Pentingnya Terapi Wicara Paska Operasi Celah Bibir dan Langit Sumbing

Tak semua anak-anak terlahir sempurna, contohnya mereka yang terlahir dengan celah bibir dan langit. Kondisi ini, mengharuskan mereka harus menjalani operasi dan terapi wicara setelahnya.

“Celah bibir dan langit adalah kondisi dimana terdapat celah di antara rongga mulut dan rongga hidung akibat ketidaksempurnaan proses penyatuan bibir dan langit-langit pada masa perkembangan janin,” demikian buka drg.Andi S Budihardja, SpBM(K), dokter spesialis bedah mulut pada acara media edukasi yang diadakan oleh Smile Train – organisasi nirlaba terbesar di dunia, yang memberikan operasi perbaikan celah bibir dan langit – beberapa waktu lalu.

Kondisi adanya celah tadi, dikenal juga dengan istilah bibir sumbing. Nah, untuk memperbaiki keadaan tersebut, operasi adalah tindakan medis paling utama. Sebab, anak dengan kondisi celah bibir dan langit-langit akan mengalami gangguan secara estetik, gangguan minum dan makan sehingga nutrisinya bisa tidak terpenuhi, gangguan tumbuh kembang, gangguan bicara, gangguan pertumbuhan rahang dan gigi, infeksi telinga, hingga gangguan psikologis.

Itulah sebabnya, perawatan dan terapi paska operasi juga perlu dilakukan agar mampu mencapai tampilan dengan bekas luka minimal dan mengembalikan fungsi anggota tubuh. “Salah satunya adalah memperbaiki fungsi bicara lewat rangkaian terapi,” lanjut drg. Andi.

Ya, terapi wicara sangat disarankan diberikan kepada pasien untuk meningkatkan kemampuannya dalam berkomunikasi dan membangun kepercayaan diri. “Percuma saja kalau hasil operasinya bagus, tapi tidak dilanjutkan dengan terapi wicara, anak bisa susah bicara normal, misalnya suara sengau, dan lain-lain. Hal ini bisa berdampak secara psikologis juga. Apalagi setelah dia bersekolah, anak akan malu kalau disuruh bicara di depan kelas, dan sebagainya,” ujar Ibu Rita Rahmawati, S.Pd, SST.TW, M.P.H, terapis wicara.

Nah, terapi wicara ini, dapat dilakukan setidaknya 2 minggu setelah operasi apabila pasien dinyatakan sehat dan mampu mengikuti rangkaian terapi, serta mendapat persetujuan dari dokter terkait.

Latihan-latihan yang diberikan pada setiap pasien pun, akan berbeda, bergantung pada kebutuhannya. “Namun, pada umumnya terapi wicara dilakukan agar pasien dapat mengembangkan keterampilan artikulasi, mempelajari keterampilan bahasa ekspresif, meningkatkan pengucapan huruf dan konsonan, serta meningkatkan perbendaharaan kata. Lamanya terapi juga akan disesuaikan dengan kemampuan pasien tersebut,” terangnya.

(Kiri-Kanan) Bunga Jelitha, Brand Ambassador Smile Train Indonesia; Deasy Larasati, Program Director & Country Manager Smile Train Indonesia; drg. Andi S Budihardja, SpBM(K), Dokter Spesialis Bedah Mulut; Rita Rahmawati, S.Pd, SST.TW, M.P.H, Terapis Wicara; Adesti Nurul Safira, pasien sumbing dan terapi wicara; Orangtua dari Adesti Nurul Safira pada acara Media Gathering mengenai Perawatan Komprehensif Operasi Bibir dan/atau Langit Sumbing

Salah satu yang sudah merasakan dampak positif hasil operasi bedah celah bibir dan langit-langit adalah Kak Adesti Nurul Safira (19), mantan pasien sumbing dan terapi wicara. Kak Desti, demikian ia disapa, saat ini sudah kuliah, Kids. Wajah manis dara berkerudung ini tak menyisakan sedikit pun jejak-jejak sumbing. Hasil operasinya tampak sempurna. Dan, yang lebih istimewa, ia pun mampu berbicara normal. Setiap kata yang keluar dari bibirnya, terucap dan terdengar sempurna. Ia sendiri mengaku, banyak yang tak mengira bahwa ia dulunya adalah pasien bibir sumbing.

Kak Desti, terlahir dengan kondisi bibir sumbing. Ia mengaku sempat mengalami bullying saat menginjak sekolah. “Pertama kali saya tahu bahwa saya memiliki kekurangan ini setelah saya agak besar. Saya ngalami yang namanya di-bully, diejek, sering banget, sampai kelas 1 SD. Saya dibilang monster sama teman-teman sekolah. Saya pulang dan nangis, kenapa saya jelek. Saya sempat nggak mau sekolah,” katanya seraya terisak.

Beruntung, Kak Desti memiliki orangtua yang sangat perhatian. Mereka tak henti-hentinya memberikan motivasi bahwa ia adalah anak yang spesial. Mereka membanting tulang agar  Kak Desti bisa dioperasi dan melewati berbagai rangkaian terapi, salah satunya terapi wicara.

Adesti Nurul Safira, pasien sumbing dan terapi wicara

Dan, kini, Kak Desti bisa merasakan manfaatnya. Ia bisa berbicara normal, tanpa cadel maupun sengau.

“Waktu itu saya usia 17 tahun dan semua (rangkaian) terapi saya sudah beres. Saya bingung mau melanjutkan sekolah kemana, terus konsultasi ke Bu Rita. Dan, akhirnya saya mengikuti jejak beliau,” katanya tersenyum. Gadis yang kini menjadi mahasiswi di Solo dan mengambil bidang terapi wicara ini, ingin membantu anak-anak lain yang dulu mengalami nasib yang sama dengannya.

Ya, untuk diketahui, di Indonesia sendiri, angka kejadian bayi yang terlahir dengan kondisi celah bibir dan langit adalah 1 banding 600. Artinya, di antara 600 bayi yang lahir, 1 di antaranya terlahir dengan celah bibir/langit. Masih cukup tinggi.

Kalau dulu, zamannya Kak Desti, belum banyak organisasi seperti Smile Train, yang membantu memberikan operasi dan perawatan paska operasi pada anak-anak penderita bibir sumbing, secara gratis.

Beroperasi sejak tahun 2002 di Indonesia, Smile Train Indonesia telah membantu lebih dari 80.000 masyarakat untuk mendapatkan perawatan celah komprehensif yang aman, berkualitas dan konsisten.

“Smile Train ingin memberi anak-anak dan keluarganya akses terhadap layanan berkualitas setiap harinya. Kami memastikan para mitra yakni dokter bedah, ahli anestesi, perawat, ortodontis, terapis wicara, nutrisionis, dan tenaha ahli lainnya mendapatkan pendidikan dan pelatihan dengan tujuan memastikan pasien-pasien Smile Train selalu mendapat perawatan terbaik dan berkualitas,” tutup Ibu Deasy Larasati, Program Director dan Country Manager Smile Train Indonesia.

Foto: dok. Smile Train

You may also like
Latest Posts from Majalahjustforkids.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *