,” timpal Wila. “Tapi, bukan rumahmu kan, Wila?” tanya Hendi gelisah. “Hahaha! Takut ya? Bukan rumahku, kok! Walaupun Mbok Sem yang pernah jaga rumahku sendirian ketika kami sekeluarga sedang pergi, pernah melihat sosok putih di ruang tamu,” kata Wila. “Bohong, ah!” seru Hendi.

“Terus, ada yang bilang, bahwa hantulah yang merusak waduk Hijau! Asal tahu saja, dulunya, daerah ini adalah hutan lebat yang penuh dengan makhluk gaib,” cerita Wila. “Aku yakin, pasti para makhluk gaib itu marah karena hutan mereka dijadikan tempat tinggal!” ujar Hendi dan Lisa. Wila pun mengangguk. “Entahlah, cerita  itu benar atau tidak!” kata Wila kemudian.

Lisa, Hendi, dan Wila lalu belajar bersama. Pukul 6 sore, Mbok Sem mengetuk ruang belajar Wila. “Non Wila, makan malamnya sudah siap! Ada ikan lele tuh!” kata Mbok Sem. “Terima kasih, Mbok Sem! Ayo, kita makan!” ajak Wila. “Horeee!” seru  Lisa dan Hendi yang sudah lapar.

Ruang makan di rumah Wila besar dan nyaman, dengan pemandangan taman yang ditumbuhi pohon bambu. “Bagusnya!” seru Lisa ketika dia duduk dan memandangi taman bambu. “Gelap! Tidak kelihatan apa-apa!” seru Hendi yang ikut melihat taman.

Tiba-tiba, sepasang bulatan bersinar di kegelapan di antara pohon bambu.

 

(Bersambung)

Cerita: Seruni    Ilustrasi: JFK

You may also like
Latest Posts from Majalahjustforkids.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *