Pendidikan Ideal dan Tantangannya di Era New Normal

Pandemi Covid 19 telah berdampak signifikan pada kegiatan belajar-mengajar di berbagai lembaga pendidikan. Dari yang semula tatap muka di kelas, bergeser menjadi pembelajaran/pendidikan jarak jauh (PJJ) dalam jaringan (daring) dengan sistem online (langsung) maupun offline (tunda). Tentu saja, hal ini membutuhkan banyak kesiapan. Mulai dari kesiapan perangkat teknologi sebagai media komunikasi, akses internet serta kesiapan mental para stakeholder (pemangku kepentingan) di dunia pendidikan, termasuk murid, guru, orangtua serta sekolah.

Dan kini, tahun ajaran baru 2020/2021 akan segera dimulai, tepatnya tanggal 13 Juli. Akan terasa berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Apalagi, Kemendikbud telah menegaskan pada salah satu poin yang tertera di Surat Keputusan Bersama (SKB) 4 Menteri, yakni adanya larangan melakukan Kegiatan Belajar Mengajar tatap muka di 94% wilayah Indonesia yang berada di zona merah (risiko tinggi), oranye (risiko sedang), dan kuning (risiko rendah).

Pembelajaran Jarak Jauh, Pilihan Ideal

Ya, demi kesehatan dan keselamatan anak didik, PJJ menjadi pilihan paling aman di tengah kondisi Covid-19 ini. Walau sebenarnya PJJ bukanlah sistem baru, namun hal ini belum terlalu populer di kalangan masyarakat Indonesia sebelumnya. Barulah setelah Covid-19 melanda, semua pihak mulai ‘melek’ dengan program pendidikan jarak jauh. Tak heran, di awal-awal, banyak yang belum siap, termasuk guru, siswa dan orangtua.

Momon Sulaeman, Kepala Bidang SD dan PKLK Provinsi DKI Jakarta

Hal ini diakui oleh Bapak Momon Sulaeman, Kepala Bidang SD dan PKLK Provinsi DKI Jakarta. Sejak 16 Maret 2020, Dinas Pendidikan DKI Jakarta memutuskan melakukan proses belajar-mengajar di rumah. Di awal-awal, katanya, tak hanya dinas pendidikan, namun pihak sekolah, siswa, guru dan orangtua, banyak yang tidak siap dengan sistem ini. “Orangtua dan peserta didik bingung, karena ini adalah pengalaman pertama hampir semua pihak. Kami bekerja sama dengan beberapa layanan yang memungkinkan PJJ, secara bertahap membentuk tim home learning, setiap hari menyiapkan konten yang disebarkan kepada seluruh guru. Minimal kita punya standar, pembelajarannya seperti apa. Meskipun di lapangan para guru dapat memodifikasi sesuai dengan kondisi yang ada,” ujarnya pada acara online talkshow bertema “Sistem Pendidikan Ideal di Era New Normal”, Kamis (25/06).

Kendala PJJ

Namun, fakta di lapangan mempersulit proses PJJ ini. Tak semua siswa maupun guru bisa mengakses internet dengan mudah. “Bahkan di tingkat satuan SD, banyak juga yang tidak memiliki perangkat, baik HP, apalagi laptop. Ada yang punya, tetapi dibawa orangtuanya bekerja, sehingga baru bisa mengakses setelah orangtua pulang. Bahkan ada yang sama sekali tidak memiliki ini semua, baik HP, laptop dan  internet. Kalau dihitung yang tidak memiliki HP bisa ribuan. Bayangkan jika mereka tidak difasilitasi. Di Jakarta saja, hal ini masih terjadi, bagaimana dengan di pelosok?” ujarnya prihatin.

Itulah sebabnya, sangat penting bagi semua pemangku kepentingan untuk duduk berdampingan meski tidak dalam satu ruangan guna memaksimalkan akal guna merumuskan solusi pendidikan ideal di era new normal. “Dengan pendidikan berbasis teknologi sebagai solusinya, sistem pendidikan berubah total. Kegiatan belajar mengajar pindah ke dunia digital. Tentu banyak tantangannya, apalagi kini dunia pendidikan dihadapkan pada tahun ajaran baru di tengah masa pandemi Covid-19. Ada harapan dunia pendidikan bisa terus melaju, dengan standar kenormalan yang baru. Pendidikan tetap tidak boleh berhenti,” imbuh Bapak Hamzah, CEO Telset.id.

Pentingnya Pendidikan Karakter

Hal senada disampaikan oleh Founder Kelas Pintar, Bapak Fernando Uffie. Pandemi Covid-19, menurutnya, bisa menjadi momen bagi dunia pendidikan untuk mempercepat proses transformasi ke pendidikan berbasis teknologi. Bukan untuk menggantikan peran tenaga pendidik dan sekolah, tapi justru menguatkan peran masing-masing stakeholder tersebut. Sebagai penyedia solusi belajar online, Kelas Pintar sendiri telah meluncurkan fitur baru bertajuk “Sekolah” yang mewakili peran siswa, guru dan orangtua dalam suatu platform digital dan memungkinkan semua pihak berinteraksi walau secara virtual.

“Pembelajaran online ataupun pendidikan berbasis teknologi sejatinya harus bisa mengakomodir peran guru, sekolah dan orangtua dan bisa menghadirkan interaksi di antara mereka, untuk memastikan pendidikan karakter tetap berjalan meski dilakukan secara virtual,” ujarnya.

Febriati Nadira, selaku Perwakilan Orang Tua Murid

Pendidikan karakter, dinilai Ibu Febriati Nadira, selaku Perwakilan Orang Tua Murid, adalah hal krusial dan sangat penting bagi siswa. Tantangan utama belajar online, katanya, adalah masalah kedisiplinan. “Memang selama ini anak-anak sudah sangat terbiasa dengan gadget, tapi penggunaan gadget itu selama ini berbeda antara di sekolah dan di rumah. Fungsi gadget berubah saat berada di rumah, lebih ke hiburan, main game, nonton film, dan sebagainya. Nah, sekarang, fungsi gadget juga adalah sebagai medium untuk belajar di rumah. Ini tantangan orangtua bagaimana memastikan bahwa anak memanfaatkan perangkat itu untuk belajar selama di rumah,” ungkap ia.

Selain masalah kedisiplinan, ia juga menyinggung tentang pemahaman digital dan kepemilikan perangkat atau akses internet yang tidak sama pada semua orang. “Mungkin kita di Jakarta secara sarana dan prasarana mendukung, tapi di tempat lain belum tentu. Jadi PR-nya lebih ke bagaimana dengan sistem pembelajaran saat ini semuanya bisa mendapatkan kualitas pendidikan yang sama,” harapnya.

Dalam hal penyediaan akses internet, diungkapkan oleh Bapak Danang Andrianto, GM Mass Market Segment Product and Proposition Telkomsel  yang turut hadir dalam diskusi online tersebut, Telkomsel pro-aktif melalui langkah-langkah taktis mendukung PJJ online dengan membuat 4 inisiatif, termasuk: memberikan akses paket data Rp.0 untuk 30 GB dan bekerjasama dengan 10 aplikasi belajar, menyediakan free akses data ke 180 e-learning kampus,  memberikan bundling paket Rp10 untuk memudahkan akses video conference. “Kami juga meluncurkan VoLTE, dengan ini pelanggan Telkomsel bisa browsing internet dan telepon secara bersamaan,” katanya.

Danang Andrianto, GM Mass Market Segment Product and Proposition Telkomsel

Skenario Tahun Ajaran Baru

Terkait tahun ajaran baru 2020/2021 yang akan berjalan sebentar lagi, Dinas Pendidikan DKI sedang menyiapkan skenario, terutama bagi mereka yang berada di zona hijau (kabupaten/kota tidak atau belum terdampak Covid-19). “Bisa jadi siswa akan masuk secara bertahap, misalnya di tingkat SD, setengah masuk, setengah di rumah. Di SMP juga begitu. Sementara siswa SD kelas rendah, seperti kelas 1-3, itu belakangan masuknya, mungkin di akhir tahun. Begitu juga TK dan PAUD,” pungkasnya.

“Kami siap diajak duduk bersama untuk merumuskan modul panduan untuk sistem pendidikan di era new normal saat ini. Kami mengajak semua pihak untuk melihat permasalahan pendidikan secara serius. Ini penting karena menentukan masa depan anak-anak. Jangan sampai ada lelucon bahwa “anak-anak lulusan Covid-19 atau new normal tidak berkualitas, tidak mengerti pendidikan dasar’. Kita nggak mau hal itu terjadi. Pendidikan Indonesia baik saat normal, Covid-19, new normal atau situasi apapun, haruslah berkualitas dan bisa dibanggakan,” tutup Bapak Uffie.

(Foto: Ist)

You may also like
Latest Posts from Majalahjustforkids.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *