Rasanya senang ya Moms jika memiliki interaksi yang baik dengan si buah hati? Namun tantangan menjadi orangtua yang tampak tak ada habisnya, terkadang membuat bingung bahkan frustrasi. Terlebih bila memiliki anak usia sekolah dasar hingga remaja.

Ya, pola pengasuhan anak yang tepat khusus di usia rentan, 6-14 tahun, memerlukan peran aktif orangtua. Pasalnya, pada usia tersebut, bisa dibilang anak berada pada fase transisi dan pencarian jati diri. Pendampingan orangtua sangat diperlukan guna mendampingi anak hingga tumbuh menjadi pribadi lebih baik, dari segi fisik maupun mental. Di sini, orangtua membutuhkan kesabaran ekstra serta edukasi dan komunikasi yang baik.

Orangtua mungkin pernah mengalami adu pendapat ataupun pertengkaran dengan anak. Konflik sebenarnya adalah hal wajar, selama konflik yang terjadi segera terselesaikan. Namun, tak jarang banyak terjadi, konflik justru semakin meruncing dan berujung pada kerenggangan hubungan karena orangtua sulit melakukan pendampingan, edukasi atau komunikasi dengan anaknya. Masalah ini tak hanya banyak ditemui dalam keluarga yang tinggal di perkotaan saja, namun juga di desa. Justru, di desa, orangtua kurang mendapatkan pengetahuan mengenai pola asuh yang tepat.

Program Childfund dan YPSK-LDA

Nah, untuk menjawab kebutuhan orangtua yang mengalami kesulitan tersebut, ChildFund International di Indonesia dan mitranya Yayasan Pembinaan Sosial Katolik-Lembaga Dana Atmaja (YPSK-LDA) memperkenalkan Program Pengasuhan Positif (Positive Parenting).

Sejak Januari 2017, ChildFund dan YPSK-LDA telah menjalankan Program Pengasuhan Positif (Positive Parenting) di wilayah dampingan YPSK-LDA di Lampung, Sumatera Selatan

Diuraikan oleh Candra Dethan, Partnership Portfolio Manager ChildFund,  Pengasuhan Positif adalah keterampilan dan tanggungjawab orangtua dalam mendidik, merawat serta membangun hubungan yang kuat dengan anak agar anak dapat mengembangkan sifat-sifat positif. Pengasuhan positif tidak mengarah pada pengasuhan yang sempurna, lebih berfokus pada pengasuhan yang “tulus” untuk menerima perasaan orangtua dan perasaan anak apa adanya, serta kemampuan untuk menyampaikan kebutuhan orangtua dan memahami kebutuhan anak.

“Program Pengasuhan Positif (Positive Parenting) ini diperuntukkan untuk orangtua dan anak usia sekolah mulai 6 hingga 14 tahun, yang merupakan salah satu periode dimana seringkali terjadi anak mulai berkonflik dengan orangtua.  Sejak Januari 2017, ChildFund dan YPSK-LDA telah menjalankan Program Pengasuhan Positif di wilayah dampingan YPSK-LDA di Lampung, Sumatera Selatan,” kata Candra dalam acara media gathering “Program Pengasuhan Positif Childfund International di Indonesia bersama YPSK-LDA”, Kamis (02/06).

Komunikasi dan Disiplin

Pengasuhan positif bertumpu pada dua keterampilan utama, yakni komunikasi efektif (saling memahami situasi dan kondisi orangtua dan anak) serta disiplin positif (membentuk perilaku anak tanpa kekerasan). Salah satu contohnya adalah seringkali dalam keluarga orangtua hanya mau didengar, kurang mau mendengar anak atas nama semua demi kebaikan anak. Kondisi ini yang diubah dengan kemampuan mendengarkan aktif, bagaimana orangtua berlatih untuk mendengarkan suara anak dan mencapai kompromi.

Sejak Januari 2017, ChildFund dan YPSK-LDA telah menjalankan Program Pengasuhan Positif (Positive Parenting) di wilayah dampingan YPSK-LDA di Lampung, Sumatera Selatan. Program parenting oleh Childfund tidak hanya dilakukan di Lampung melainkan juga 32 kabupaten lainnya di Indonesia

Contoh lainnya adalah bagaimana sikap orangtua cenderung mengatur anak dengan melarang, berkata “jangan”, yang semua itu justru akan membuat anak bingung tentang apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan. Jadi dengan disiplin positif, orangtua berlatih membuat aturan positif, yaitu menyampaikan langsung apa yang orangtua ingin anak lakukan. Contohnya, dibandingkan mengatakan “jangan bertengkar”, orangtua dapat mengganti dengan kata “sayangi adikmu”.

Jangkau 1500 Anak dan Orangtua

Pada kesempatan yang sama, Agustinus Subagiyo, Koordinator Program YPSK-LDA mengungkapkan bahwa selama tiga tahun, lebih dari 1.500 orang (anak dan orangtua) telah menerima manfaat program Pengasuhan Positif di wilayah Lampung. Program ini sudah direplikasi ke wilayah desa lain serta mampu disinergikan ke dalam program desa serta mendapatkan alokasi anggaran dari pemerintah desa.

Program Pengasuhan Positif kami mampu mengadvokasi pemerintah lokal dalam memberikan dukungan penuh kepada masyarakat. Program ini kami inisiasi untuk membuat perubahan pada pola asuh orangtua terhadap anak, dengan metode Pengasuhan Positif. Dengan adanya replikasi program melalui anggaran desa, akan memperluas jangkauan masyarakat yang menerima manfaat program ini,” paparnya.

Permasalahan di Lapangan

Dituturkan oleh Wishnu Jatmiko, Partnership Portfolio Officer ChildFund, target yang ingin dicapai pada tahun 2021 adalah mengupayakan agar program pengasuhan positif  (target anak usia 6-14 tahun) maupun pengasuhan responsif (target anak usia 0-5 tahun) bisa bersinergi dengan program pemerintah, yakni pemerintah Lampung maupun pemerintah setempat di wilayah pendampingan YPSK – LDA yakni Kabupaten Lampung Selatan, Kabupaten Lampung Timur dan 13 desa.

Khusus pada program Pengasuhan Positif, ia mengaku banyak sekali permasalahan orangtua dan anak yang ditemui di lapangan. “Salah satunya adalah bagaimana anak-anak saat ini sangat lekat dengan gadget, dimana anak-anak saat bangun tidur saja sudah memegang gadget, dan hal ini tak bisa dipandang sepele. Dalam program pengasuhan positif, yang ditekankan bukan pada pelarangan pemakaian gadget. Jadi orangtua bukan bilang “kamu tidak boleh pakai gadget” melainkan menerapkan komunikasi positif dengan anaknya agar gadget ini bisa memberikan kontribusi positif kepada mereka,” katanya.

Proses Pengasuhan Positif dilakukan dalam bentuk piloting yakni skala kecil sekitar 20 orang dalam satu kelompok di suatu desa. Rutinitas kelas pengasuhan dilakukan sekitar 2 kali sebulan selama 3 tahun

Ditambahkan oleh Agustinus Subagiyo, selain masalah gadget banyak permasalahan lain yang ditemui di lapangan. “Misalnya saja sering terjadi konflik antara anak dan orangtua, bagaimana cara mendisiplinkan anak tanpa kekerasan, bagaimana orangtua dapat memahami di mana area masalah orangtua dan di mana area masalah anak. Intinya, orangtua dibekali dengan arti pengasuhan, apa tujuan jangka pendek dan jangka panjang, orangtua juga diajak memahami pikiran dan perasaan anak,” katanya.

Sistem Pelatihan dan Modul

Untuk mengaplikasikan program Pengasuhan Parenting ini, dituturkan oleh Wishnu, Childfund melakukan strategi modul Training of Trainer (ToT). “Kita akan memberikan pelatihan kepada calon pelatih (Trainer), yang nantinya akan memberikan pelatihan juga kepada para fasilitator. Nah, fasilitator inilah yang akan terjun ke masyarakat untuk memberikan kelas-kelas pengasuhan di wilayah dampingan YPSK-LDA,” imbuhnya.

Candra menambahkan, para fasilitator itu terdiri dari orang-orang yang memiliki ketertarikan dan kapasitas memadai untuk mendampingi orangtua ataupun pengasuh dalam mendapatkan informasi yang lebih mendalam tentang pengasuhan. “Pembekalan pengasuhan ini tidak dikhususkan kepada ibu-ibu saja, melainkan pengasuh yakni siapapun yang lebih banyak menghabiskan waktu dengan anak, misalnya neneknya, asisten rumah tangga, tente si anak, dan sebagainya,” tutup Candra. Diharapkan, program pengasuhan positif ini bisa memberikan perubahan perilaku yang positif bagi anak maupun orangtua.

Lebih lanjut, Candra mengungkapkan bahwa ChildFund Indonesia telah membuat, menguji, dan mengimplementasikan modul Pengasuhan Positif dan Pendidikan Kecakapan Hidup & Literasi Keuangan dalam waktu tiga tahun untuk memastikan kualitas, relevansi, dan sesuai dengan budaya lokal dalam merespona kebutuhan masyarakat saat ini (Education 4.0 dan Caregiving 4.0). Sejak 2016, modul telah digunakan untuk membekali sekitar 50 Master of Trainers yang kemudian mentransfer keterampilan mereka kepada lebih dari 2.500 fasilitator masyarakat/orangtua/pengasuh di Jakarta, Bogor, Semarang, Cilacap, Banyumas, Wonogiri, Kulonprogo, Bantul, Kupang, TTU, TTS, Malaka, Belu, Sumba Barat Daya, Sumba Timur, Sikka, Flores Timur, dan Ende.

Untuk diketahui, ChildFund International hadir di Indonesia sejak tahun 1973 dan telah menjalankan berbagai program yang berfokus pada anak. Saat ini ChildFund bekerja bersama 15 mitra lokal dari wilayah barat hingga timur Indonesia. Program yang dijalankan antara lain Perlindungan Anak, Pendidikan dan Kecakapan Hidup, Pengasuhan, Kesiapan Kerja, Advokasi dan Respons Kemanusiaan.

Foto: Istimewa

You may also like
Latest Posts from Majalahjustforkids.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *