Pagi itu Rendy tergopoh-gopoh melangkah menuju sekolah. Matanya tampak masih merah, sembab berair. Sesekali mulutnya menganga, menguap menahan kantuk. “Kamu kayak orang sedang sakit,” tanya Wira teman akrabnya. “Wah, aku ngantuk sekali, semalam baru bisa tidur jam sebelas,” timpal Rendy. “Memangnya kamu habis ronda di mana?” tanya Wira kembali dengan nada sedikit menggoda. “Ya nggak lah, aku habis baca cerita kisah Raja Midas. Aku jadi pengen seperti dia. Makanya sekarang ngantuk sekali,” jawabnya.

Takut tertidur di dalam kelas lalu dimarahi Guru, Rendy lantas menyusun rencana bolos. “Kamu jangan bilang siapa-siapa kalau aku bolos. Nanti kalau bel pulang berbunyi, kamu jemput aku,” pinta Rendy pada Wira. Wira sebetulnya tak setuju dengan rencana Rendy. Tapi karena terus-menerus didesak, akhirnya dia tak bisa berbuat apa-apa. “Pokoknya risikonya kamu tanggung sendiri,” tegas Wira.

Rendy dengan langkah penuh waspada menuju gudang sekolah melepaskan rasa kantuk. Dia merebahkan badan di atas kasur milik penjaga sekolah. Hanya dalam hitungan detik, dia langsung lelap. Cerita Raja Midas ternyata begitu lekat sehingga terbawa dalam alam mimpi.

Raja Midas adalah cerita seorang raja di zaman Yunani dari bangsa Phyrgia. Kerajaannya membentang sangat luas. Rakyatnya hidup makmur berkecukupan. Dalam perang dia juga selalu menang melawan kerajaan lain. Midas juga terkenal sebagai raja yang paling sakti di zamannya. Dia juga sangat dikasihi oleh para dewa, segala permintaannya selalu dikabulkan.

Tapi dasar raja tamak, semua yang didapat selama ini belum mampu memuaskan hasrat dan keinginannya. “Aku ingin mengubah istanaku menjadi emas,” katanya sambil menerawang ke langit-langit istana yang begitu mewah dan megah. Karena kesaktiannya belum sampai ke tingkat itu, maka keinginan Midas pun belum bisa terwujud. Waktu terus berlalu, Midas semakin gelisah karena keinginannya mengubah istana menjadi emas belum juga bisa terlaksana.

Suatu ketika, Midas memberi jasa pada Silenus tua, guru dari Dionysus yang merupakan putra dewa Zeus. Sebagai ucapan terima kasih, Dionysus  yang sakti mandraguna memberi kesempatan pada Midas untuk meminta satu permintaan. Dan apa pun permintaan itu, akan terwujud. Midas pun meminta, “Buatlah apa pun yang kusentuh berubah jadi emas!”. Konon permintaan itu pun dikabulkan.

Merasa punya kesaktian yang selama ini didamba-damba, Midas lalu menyentuh piring-piring. Tak disangka, piring-piring itu jadi emas. Hanya dalam sekejap, benda-benda itu berubah warna menjadi kuning. Midas meminta para prajuritnya memeriksa apakah benar piring-piring itu jadi emas. “Benar paduka, semua telah jadi emas,” kata salah seorang prajurit sambil membungkuk. “Hahahahaha…, sekarang aku tidak ada yang menandingi,” Midas terbahak-bahak bangga.

Midas makin menjadi-jadi. Kuda tunggangannya yang berkulit hitam, ia sentuh dengan tangan saktinya. Kuda itu pun jadi mengeras seperti patung dan kaku tak bergerak lagi karena berubah menjadi kuning seperti emas. Midas kemudian berkeliling istana. Semua benda yang ada di hadapannya, ia sentuh. Semuanya berubah menjadi emas.

Kesaktian baru yang dimiliki Midas segera tersiar kemana-mana. Bagi yang tahu, mereka kini bukannya hormat, tetapi menjadi takut karena khawatir disentuh.

Di sebuah tempat lapang yang tak jauh dari istana, puluhan prajurit sedang berlatih ilmu kanuragan dan memainkan aneka senjata. Midas mendatangi mereka. Mereka lalu membentuk barisan. Rendy ada di dalam barisan prajurit itu. Midas meminta salah satu dari mereka maju ke hadapannya.

Raja serakah ini rupanya ingin mencoba kesaktiannya pada manusia. Midas lalu menunjuk Rendy yang berpakaian lengkap dengan seragam perang zaman Yunani. Sekujur tubuh Rendy panas dingin karena merasa takut. Dia menolak dan berusaha melarikan diri. Tapi langkahnya dihadang oleh prajurit-prajurit lainnya. Dia meronta-ronta tapi sia-sia. Tubuhnya diseret ke hadapan raja. Midas pelan-pelan mengayunkan tangannya. “Tidaaaaaaaaaaaaaakkk. Aku ingin tetap jadi manusia, aku ingin tetap sekolah,” kata Rendy berteriak sejadi-jadinya.

Byur!!!!! Seember air menerpa tubuh Rendy yang tengah tidur di gudang. Dia langsung terbangun karena basah kuyup. Dalam suasana kaget dia makin terperanjat karena di hadapannya kini ada Pak Ilham, guru sejarah yang menebar senyum dan Pak Kasiman si penjaga sekolah yang terpingkal-pingkal sambil menenteng ember warna merah. Di belakang kedua orang itu, teman-teman sekelas tertawa bergemuruh menyaksikan wajah Rendy yang tengah kebingungan. “Rendy bolos…, Rendy bolos…, Rendy bolos…,” berulang-ulang mereka meneriaki Rendy.

“Maaf, Pak, saya tadi bolos dari kelas. Saya kapok tidak akan bolos lagi. Saya tadi mimpi mau disentuh Raja Midas,” tandas Rendy pada Pak Ilham sambil menahan malu. Pak Ilham hanya senyum-senyum. Keberadaan Rendy di gudang ternyata diketahui oleh Pak Kasiman yang kemudian melaporkannya kepada Pak Ilham yang sedang mengajar. Karena teriak-teriak di gudang, Pak Ilham  menyuruh Pak Kasiman menyiram Rendy dengan air satu ember. “Lalu mimpi kamu itu sampai di mana tadi?” tanya Pak Ilham. Rendy lalu menceritakan mimpinya, meskipun badannya masih kuyup.

Menurut Pak Ilham yang sangat hafal dengan sejarah, cerita Raja Midas akhirnya berakhir tragis karena sangat serakah. Putri kesayangan Raja Midas yang dipeluknya pun menjadi emas berkilauan. Hati Midas sedih bukan kepalang. Midas menyesal. Dia memohon pada Dionysus untuk membebaskan dirinya dari keajaiban sentuhannya. Lalu Dionysus menyuruh Midas mencuci tangannya di hulu Sungai Pactolus. Midas kembali normal seperti sedia kala. “Ada yang bilang sungai itu kini berada di Gediz Nehri, tepatnya di negara Turki. Pendapat lainnya mengatakan cerita Raja Midas hanya mitos,” pungkas Pak Ilham. (Teks : JFK/DRW Ilustrasi : Agung)

You may also like
Latest Posts from

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *