Teng..teng..teng! Bel pulang sekolah berbunyi. Abel masih sibuk meneruskan catatannya. “Abel, aku pulang duluan, ya!” kata Windi teman sebangkunya. “Ya!” Abel melirik sekilas. “Sampai besok ya, Win!” katanya. “Okee!” Windi berlalu pulang.

Abel menoleh ke bangku Caca. Ternyata ia juga masih sibuk mencatat. Mereka berdua selalu pulang bareng karena jurusan rumah mereka searah. “Bel, kamu sudah selesai belum?” tanya Caca. “Belum, sedikit lagi!” balas Abel. “Aku sudah!” Caca merapikan buku-bukunya. Setelah beres, ia ke bangku Abel. “Masih banyak, Bel?” tanya Caca. “Sudah selesai, kok,” Abel menutup bukunya sambil meraih tasnya.

“Eh, Bel, penggarismu jatuh!” Caca menunjuk ke bawah meja. Abel menoleh. “Oh, itu penggaris Windi,” Abel memungutnya. Penggaris itu mungil sekali. Panjangnya cuma lima belas centi meter. Tampak manis. “Simpan dimana ya?” gumam Abel. “Ah, baiknya kubawa pulang saja dulu. Besok baru kukembalikan pada Windi,” Abel membuka kotak pensilnya yang berlapis. Penggaris itu ditaruhnya di lapis bawah yang masih kosong.

Sayang sekali, Abel seorang pelupa. Besoknya ia lupa tentang penggaris itu. Windi juga tak menanyakannya. Windi mengira penggarisnya diambil oleh sepupunya yang datang bertamu. Lagi pula, Windi masih punya penggaris panjang.

Suatu ketika Windi iseng. Sehabis mengerjakan matematika, Windi memainkan kotak pensil Abel. “Bel, kotak pensilmu ternyata ada lapisnya,” bisik Windi takut kedengaran oleh Bu Guru di depan kelas. “Iya! Kamu baru tahu?” balas Abel berbisik juga. Windi mengangkat lapis itu, dan… deg! Windi kaget sekali. Penggarisnya! Salah lihatkah dia? Windi memeriksanya sekali lagi. Benar! Itu penggarisnya. Ada noda tinta di angka dua!

Windi bingung. Ia tak pernah menyangka Abel setega itu. Mengambil milik orang lain. Windi ingin marah dan mengambil kembali penggaris itu. Tetapi, terpikir olehnya Abel adalah temannya. Windi tak tega untuk marah padanya. Windi menutup kotak pensil itu kembali dan meletakkannya di dekat Abel. Windi sedih bercampur jengkel dan marah. “Mungkin Abel senang dengan penggaris itu. Biar sajalah. Mungkin nanti dikembalikan kalau dia sudah bosan,” gumam Windi.

Sampai seminggu Windi menunggu, Abel tak juga mengembalikan penggaris itu. Windi jadi kesal. Sikapnya pada Abel mulai berubah. Sekarang Windi mulai menghindari Abel. “Win, temani aku ke kantin, dong!” kata Abel saat istirahat. “Maaf, Bel. Aku nggak lapar,” tolak Windi. “Kamu tak usah makan. Cuma menemani,” kata Abel lagi. “Tidak, ah!” tolak Windi lagi.

Abel terdiam. Dia mulai menyadari perubahan sikap Windi. Windi tak pernah seperti itu. Abel jadi murung. “Apa salahku?” tanyanya dalam hati.

Saat pelajaran menggambar, Windi melirik gambar Abel. “Aduh, bagus sekali gambarmu,” kata Windi. “Terimakasih,” Abel tersenyum. “Lihat gambarmu, Win?” ucap Abel. “Gambarku jelek!” kata Windi. “Sini kubantu!” Abel meraih gambar Windi. “Hei, jangan!” Windi menarik kembali gambarnya.

Abel terkejut. Tak sengaja tangannya menyenggol kotak pensilnya. Kotak pensil itu jatuh ke lantai. Dan isinya berhamburan. Untunglah Bu Guru tidak marah. Cepat-cepat Abel memunguti barang-barangnya. Dan… Abel melihat penggaris Windi.

“Ya, ampun, Win! Ini kan penggarismu?” ujar Abel terkejut. Windi tersenyum kecut. “Aduh, Win! Sorry! Penggaris ini kusimpan di kotak pensilku. Aku lupa mengembalikannya padamu!” kata Abel. “Aku tahu!” kata Windi. “Aku pernah melihatnya kok!” katanya lagi.

“Dan kamu tak menanyakannya?” tanya Abel. “Aku pikir kamu menyukainya. Cuma kenapa kamu mengambil begitu saja? Kenapa tak memintanya dari aku?” ucap Windi. “Ya ampun, Win!” Abel mengerti sekarang. Mengapa Windi berubah sikap. “Kamu mengira aku mencurinya, ya?” tutur Abel. “Aku juga sebenarnya heran, kamu tak pernah memakainya,” kata Windi.

“Kamu tahu, Win. Aku menemukan penggaris ini di kolong meja ketika kamu sudah pulang. Jadi, kusimpan saja di kotak pensil. Nggak tahunya aku lupa. Aduh, lama sekali! Hampir sebulan, ya! Maaf, ya!” ucap Abel. Windi mengangguk. “Aku juga minta maaf. Aku telah berprasangka buruk padamu,” ucap Windi. “Tak apa-apa,” angguk Abel. Dan keduanya kembali bersahabat!

 

Cerita: JFK    Ilustrasi: JFK

You may also like
Latest Posts from

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *