Sebagai Ibu baru, Mom Binar Tika, seorang Moms Influencer masih bingung saat anak pertamanya mengalami gangguan pencernaan berupa konstipasi/sembelit (susah buang air besar). Awalnya, ia mengira bahwa hal itu biasa terjadi pada anak-anak. Namun, ia heran karena kejadian itu selalu berulang dalam jangka waktu lama. Dan jika diperhatikan, anaknya juga menjadi lebih rewel daripada biasanya.

Tak mau terjadi sesuatu hal yang tidak diinginkan yang bisa mengganggu tumbuh kembang sang anak, Mom Binar pun kemudian memutuskan untuk membawanya ke dokter anak. “Dokter bertanya, gejala konstipasi biasanya muncul setelah anak diberi makan atau minum apa? Saya baru sadar bahwa anak saya mengalami konstipasi setelah ia diberi susu sapi atau makan makanan yang mengandung protein susu sapi. Menurut dokter, anak saya mengalami ASS (alergi susu sapi). Ternyata, konstipasi yang saya kira hanya karena disebabkan oleh gangguan pencernaan biasa, salah. Penyebabnya adalah karena alergi susu sapi. Sebagai orangtua yang memiliki anak dengan ASS, akan sangat membantu jika ada alat yang dapat mendeteksi alergi saluran cerna, sehingga orangtua lebih waspada dan anak mendapat penanganan yang tepat,” ucap Mom Binar.

Sebagai Ibu, tindakan Mom Binar sangatlah tepat. Memang, kesehatan saluran pencernaan merupakan hal mendasar yang perlu diperhatikan. Sebab, saluran cerna yang sehat akan membuat penyerapan gizi dan kekebalan tubuh si Kecil menjadi lebih baik, sehingga tidak mudah sakit. Apalagi seperti kita ketahui bahwa 80 persen sistem kekebalan tubuh itu terdapat dalam saluran pencernaan.

Gangguan saluran pencernaan, salah satunya memang bisa disebabkan karena alergi. Dan untuk diketahui, angka kejadian alergi makanan pada anak di Indonesia, khususnya alergi susu sapi (ASS) terus meningkat. Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mencatat angka kejadian ASS sebesar 2-7,5 % dengan kasus tertinggi terjadi pada usia awal kehidupan si Kecil.

Gejala alergi umumnya terjadi pada saluran pernapasan, kulit, serta saluran cerna. Gangguan di saluran cerna sendiri menjadi gejala alergi paling tinggi yaitu sebanyak 50-60% misalnya berupa konstipasi  seperti yang dialami oleh anak Mom Binar. Inilah yang membuat kita harus memahami dan mengenali gejala alergi pada si Kecil agar mendapat penanganan yang tepat sehingga asupan nutrisi anak tetap terpenuhi dan tidak menghambat tumbuh kembang anak.

Memahami hal tersebut, pada Rabu, 13 Oktober 2021, Danone Specialized Nutrition Indonesia mengadakan seminar digital dengan tema “Gejala Alergi Saluran Cerna VS Gangguan Saluran Cerna Fungsional: Cara Membedakannya”. Kegiatan ini dilakukan guna memperkuat edukasi bagi para orangtua mengenai pentingnya mengenali gejala alergi terutama pada saluran cerna si Kecil dan penanganan yang tepat untuk mengoptimalkan tumbuh kembangnya agar si Kecil tumbuh menjadi anak hebat.

“Memang benar, saluran cerna yang sehat sangat berpengaruh terhadap kesehatan dan tumbuh kembang si Kecil. Oleh karena itu, perlu dideteksi secara dini agar tumbuh kembang si Kecil tetap optimal. Kita tidak bosan-bosannya terus mengampanyekan karena setiap 1 menit ada 18 bayi yang lahir, itu banyak sekali. Sehingga orangtua-orangtua ini perlu dibantu dalam mengoptimalkan tumbuh kembang anak-anaknya terutama di 1000 hari kehidupan pertamanya dimana merupakan masa yang kritikal. Tumbuh kembang manusia itu sangat dipengaruhi oleh asupan makanannya dimana akan diproses di saluran cerna, dan hal itu akan mempengaruhi seluruh kehidupannya. Mari kita dukung anak-anak Indonesia dengan kemampuan masing-masing sehingga anak Indonesia bisa tumbuh kembang optimal menuju Indonesia maju di 2045,” ajak Corporate Communications Director Danone Indonesia, Arif Mujahidin.

“Seminar digital ini merupakan bagian dari kegiatan Bicara Gizi yang rutin dilakukan oleh Danone Specialized Nutrition Indonesia sebagai sarana edukasi bagi para orangtua dengan berbagai topik nutrisi dan tumbuh kembang anak. Melalui topik hari ini, kami berharap para orangtua lebih memahami tentang pentingnya mengenali perbedaan gangguan saluran cerna sebagai gangguan fungsional atau karena alergi sebagai langkah pencegahan dini sehingga orangtua dapat mendukung proses tumbuh kembang si Kecil tetap optimal. Untuk itulah kita juga luncurkan Allergy-Tummy Checker untuk deteksi dini dan mempermudah orangtua dalam membedakan gejala gangguan saluran cerna yang disebabkan oleh alergi atau hanya gangguan saluran cerna biasa,” tambah Bapak Arif.

Dokter Spesialis Anak Konsultan Gastro Hepatologi dr. Frieda Handayani Sp.A (K) menjelaskan bahwa saluran cerna pada anak masih rentan, antara lain karena organ saluran cerna belum berfungsi sempurna, oleh karenanya saluran cerna seringkali mengalami gangguan seperti konstipasi.  Selain itu, gangguan saluran cerna pada anak juga dapat merupakan manifestasi alergi, seperti alergi susu sapi. “Pada umumnya, orangtua sulit membedakan apakah gangguan saluran cerna yang dialami anak disebabkan karena gangguan fungsional atau merupakan manifestasi alergi. Padahal, penting sekali untuk dapat mengenali penyebab gangguan saluran cerna tersebut karena membutuhkan penanganan yang berbeda,” ujar dr. Frieda.

Gangguan Saluran Cerna karena Alergi

Gangguan saluran cerna yang disebabkan karena alergi, pada umumnya juga disertai dengan gejala alergi lainnya yang terjadi pada kulit ataupun saluran pernapasan. “Gangguan saluran cerna dapat menyebabkan terganggunya asupan nutrisi pada anak sehingga bila tidak ditangani dengan tepat dapat menyebabkan terhambatnya tumbuh kembang si Kecil. Sedangkan penyakit alergi dapat memberikan dampak negatif jangka panjang sehingga mengganggu kualitas hidup dan tumbuh kembang si Kecil. Oleh karena itu, tindakan promotif dan preventif sejak dini menjadi hal sangat penting untuk mengatasi penyakit alergi,” jelas dr. Frieda.

Dikatakan dr. Frieda, saluran cerna selain sebagai pintu masuk nutrisi, juga bisa menjadi pintu masuk kuman sehingga harus dijaga betul. “Pada bayi dan anak di bawah usia 2 tahun, sangat rentan karena saluran cernanya belum sempurna. Saluran cerna bayi, mukosa atau selaput lendirnya masih jarang sehingga zat-zat asing bisa masuk melalui celah-celah mukosa dan menyerang sel-sel usus lalu masuk peredaran darah sehingga terjadi infeksi dan sakit. Nah, di atas usia 2 tahun sampai 7-8 tahun saluran cernanya sudah berkembang sempurna, mukosanya sudah rapat sehingga zat-zat asing sulit masuk. Saluran cerna sudah lebih matang dan kuat, antibodi juga sudah lebih baik,” jelas dr. Frieda.

Gut and Allergy Care Manager Danone Indonesia, Shiera Maulidya,  menyebutkan, ada fakta yang cukup mengejutkan di Indonesia dimana 6 dari 10 Ibu di Indonesia, tidak mengetahui gejala alergi pada si Kecil. “Oleh karena itu, di era serba digital seperti saat ini, Danone Specialized Nutrition Indonesia juga memperkuat komitmennya melalui inovasi berupa alat deteksi digital untuk membedakan gejala alergi dan gejala saluran cerna fungsional (FGID) pada si Kecil. Nah, mulai 1 November 2021 nanti kami hadirkan Allergy-Tummy Checker yang dapat diakses di www.bebeclub.co.id untuk mempermudah orangtua dalam membedakan gejala gangguan saluran cerna yang disebabkan oleh alergi atau hanya gangguan saluran cerna biasa. Para orangtua dapat mengetahui tata laksana yang diperlukan si Kecil untuk menghindari kondisi pemicu alergi, termasuk pada pemilihan nutrisi seimbang untuk si Kecil yang tidak cocok mengonsumsi susu sapi. Menjadi starting poin yang bisa dibawa ke dokter untuk mendapatkan rekomendasi lanjutan lebih tepat. Berbagai artikel pengetahuan dan edukasi juga kami sediakan. Wadah inovasi digital yang bisa dijadikan sebagai alat deteksi dini ini dapat diakses secara gratis karena tujuan utama kami memang adalah untuk membantu para Ibu di luar sana,” tandas Ibu Sheira.

Foto: Ist

You may also like
Latest Posts from Majalahjustforkids.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *