“Yah, lihat, deh, rambutan kita mulai merah! Aku mau petik satu, ya, Yah?” seru Oki sambil menunjuk pohon rambutan yang ada di halaman rumah. “Wah, iya. Tapi itu belum matang, Ki. Nanti kalau sudah merah semua, baru boleh dipetik,” tandas Ayah sambil melihat arah yang ditunjukkan Oki. Oki kecewa karena sudah ingin sekali menyicipi rambutan hasil kebunnya sendiri.

Keesokan hari ketika pulang sekolah, dari kejauhan ia melihat di depan rumahnya banyak sekali anak-anak berkumpul. Mereka membawa galah bambu yang cukup panjang. Setelah diperhatikan, galah tersebut digunakan untuk memetik rambutan yang baru setengah matang.

“Hei! Jangan dipetik dulu, dong. Rambutannya, kan, belum matang!” kata Oki setengah berteriak. Mendengar suara teriakan, tak menghentikan usaha mereka untuk meraih rambutan yang menggantung di atas pohon. Namun, Oki kembali berusaha membubarkan gerombolan anak-anak yang terlihat memakai pakaian lusuh tersebut. “Huh, pelit banget, sih,” gerutu salah satu anak yang memakai kaus hijau.

Mendengar ucapan itu, Oki lantas kesal. Tapi, ia mencoba untuk tidak memperkeruh suasana. Ia langsung masuk ke dalam rumah dan menemui Ibunya yang sedang menyiapkan makan siang.

Sore hari, ketika Ayah pulang, Oki menceritakan kejadian siang tadi. “Sabar, ya, Ki. Paling-paling seminggu lagi rambutannya sudah matang semua. Nanti kita panen rambutan yang banyak,” janji Ayah. Oki sudah tak sabar menantikan panen rambutan.

Benar saja, seminggu kemudian, pohon tersebut dipenuhi dengan buah rambutan yang berwarna merah. “Sudah siap panen rambutan bersama Ayah?” tanya Ayah yang sudah siap dengan galah bambunya. “Siap!” jawab Oki singkat. Tanpa banyak kata, mereka berdua langsung menuju halaman depan.

Oki yang tak sabar menikmati rambutan hasil kebunnya, langsung mengupas rambutan pertama yang ia petik. “Hmm, manis, Yah! Cobain, deh,” seru Oki sambil mengupaskan rambutan untuk Ayahnya.

Karena rambutan yang dipanen cukup banyak, Ibu menyiapkan karung untuk menempatkan rambutan tersebut. “Wah, bisa kita bagi-bagikan ke tetangga, nih, Yah,” ujar Ibu. “Iya, Bu. Dibagikan saja, supaya tetangga merasakan juga manisnya rambutan kita,” ujar Ayah menyetujui. Oki tiba-tiba teringat dengan kejadian tempo hari. Ia ingin memberikan rambutannya kepada anak-anak kemarin. Ia lalu mengambil plastik agak besar dan memasukkan rambutan ke dalamnya. “Bu, aku pergi sebentar, ya,” pamit Oki terburu-buru.

Oki segera menuju lapangan tempat anak-anak itu biasa bermain bola. Kebetulan mereka sedang berkumpul. “Hei, kalian mau rambutan nggak?” seru Oki dari kejauhan. Anak-anak itu kompak menoleh dan berlari menghampirinya.

“Kemarin aku bilang kalau rambutannya nggak boleh dipetik karena belum matang. Nah, ini…,” ujar Oki sambil menyodorkan plastik berisi rambutan. Salah satu anak menerimanya, “Karena sekarang sudah matang, jadi kalian boleh menikmatinya,” lanjut Oki.

Setelah itu, Oki segera kembali ke rumah. Dari kejauhan, beberapa anak berseru,”Terima kasih, ya!” Oki hanya mengacungkan jempolnya dari jauh dan kembali meneruskan gowesan sepedanya.

(Cerita: Just For Kids/ Ilustrasi: Just For Kids)

 

 

You may also like
Latest Posts from Majalahjustforkids.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *