Di kebun milik Luz, tumbuh pohon-pohon paprika yang sangat disayanginya. Oleh karena mendapatkan banyak kasih sayang, para paprika jadi sombong. Mereka menganggap diri mereka tanaman terbaik di kebun Luz.

“Tak ada tanaman lain yang seperti kami. Bentuk kami besar dan lucu. Warna kami yang cerah membuat kami lebih menarik. Kami tanaman yang bisa dimakan, juga bisa dijadikan tanaman hias,” ujar para Paprika angkuh.

Setiap ada tanaman baru, para Paprika mengejek dan mengganggu mereka. Akibatnya, tanaman-tanaman lain jadi layu karena tidak bahagia. Luz sedih, tapi dia tak tahu apa yang terjadi.

Suatu hari, ada tanaman baru di kebun Luz. Para Paprika siap untuk mengejek dan mengganggunya. “Tumbuhlah dengan subur, Paprika,” ucap Luz pada si tanaman baru. “Ternyata, tanaman baru itu Paprika seperti kita,” kata para Paprika gembira.

Beberapa waktu kemudian, pohon paprika baru itu berbuah. “Hai! Namaku Pu, paprika ungu!” salam Paprika berwarna ungu tersebut. “Kau tidak seperti kami yang berwarna merah, kuning, dan hijau. Kau bukan paprika!” seru para Paprika lain. Mereka mengejek dan mengganggu Pu setiap hari. Tapi, Pu tidak menyerah. “Kalian akan menyesal!” serunya.

Keesokan harinya, seekor rubah siluman datang ke kebun Luz. “Akan kurusak semua tanaman di sini,” gumam si Rubah. Para Paprika menangis ketakutan. “Lawan aku kalau berani!” tantang Pu pada si Rubah. “Paprika ungu! Aku benci rasa dan warnanya, dan lagi yang ini bisa bicara! Tidaak!” seru si Rubah lari ketakutan.

“Pu, terima kasih!” seru para Paprika. “Berjanjilah kalian tak akan bersikap semena-semena pada yang lain,” pinta Pu. Sejak itu, berbagai macam tanaman tumbuh subur di kebun Luz. (Cerita: Seruni/Ares/Ilustrasi: Putri)

You may also like
Latest Posts from Majalahjustforkids.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *