Dimas sedang bingung. Ia gelisah. Sebentar-sebentar melirik ke kelas kosong di belakangnya. Para siswa di kelas itu sedang mengikuti pelajaran olahraga di halaman belakang. Dimas menoleh ke samping kanan dan kiri. Tidak ada seorang pun yang memperhatikannya. Hatinya diliputi kebimbangan sesaat. Tapi, akhirnya dia masuk juga setelah yakin bahwa tidak ada seorang pun yang memperhatikannya.

Dengan tergesa-gesa, Dimas membuka tas para murid perempuan satu per satu. Akhirnya, ia menemukannya. Dompet! Diraihnya cepat dan dimasukkannya ke kantong celana. Dengan cepat ia keluar ruangan setelah memastikan tidak ada orang yang melihatnya.

Sesampainya di toilet, dengan dada berdebar-debar, Dimas membuka dompet itu. Enam puluh delapan ribu rupiah. Jumlah itu terlalu banyak untuknya. Sekarang ia baru menyesal. Kenapa sampai lupa diri menghabiskan uang SPP di game online. Mainan itu sangat menarik, sehingga membuat Dimas lupa diri. Uang SPP nya telah habis. Dan Dimas tidak berani lagi meminta kepada orangtuanya.

Kini, Dimas merasa jiwanya tidak tenteram. Dompet yang berada di sakunya, membuatnya menjadi dingin dan gemetar.

“Hai, Mas!” seru Alex teman sekelas Dimas melambai dan berjalan ke arahnya. “Kamu tahu, nggak. Anak perempuan di kelas sebelah, kehilangan dompet. Dia nangis. Katanya, uang itu buat bayar SPP. Kasihan juga dia,” lapor Alex bersemangat.

Deg! Seketika jantung Dimas berdegup kencang. Dia merasa ngeri dan gemetar. “Sekarang dia sedang melapor ke Kepala Sekolah,” lanjut Alex sambil melangkah berlalu.

 

*****

Sampai di rumah, Dimas tidak bisa tenang. Nafsu makannya hilang. Ia tidak tahan lagi menanggung beban penyesalan yang menumpuk di hatinya. Akhirnya, dia menceritakan semuanya kepada Alex.

“Aku tidak menyangka kamu melakukannya,” kata Alex tak percaya. “Itulah, Lex. Aku pun takut ketika menyadari telah melakukan perbuatan terkutuk itu. Aku tergoda setan. Karena uang SPP ku habis gara-gara main game online. Aku tidak berani minta lagi. Sedangkan ujian semester sudah dekat. Kamu kan tahu, kalau tidak melunasi uang SPP, kita tidak boleh mengikuti ujian. Ah! Pokoknya sekarang tolong temani aku ke rumah Bapak Kepala Sekolah, Lex,” ujar Dimas merasa dadanya agak lapang sedikit setelah menceritakan semua itu kepada Alex.

 

*******

Bapak Kepala Sekolah terdiam mendengar cerita Dimas. “Maafkan saya, Pak. Saya benar-benar menyesal telah melakukan itu. Saya menjadi tidak tenteram karena selalu dihantui perasaan bersalah. Ini dompet itu, Pak. Isinya masih utuh. Saya benar-benar minta maaf dan saya menyesal, Pak,” suara Dimas terdengar pelan dan kepalanya tertunduk semakin dalam.

“Dimas, Bapak sungguh bangga mempunyai murid seperti kamu. Berani mengakui kesalahan. Dan kamu tahu, ketidaktenteraman hatimu itu merupakan pertanda adanya hati yang bersih di dadamu,” kata Pak Kepala Sekolah.

Tidak ada nada marah dalam suara Bapak Kepala Sekolah. Yang ada hanya wajah penuh kesabaran dan sikap yang kebapakan. Hilanglah semua rasa takut dan cemas di hati Dimas. Dia merasa malu dan kecil di hadapan beliau.

“Bapak akan merahasiakan semua ini. Dompet ini akan Bapak kembalikan kepada pemiliknya yang melapor tadi, tanpa menyebutkan bahwa kamulah yang telah mengambilnya. Sekarang kamu sudah tidak gelisah lagi, bukan? Tapi, Bapak masih ingin tahu, apa yang mendorongmu melakukan perbuatan ini?” tanya Bapak Kepala Sekolah kemudian.

Dengan terus terang, Dimas mengatakan persoalannya. Bapak Kepala Sekolah manggut-manggut mendengar cerita Dimas.

“Sebaiknya, begini saja. Bapak ijinkan kamu mengikuti ujian. Tapi, kamu harus berjanji. Kamu harus menabung uang jajanmu untuk membayarnya, dan bukan meminta lagi pada orang tua. Kamu mau berjanji?” ucap Pak Kepala Sekolah. Dimas segera mengangguk. Dadanya terasa lapang sekali. Betapa arif dan bijaksananya Bapak Kepala Sekolah.

“Nah, kalau begitu, sekarang pulanglah. Jangan pernah lagi mengulangi kesalahan ini,” kata Bapak Kepala Sekolah sambil menepuk bahu Dimas lembut.

Sampai di luar, Alex memegang tangan Dimas erat. “Ingat! Jangan mengulangi kesalahan ini sekali lagi,” ujar Alex sambil mengedipkan sebelah mata. Dimas tertawa malu. Keduanya berjalan pulang dengan langkah ringan.

 

Cerita : JFK     Ilustrasi: JFK

You may also like
Latest Posts from Majalahjustforkids.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *