Saat ini terjadi lonjakan penderita hipertensi (tekanan darah tinggi) di bawah usia 45 tahun. Hal itu dikatakan oleh dr. Isman Firdaus, Sp.JP(K) Ketua PP PERKI (Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia) dalam acara Media Briefing Hari Hipertensi Sedunia 2022 dengan OMRON, PERKI, dan YJI (Yayasan Jantung Indonesia) secara virtual Jumat, 20 Mei 2022.

“Di tahun 2013 lalu, penderita hipertensi di bawah usia 45 tahun sebenarnya lebih rendah. Namun kini terjadi peningkatkan di kelompok tersebut, jauh lebih tinggi dari kelompok usia di atas 45 tahun,” ungkap dr. Isman. “Ini menunjukkan tekanan darah tinggi saat ini juga dimiliki usia remaja atau milenial,” cetusnya.

Hipertensi memang masih merupakan tantangan besar dalam dunia kesehatan. Penyakit ini masih memiliki prevalensi yang tinggi di tingkat global maupun Indonesia. Selain faktor risiko seperti usia, jenis kelamin, genetika, serta gaya hidup tidak sehat, faktor kesadaran untuk memonitor tekanan darah secara rutin dan kurangnya kepatuhan terhadap pengobatan hipertensi membuat kasus hipertensi terus meningkat.

Studi dari Badan Kesehatan Dunia (WHO) menunjukkan jumlah penderita hipertensi berusia 30-79 tahun telah bertambah dari 650 juta menjadi 1,28 miliar orang, dalam tiga dekade terakhir. Studi ini juga mengungkapkan bahwa sebanyak 53% perempuan dan 62% pria dengan hipertensi, atau sekitar 720 juta orang, tidak menerima pengobatan yang dibutuhkan.

Di Indonesia, Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018 mendapati bahwa hanya separuh (54%) penderita hipertensi yang rutin minum obat anti hipertensi. Sebanyak 32,27% mengatakan tidak rutin minum obat dan 13,33% malah mengaku tidak pernah minum obat sama sekali.

Memperingati Hari Hipertensi Sedunia 2022, mengusung tema ‘Measure your blood pressure, control it, live longer’, OMRON Healthcare Indonesia berkolaborasi dengan Kelompok Kerja (POKJA) Hipertensi dari Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (PERKI) dan Yayasan Jantung Indonesia (YJI), berupaya mendorong pengendalian tekanan darah serta kepatuhan terhadap pengobatan hipertensi sebagai kunci optimal untuk mengontrol hipertensi.

“OMRON senang sekali bisa berpartisipasi dalam peringatan Hari Hipertensi Sedunia 2022 dan berkomitmen untuk terus meningkatkan kesadaran masyarakat akan manfaat pemantauan tekanan darah secara rutin di rumah. Kami juga ingin mengingatkan bahwa monitoring tekanan darah harus diikuti dengan perubahan gaya hidup dan tindakan pengobatan untuk memastikan pengelolaan hipertensi dalam batas normal. Hal ini sejalan dengan misi OMRON untuk menciptakan dunia yang bebas dari penyakit kardiovaskular (Going fo ZERO – melalui perawatan preventif) dengan membiasakan pemantauan tekanan darah secara teratur, mengontrol hipertensi secara aktif dan melakukan langkah-langkah menuju perubahan perilaku untuk mengatasi kebiasaan-kebiasaan yang dapat meningkatkan risiko serangan jantung,” ucap Mr. Tomoaki Watanabe, Direktur OMRON Healthcare Indonesia.

Ditambahkan Bapak Herry Hendrayadi, Marketing Manager OMRON Healthcare Indonesia, OMRON meluncurkan tiga inisiatif demi mewujudkan visi Zero event hipertensi (nol kejadian hipertensi). “Pertama, terus berkontribusi dalam pengendalian hipertensi dengan merancang perangkat-perangkat inovatif, ditandai dengan adanya lebih dari 50 paten teknologi. Kedua, evolusi pengobatan penyakit kronis melalui percepatan layanan Remote Patient Monitoring (RPM), dan ketiga, mengembangkan teknologi kecerdasan buatan (AI) untuk menganalisa data-data vital tubuh di rumah demi mendukung diagnosis dan perawatan pasien hipertensi,” jelasnya.

Spesialis Jantung dr. Devie Caroline, Sp.JP.FIHA mengatakan, kepatuhan minum obat yang kurang optimal merupakan salah satu alasan penderita hipertensi menjadi tidak terkontrol tekanan darahnya. “Data menunjukkan bahwa hanya sekitar 50% dari pasien hipertensi yang patuh minum obat. Banyak faktor yang mempengaruhi kepatuhan minum obat. Beberapa alasan penderita hipertensi tidak minum obat antara lain karena penderita hipertensi merasa sehat, lupa minum obat, penderita memilih obat tradisional dan selain itu takut efek samping obat. Oleh sebab itu diperlukan beberapa strategi supaya penderita hipertensi menjadi patuh minum obat,” ujar dr. Devie.

Hal senada diungkapkan Ketua Pokja Hipertensi PERKI dr. Badai Bhatara Tiksnadi, MM, Sp.JP (K), FIHA. Menurutnya, tekanan darah seseorang harus terkontrol dengan target sesuai dengan penyakit penyertanya. “Pasien hipertensi sebaiknya tetap meminum obat hipertensi yang disarankan dokter untuk menjaga tekanan darahnya tidak naik. Harus dipastikan bahwa diagnosis hipertensi dilakukan dengan teknik pengukuran yang benar dan akurat. Selain obat-obatan, pengendalian tekanan darah dapat dilakukan dengan cara non farmakologis seperti menggunakan alat pengukur tekanan darah digital, pembatasan asupan garam, latihan fisik intensitas sedang yang teratur, dan dengan mencapai berat badan ideal. Pemantauan tekanan darah secara teratur di rumah merupakan cara yang efektif untuk mendeteksi dan mengelola hipertensi untuk mencegah berbagai macam komplikasi kesehatan yang berbahaya, seperti penyakit jantung, stroke, dan kematian,” ujar dr. Badai.

dr. Riana Handayani, Sp.JP(K), Ketua Panitia Pendidikan Masyarakat, mengatakan, untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang hipertensi, beberapa tahun terakhir ini pihaknya juga rutin menyebarkan informasi tentang hipertensi pada masyarakat, baik offline maupun online seperti seminar ilmiah, sharing pengalaman pasien hipertensi kepada masyarakat awam, membuat buku tentang diet hipertensi, bekerja sama dengan dinas-dinas kesehatan di propinsi untuk edukasi pentingnya memeriksa tekanan darah secara rutin di rumah sehingga tekanan darah terkontrol dan bisa mencegah penderita hipertensi mengalami kerusakan organ tubuh seperti jantung ataupun ginjal.

Ibu Widiyanti Putri, Sekretaris Jenderal YJI, menambahkan, sama halnya seperti penyakit jantung, hipertensi pun merupakan silent killer. “Tidak ada keluhan yang berarti namun tiba-tiba menyebabkan kematian. Inilah yang membuat orang enggan minum obat bahkan lalai. Padahal hipertensi bisa dihindari sejak dini dengan meningkatkan kesadaran masyarakat tentang bahaya hipertensi dan pencegahannya yaitu dengan cara panca usaha jantung sehat (Cerdik). Cek kesehatan secara rutin, Enyahkan asap rokok, Rajin aktivitas fisik, Diet seimbang, Istirahat cukup, dan Kelola stres,” papar Ibu Widiyanti seraya mengatakan pihaknya telah bermitra dengan OMRON sejak 2007 sebagai bentuk kepedulian agar masyarakat mengukur tekanan darah secara teratur dan akurat sehingga kesehatan jantung juga terjaga.

“OMRON berkomitmen untuk berkontribusi dalam menurunkan jumlah event (peristiwa) yang berujung pada kematian atau menyebabkan pasien dirawat di rumah sakit, hingga NOL. Kami menantang diri kami sendiri untuk mengembangkan perangkat dan layanan yang memungkinkan orang mendeteksi hipertensi dan aritmia yang merupakan faktor risiko pada tahap awal dan mencegah timbulnya kejadian dengan mendukung setiap orang untuk meningkatkan kebiasaan gaya hidup sehat serta menambah nilai pada pengelolaan kesehatan di rumah melalui monitoring. Kami percaya hal ini akan membantu mengurangi beban pasien dan keluarga mereka serta berkontribusi pada kehidupan yang lebih sehat dan memuaskan,” tutup Mr. Tomoaki Watanabe.

Foto: Novi

You may also like
Latest Posts from Majalahjustforkids.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *