Desa Hijau adalah desa yang indah. Dikelilingi gunung dan danau. (Green Village is a beautiful village. It is surrounded by mountains and lakes.)

Pada suatu hari, dua sahabat, Panjang dan Pendek, pergi memancing ke danau. Panjang bertubuh tinggi, dan Pendek bertubuh pendek. (One day, two friends, Panjang and Pendek, go fishing at the lake. Panjang is tall and Pendek is short.)

“Aku ingin menangkap ikan yang besar dan lezat!” kata Pendek. “Asalkan mendapat ikan, aku sudah bahagia. Sekalipun itu ikan kecil,” kata Panjang. (“I would like to catch big and delicious fishes!” says Pendek. “As long as I catch a fish, I’m happy. Even though it’s a small one,” says Panjang.)

“Kau puas dengan ikan kecil? Untuk apa kita pergi memancing jauh-jauh dan membuang tenaga kalau hanya mendapatkan ikan kecil?” keluh Pendek. “Bagiku memancing adalah aktivitas yang membuat kita bahagia! Coba lihat sekelilingmu! Pemandangan begitu indah! Dan jika aku pulang membawa ikan, keluargaku akan senang!” seru Panjang bahagia. (“Are you happy with just a small fish? Why do we go fishing all the way here and waste our energies just to catch a small fish?” complains Pendek. “For me, fishing is an activity that makes us happy! Just look around you! The scenery is very beautiful! And if I came home with fish, my family will be happy!” says Panjang happily.)

“Memancing adalah pekerjaan yang menyebalkan. Pemandangan di sekitar kita membosankan. Dan apa istimewanya membawa pulang ikan ke rumah? Hanya akan dimakan oleh yang lain,” keluh Pendek lagi. (“Fishing is sucks. The scenery around us is boring. And what’s so special in bringing a fish home? Just to be eaten by others,” complains Pendek again.)

Waktu berlalu. Panjang telah mendapatkan banyak ikan kecil. Dia bersenandung bahagia dan mengucap syukur.  Pendek juga berhasil memancing ikan kecil, tetapi dia membuangnya kembali ke air dengan marah. “Aku tidak perlu ikan kecil!” katanya. (Time passes. Panjang has been getting a lot of small fishes. He hums happily and feels thankful. Pendek is also managed to catch small fishes, but he throws them back into the water angrily. “I don’t need small fishes!” he says.)

Tiba-tiba, Pendek merasakan ikan besar melahap umpan pancingnya! “Asyiik!” seru Pendek bahagia. Tetapi ikan besar itu sangat kuat! “Aku tidak akan melepaskanmu!” teriak Pendek. (Suddenly, Pendek senses that a big fish eats his bait! “Horaay!” exclaims Pendek happily. But the big fish is very strong! “I won’t let you go!” shouts Pendek.)

Panjang membantu Pendek memegang pancingnya dan akhirnya mereka berhasil mengangkat ikan besar itu! (Panjang helps Pendek to hold the fishing pole and they eventually manage to lift the big fish!)

Pendek sangat bahagia mendapatkan ikan besar. Dia menyombongkan diri pada Panjang dan mengajaknya menikmati ikan besarnya. “Terima kasih Pendek, ayo kita masak ikan besar ini!” kata Panjang. (Pendek is very happy to get the big fish. He boasts himself to Panjang and invites him to eat his big fish. “Thank you Pendek, let’s us eat this big fish!” says Panjang.)

Pendek melahap daging ikan besar yang sudah matang dan sangat terkejut! “Rasanya tidak enak!” Pendek menangis sedih. Panjang menghiburnya dengan memasak ikan kecilnya dan memberikannya pada Pendek. (Pendek eats the big fish meat that has been cooked and he is very surprised! “It tastes awful!” cries Pendek sadly. Panjang comforts him by cooking his small fishes and give them to Pendek.)

“Ikan kecilmu rasanya sangat enak, Panjang,” kata Pendek. “Kita harus mensyukuri apa pun yang diberikan pada kita karena itulah yang terbaik untuk kita!” kata Panjang menasehati Pendek. (“Your small fishes taste very good, Panjang,” says Pendek. “We should be thankful for whatever is given to us because that’s the best for us!” says Panjang advising Pendek.)  (Teks: Seruni/ Ilustrasi: Fika/ Translator: Just For Kids)

 

You may also like
Latest Posts from Majalahjustforkids.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *