Penghuni Kebon Kosong

“Adit, ayo kita pulang! Sebentar lagi Maghrib, pamali kalau kita masih main di luar,” ujar Bayu setengah berteriak sambil berjalan di belakang Adit. “Pamali apaan, sih? Kita ke kebon ini, kan mau membuktikan apakah benar ada hantunya atau tidak,” timpal Adit dengan tenang.

Kedua sahabat ini berjalan menuju kebon kosong tak jauh dari pemukiman warga. Sesampainya di kebon, suasana begitu hening dan mencekam. Hanya ada suara dedaunan di pohon yang tertiup angin. “Nah, katanya di pohon ini ada ‘penghuni’nya,” bisik Adit sambil menunjuk sebuah pohon beringin besar yang rindang. “Sudah, yuk, kita pulang. Aku takut!” ucap Bayu dengan raut wajah ketakutan. “Kamu penakut sekali, sih. Tenang saja, yang namanya hantu itu nggak ada,” kata Adit sedikit sombong. Adit pun melihat ke atas pohon berusaha mencari penampakan ‘penghuni’ kebon kosong.

Tiba-tiba, ranting dan dedaunan di atas pohon bergerak kencang. “Bayu, lihat! Ada yang bergerak-gerak di atas sana,” ujar Adit sembari menunjuk ke atas pohon. “Jangan-jangan itu hantu!” kata Bayu yang semakin ketakutan. Samar-samar, muncul kain putih dari balik dedaunan. Adit dan Bayu lalu beradu pandang dan berteriak “Hantuuuu!” Tanpa berpikir panjang, kedua sahabat tersebut langsung balik badan dan berlari sekencang-kencangnya.

“Hahahaha…” terdengar suara tawa dari balik dedaunan. “Rencana kita berhasil, Jo!” ucap seorang anak di atas pohon. “Iya, Adit dan Bayu sampai lari terbirit-birit, tuh, berkat sprei putih punya Ibuku ini,” timpal temannya yang juga berada di atas pohon. Ternyata, penampakan kain putih di atas pohon beringin itu adalah kerjaannya Jojo dan Rafi untuk menakut-nakuti Adit dan Bayu. “Sudah, yuk, kita pulang. Sebentar lagi Maghrib,” ajak Jojo.

Kedua bocah iseng ini pun pelan-pelan mulai turun dari pohon. “Jojo, itu apa?” bisik Rafi sambil menunjuk sepasang kaki yang terlihat menjuntai dari balik dedaunan. Sepasang kaki tersebut nampak kotor. Ada kain putih yang menutupi hingga betis. Namun, tubuh dan wajah pemilik kaki itu tak kelihatan karena tertutup dedaunan yang rindang. “Hantu kebon kosoooong!” Jojo dan Rafi berteriak berbarengan. Keduanya lantas buru-buru turun dari atas pohon beringin. Setibanya di bawah, mereka langsung berlari kabur.

Tak sengaja di perjalanan, mereka bertemu dengan Adit dan Bayu. “Kalian kenapa? Melihat ‘penghuni’ kebon kosong, ya?” tanya Bayu penasaran. “Ehmm.. Iya, Bay. Sebenarnya, kami berdua yang tadi mengerjai kalian pakai sprei putih di atas pohon. Lalu, saat kami mau turun dari pohon, kami melihat sepasang kaki di atas pohon itu,” cerita Jojo terengah-engah. “Iya, sepertinya ‘penghuni’ itu sedang duduk di dahan pohon. Jadi yang terlihat hanya sepasang kakinya saja,” Rafi menambahkan. “Oh, jadi kalian yang mengerjai kami! Rasakan akibatnya mengerjai kami berdua!” ujar Adit. “Iya, kami menyesal. Kami minta maaf, ya,” ujar Rafi dengan wajah menyesal bercampur rasa takut. “Jadi, yang kami lihat tadi itu beneran ‘penghuni’ kebon kosong?” tanya Jojo masih penasaran. Tak ada yang bisa menjawabnya. Keempat sahabat ini pun pulang ke rumah dan tak pernah lagi bermain di kebon kosong. (Cerita: Just For Kids/ Ilustrasi: Just For Kids)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *