Guba adalah orang terkaya di pulau Neba. Ia memiliki peti berisi harta, juga rumah besar, kereta kuda, dan kapal layar. Sebelum menjadi orang kaya, Guba hidup miskin. Namun, ia memiliki bakat berharga, yaitu membuat kesenian dari kayu. ( Guba is the richest man in Neba Island. He has a chest full of fortune, a big estate, chariot, and a sailboat. Before he reached his wealth, Guba lived in poverty. But, he has a valuably talent, creating arts from wood. )

Pada suatu ketika, seorang pedagang melihat patung kayu buatan Guba. Pedagang itu menyukai patung tersebut dan membelinya. Kemudian, si pedagang memajang patung itu di rumahnya. Hingga suatu hari, seorang putri raja melihat patung itu. “Patung yang indah. Aku juga ingin memilikinya,” tutur sang putri kagum. Sang putri pun membeli semua kerajinan kayu Guba. Sejak saat itu, Guba menjadi kaya raya. ( Once upon a time, a merchant saw a wooden statue crafted by Guba. The merchant liked the statue and bought it. Then, the merchant displayed the statue in his house. One day, a royal princess saw the statue. “What a beautiful statue. I’d like to have it,” says the princess in amusement. The princess then buys all of Guba’s crafts. From then on, Guba became wealthy. )

Akan tetapi, Guba yang sudah diberkati dengan kekayaan menjadi malas dan pelit. Ia tidak pernah lagi membuat kerajinan kayu, dan tidak mau menolong orang dengan hartanya. Sejak tinggal di rumah besar, Guba menjadi curiga pada setiap orang. Ia selalu berpikir mereka mau mencuri kekayaannya. “Lebih baik peti hartaku dipendam di hutan saja. Dengan begitu, tidak ada yang bisa mencurinya,” pikir Guba. ( However, Guba that has been blessed by wealth became lazy and stingy. He would never make any wooden crafts and refuses to help others with his wealth. Since he lived in the big estate, Guba became suspicious of everyone. He always thinks that they want to steal his fortune. “I’d rather have my treasure chest buried in the forest. Then, no one will be able to steal it,” Guba thinks. )

Oleh karena itu, pada suatu malam, Guba membawa peti hartanya ke hutan. Di suatu tempat yang penuh dengan bunga, Guba mulai menggali lubang. Tiba-tiba, terdengar suara lantang menggema. “Beraninya kau merusak bunga-bungaku. Aku akan menghukummu!” seru seorang peri hutan, marah. “Lakukan apa saja, tapi jangan ambil kekayaanku!” pinta Guba. “Baik, kalau begitu, aku akan mengambil bakatmu,” tukas sang peri. ( Therefore, one night, Guba brought his treasure chest into the forest. In a place filled with flowers, Guba begins digging a hole. Suddenly, a loud voice echoes. “You dare ruin my flowers. I will punish you!” says an angry forest fairy. “Do whatever, but please don’t take my fortune!” Guba asks. “Well, then. I shall take your talent,” says the fairy. )

Suatu hari, terjadi bencana di pulau Neba. Gunung api di pulau itu meletus dan semua penduduknya meninggalkan pulau. Guba tidak sempat menyelamatkan kekayaannya. Dia tidak bisa menjual kerajinan kayu lagi karena bakatnya sudah hilang. ( One day, disaster struck Neba Island. The island’s volcano erupts and all of its inhabitants leave the island. Guba has no time to salvage his wealth. He could no longer sell wooden crafts because he has lost his talent.)

 

Cerita: Seruni    Ilustrasi: JFK     Translator: Yos

You may also like
Latest Posts from

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *