Hari Minggu, Mimi dan Nina berencana lari pagi. Jam sudah menunjukkan pukul 06.00.  Nina yang terbangun lebih dahulu, segera membangunkan kakaknya.

“Kak, ayo bangun, katanya kita mau lari pagi?” kata Nina. “Iya, iya, sebentar, Dek, Kakak masih ngantuk, nih,” jawab Mimi. “Ayo, Kak, cepetan, nanti keburu siang,” tambah Nina.

Tak lama, Mimi dan Nina sudah siap dengan sepedanya masing-masing. Mereka menuju ke sebuah gelanggang olahraga, tak jauh dari rumah.  Sepeda Mimi berada di depan Nina. Sepanjang jalan, mereka bercanda saling mendahului. Tapi, Nina selalu saja tertinggal.

Tiba-tiba, Nina melihat seorang pengemis di pinggir jalan. Pengemis itu terlihat sangat lemah dengan baju yang sangat lusuh. Nina pun berhenti di depan pengemis itu dan memberikan uang dua ribuan rupiah untuknya.

Setelah itu, Nina kembali mengayuh sepedanya untuk menyusul sang kakak, Mimi, yang sudah jauh di depan.

Akhirnya, Mimi dan Nina pun sampai di gelanggang olahraga. Mereka segera menaruh sepedanya dan bersiap-siap untuk lari. Mimi dan Nina berlari mengelilingi lapangan. Namun, di putarannya yang ketiga, Nina seperti melihat sosok yang tak asing. Nina melihat pengemis yang tadi ia temui, sedang berganti baju di balik pohon di luar lapangan. Nina memperhatikannya dengan rasa penasaran dan menebak-nebak dalam hati.

“Nina, ayo, larinya cepat, dong! Apa kamu sudah lelah?” teriak Mimi. “Oh iya, Kak, sebentar,” jawab Nina kaget. Nina pun segera melanjutkan larinya dengan hati penuh tanya tentang pengemis itu.

Mimi dan Nina sudah berlari sebanyak 4 putaran. Mereka beristirahat di pinggir lapangan sambil meneguk minuman yang mereka bawa dari rumah. Tiba-tiba, saat Nina menengok ke arah kiri, tak jauh dari tempat duduk mereka, lagi-lagi Nina melihat sosok yang sama. Kali ini, pengemis itu memakai pakaian rapi dan bagus sambil memegang HP. Tak tanggung-tanggung,  sebuah HP canggih yang masih jarang dimiliki orang.

“Kak, Kakak tahu nggak tadi pas kita berangkat, ada pengemis di pinggir jalan?” tanya Nina. Tapi, Mimi hanya tersenyum. “Iiih Kakak, ditanya malah senyum saja,” kata Nina sedikit kesal. Mereka pun bersiap untuk pulang karena hari sudah mulai siang.

Di perjalanan menuju parkiran sepeda, Nina bercerita tentang pengemis itu pada Mimi. Namun Mimi tetap saja tidak banyak bicara.

Sesampainya di parkiran di mana mereka menaruh sepeda, di situ Nina kembali melihat pengemis itu. “Ya ampun! Kenapa, sih, ketemu dia terus. Sebenarnya, siapa sih dia?” gumam Nina.

Melihat gelagat adiknya, Mimi pun akhirnya bercerita. “Kakak tahu kok siapa dia. Orang yang kamu temui beberapa kali itu adalah orang yang sama,” kata Mimi. Nina pun terkejut. “Memangnya dia siapa, Kak?” tanya Nina heran. “Kok, dia mengemis, sih?” tanya Nina lagi.

Mimi pun melanjutkan ceritanya. Mimi bercerita bahwa pengemis itu sebenarnya memiliki rumah bertingkat yang sangat megah. “Dulu, Kakak juga sama sepertimu, Nin. Penasaran dan tak percaya. Tapi, pas Kakak tahu yang sebenarnya, ternyata dia orang yang sangat mampu. Dia tega menipu banyak orang di luar sana yang melihat dia dengan rasa kasihan,” urai Mimi. “Kenapa Kakak nggak cerita dari awal, sih?” omel Nina. “Hehehe… sengaja, biar kamu tahu sendiri,” ucap Mimi tertawa.

 

Cerita : JFK       Ilustrasi: JFK

You may also like
Latest Posts from

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *