“Kenapa, sih, di apartemen nggak boleh pelihara anjing, Bunda?” tanya Sally sambil tiduran di sofa. “Iya, karena takut mengganggu penghuni apartemen lain,” jawab Bunda yang tengah sibuk memasak di dapur. “Tapi, kan, kasihan Bruno, nggak diajak ke sini!” timpal gadis cilik berambut keriting ini. “Bruno, kan, sudah dititipkan ke Tante Mirna, lagi pula kita hanya sementara, kok, tinggal di apartemen ini sampai rumah kita selesai direnovasi,” ucap Bunda.

Tiga hari terakhir ini, Sally beserta Ayah dan Bunda terpaksa ‘mengungsi’ ke apartemen. Rumah yang biasa mereka tinggali, sedang diperbaiki. “Aku juga susah jajan, aku kangen baksonya Bang Hendro yang sering lewat depan rumah kita!” ujar Sally merengek. “Bagus, dong, kamu jadi jarang jajan. Kamu jadi lebih sering makan masakan Bunda, deh,” kata Bunda sambil melirik dan tersenyum ke arah Sally. Sally pun membalasnya dengan raut wajah cemberut. Ia kembali memainkan handphone-nya di sofa.

“Sally, tolong jaga masakan Bunda, ya, di kompor. Jangan sampai gosong, itu untuk Ayah yang sebentar lagi pulang dari kantor. Bunda mau ke toilet dulu sebentar,” perintah Bunda sembari berjalan tergesa-gesa menuju toilet. “Iya, Bunda,” jawab Sally singkat. Tiba-tiba terdengar, “Bakso.. Bakso.. Triiiing.. Triiiing..” Suara pedagang bakso terdengar sambil memukul mangkuknya berkali-kali. Wajah Sally langsung nampak gembira. “Wah, ada tukang bakso!” gumam Sally kegirangan.

Sally lalu berusaha mencari darimana asal suara pedagang bakso itu. Ia berjalan menuju jendela apartemen. Tirainya dibuka perlahan. Benar sekali, ada pedagang bakso sedang mendorong gerobaknya berada persis di depan jendela. Sally membuka jendela. “Bang, beli baksonya!” teriak Sally. “Baksonya berapa porsi?” tanya si pedagang bakso dengan wajah datar dan sedikit pucat. “Ehmm.. Sebentar, ya, Bang. Aku tanya Bunda dulu, mau beli bakso juga atau nggak,” jawab Sally yang langsung berjalan ke arah toilet.

Tok.. Tok.. Tok..  Pintu toilet diketuk Sally. “Bunda, mau bakso nggak? Ada tukang bakso, nih, lewat depan jendela kita,” tanya Sally. “Hah?! Tukang bakso?” jawab Bunda dari dalam toilet. Tak berapa lama kemudian, Bunda keluar dari toilet. “Apa yang tadi kamu bilang? Ada tukang bakso?” tanya Bunda berusaha memastikan. “Iya, barusan ada tukang bakso lewat, aku berhentiin aja,” jawab Sally dengan tenang. Sally pun menggandeng tangan Bunda dan menuntunnya ke jendela. “Sini, aku tunjukkin tukang baksonya,” ucap Sally. Sesampainya di depan jendela, wajah Sally terkejut bukan main. “Lho, mana tukang baksonya?!” ujar Sally setengah berteriak. “Sally, kita kan ada di apartemen lantai 12. Mana ada tukang bakso lewat depan jendela kita?!” ucap Bunda berusaha menenangkan. “Oh iya ya, kita ada di lantai 12. Tapi, kenapa tadi tukang baksonya bisa ada di depan jendela kita?” ujar Sally bingung.

Seketika, Sally merinding. “Ehm.. Jangan-jangan tukang bakso itu hantu, Bunda!” ucap Sally. “Ahh.. Kamu aneh-aneh saja,” timpal Bunda yang kembali ke dapur. Sally masih melihat ke arah luar jendela. Triiiing.. Triiiing.. Triiiing.. Samar-samar terdengar bunyi mangkuk bakso dipukul. Sally makin ketakutan. Tanpa berpikir panjang, ia langsung menutup jendela dan tirainya. (Cerita: Just For Kids/ Ilustrasi: Just For Kids)       

You may also like
Latest Posts from

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *