Baby Happy, popok sekali pakai dari Wings Care menggelar webinar pertamanya sebagai rangkaian CSR “Baby Happy, Keluarga Happy” jilid 2 dengan tema “Parenting Zaman Now: Optimalkan Tumbuh Kembang Generasi Alpha Sejak Kehamilan”. Kegiatan ini merupakan bentuk nyata kepedulian Baby Happy terhadap seluruh keluarga Indonesia agar dapat mencetak generasi penerus bangsa yang kuat dan bahagia. Ibu Julie Widyawati, Marketing Manager Baby Happy mengatakan “Kehadiran rangkaian kegiatan “Baby Happy, Keluarga Happy” di tengah pandemi ini merupakan wujud nyata dukungan serta kepedulian kami bagi keluarga dan anak-anak Indonesia. Seperti filosofi dari Wings yaitu ‘The best things in life should be accessible to all’ kami percaya bahwa semua hal yang berkualitas harus dapat diakses oleh semua lapisan masyarakat, tanpa terkecuali.

Persiapan Sejak Kehamilan untuk Generasi Cemerlang
Masa kehamilan merupakan periode awal kehidupan yang sangat penting karena berpengaruh terhadap perkembangan organ, pertumbuhan fisik, kematangan sistem imun, serta perkembangan kognitif. Periode emas ini biasanya disebut 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) dimana fokus utamanya adalah pemberian gizi yang dapat menunjang proses tumbuh kembang janin, bayi dan anak hingga usia 2 tahun. Hal ini menjadi perhatian khusus dikarenakan masalah gizi dan kesehatan anak sejak dini bukan hanya disebabkan oleh faktor genetik, melainkan didominasi oleh faktor lingkungan hidup yang sejatinya dapat diperbaiki di periode ini. Terlebih di tengah situasi pandemi Covid-19 ini, orang tua harus menghadapi tantangan baru baik dari segi pemenuhan nutrisi, mengatasi kecemasan dalam keterbatasan interaksi, maupun dalam pemberian stimulasi yang tepat untuk mengoptimalkan tumbuh kembang anak. “Persiapan untuk anak yang sehat dan cemerlang dimulai sejak persiapan kehamilan. Dibutuhkan optimalisasi kondisi ibu yang sehat serta asupan gizi yang lengkap dan seimbang, serta pemberian ASI setelah melahirkan. Pemenuhan 1000 hari pertama kehidupan sangat penting untuk modal anak hingga dia berusia dewasa nanti,” ujar dr. Darrell Fernando, SpOG – Dokter Spesialis Kandungan (Ginekolog) RS YPK Mandiri, Mayapada Kuningan & Klinik Moegni.
Masa 1000 HPK anak memang merupakan periode kritis perkembangan dan tidak tergantikan. Untuk itu, orang tua harus lebih cermat dalam memahami tahapan perkembangan anak khususnya generasi alpha saat ini dengan memberikan nutrisi dan stimulasi yang tepat sesuai usia demi mengoptimalkan tumbuh kembang anak agar mereka siap menghadapi kehidupan dan pembelajaran terutama di tengah perubahan seperti masa kini.

Tantangan Generasi Alpha di Tengah Pandemi
Generasi Alpha merupakan kelompok generasi yang lahir pada tahun 2010-2025. Kelompok generasi ini bisa dikatakan cukup unik dan memiliki karakternya tersendiri, karena orang tua masa kini yang sangat akrab dengan penggunaan gadget secara tidak langsung telah memperkenalkan gadget kepada anak sejak dini. Lalu, bagaimana menjawab tantangan dalam membesarkan Generasi Alpha dengan tepat terlebih di masa pandemi ini? Menurut dr. I Gusti Ayu Nyoman Partiwi SpA., MARS – Dokter Spesialis Anak di RSIA Bunda Jakarta untuk menjalani proses tumbuh kembang yang optimal, pada dasarnya orang tua harus bisa memberikan asuh, asih, dan asah yang baik untuk semua anak di semua generasi tanpa terkecuali. Hal ini disebabkan oleh kebutuhan anak tidak akan berubah, kapanpun atau di masa apapun anak itu lahir. “Sebagai orang tua, kita harus mempersiapkan dan memperhatikan kebutuhan anak untuk berkembang dengan baik (asuh) dengan memperhatikan nutrisi sejak awal kehamilan, memberikan asi eksklusif untuk pertumbuhan anak lebih baik serta memberikan vaksin sesuai jadwalnya untuk menjaga kesehatannya. Selain itu, kita juga harus memberikan stimulasi (asah) yang dilakukan secara terus menerus dengan memastikan kesiapan anak, agar perkembangan otaknya bisa lebih kompleks maka kami menganjurkan agar orang tua bisa terus melatih anak untuk melakukan segala sesuatu secara mandiri dan semua hal itu tentunya dilakukan dengan kasih (asih) tanpa paksaan,” jelas dr. Tiwi.
Lebih lanjut, dr. Tiwi juga menjelaskan bahwa 3 tahun pertama perkembangan otak itu sangat efisien dan sensitif, sehingga lebih baik distimulasi dengan pembelajaran bahasa serta interaksi agar lebih optimal. Namun, saat ini banyak sekali orang tua yang memanfaatkan gadget dalam perkembangan anak padahal sesungguhnya hal itu sangat tidak direkomendasikan karna akan mengganggu pertumbuhan dan perkembangan si kecil. “Kami melihat karakter orang tua masa kini yang akrab dengan penggunaan electronic device bersama si kecil harus menyadari bahwa pada periode dini usia 0 – 2 tahun, anak bukan hanya cukup didisiplinkan dengan screen time, tapi memang tidak diperkenankan menggunakan gadget sama sekali. Kecuali, apabila setelah 2 tahun perkembangannya bagus, seperti sudah lancar berbicara, beraktivitas, mungkin bisa dilatih dengan hanya membolehkan akses menonton TV selama 1 jam saja. Gadget harus dihindari sejak dini bukan karena radiasinya, namun gadget bisa merusak perkembangan otak anak karena si kecil akan menjadi lebih tertarik dengan cahaya sehingga bisa mengakibatkan hiperaktif dan kesulitan berbicara, apalagi jika diajak berinteraksi. Ini yang harus menjadi perhatian utama bagi para orang tua, termasuk hindari bermain gadget saat hendak tidur, hal itu bisa membuat gangguan tidur terutama pada anak karena tingginya paparan cahaya di sekitarnya,” tambah dr. Tiwi.
Untuk itu, interaksi antara orang tua dan anak sangat penting untuk pola pengasuhan anak sejak dini serta perkembangan kestabilan emosi anak. Dengan demikian, anak bisa lebih bertumbuh dan berkembang dengan optimal tanpa tergantung oleh teknologi.

Optimalkan Tumbuh Kembang Generasi Alpha
Parenting merupakan proses yang harus dipersiapkan atau direncanakan oleh kedua orang tua dengan memperhatikan pemeliharaan kesehatan dan keselamatan anak, membantu kematangan emosi anak, serta membantu pengembangan social skill dan kapasitas intelektual anak. Seperti yang kita ketahui, tantangan kehidupan yang dihadapi generasi alpha selain teknologi adalah kehadiran orang tua yang sibuk bekerja (secara fisik dan emosional). Terlebih di masa pandemi seperti saat ini, banyak sekali para Ibu muda yang mudah burn out karena kelelahan menyeimbangkan kegiatan diri sendiri dan kebutuhan rumah tangga. “Di tengah pandemi seperti saat ini, kita harus mulai hidup dengan prinsip good enough parent is the new normal. Kita tidak perlu memaksakan diri kita dan anak harus sempurna. Semua yang kita lakukan sebaiknya sesuai porsinya dan yang paling penting kita merasa cukup dengan diri kita. Dengan mindset yang demikian maka kita akan lebih mudah mengasuh anak, karena kita juga akan menerapkan mindset “cukup” pada anak. Yang terpenting anak cukup sehat, cukup bahagia, cukup tumbuh dan berkembang, cukup aktif tidak perlu jadi sempurna sudah cukup bagi kita,”jelas Ibu Anastasia Satriyo M.Psi., Psi., seorang psikolog keluarga.

Di era teknologi ini, maka orang tua semakin mudah untuk mengakses informasi, dengan demikian sebaiknya pola parenting kita juga ikut beradaptasi tidak hanya dengan teknologinya, tapi juga disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing anak di rumah. Ibu Anastasia juga menambahkan bahwa tumbuh kembang generasi alpha dan kesehatan mental anak dipengaruhi oleh pengelolaan emosi dan kesehatan mental orang tua, karena orang tua akan menjadi role model utama bagi anak (children see, childreen do). Untuk itu, berikan mereka pondasi perkembangan yang optimal dengan stimulasi fisik, pengalaman sensori yang konkrit, kehadiran secara fisik dan emosi, serta menggabungkan kehangatan pengasuhan dan kasih sayang, agar kelak anak bisa mengoptimalkan potensi serta keunikan dirinya.

Setali tiga uang dengan Ibu Anastasia, Mom Tasya Kamila, seorang public figure sekaligus ibu muda masa kini, juga mengamini pentingnya belajar menjadi good enough parent. “Aku sedang belajar untuk menerima dan terbuka apa adanya dengan anakku. Kita tidak bisa selamanya terlihat tangguh, menurutku it’s okay to be vulnerable di depan anak. Keterbukaan dengan anak itu penting di masa emasnya, bahkan dalam pengalamanku, Arrasya anakku bisa merasakan perasaan yang aku rasakan, misalnya aku lelah, sedih, dan sebagainya. Itu sih kuncinya menjadi tangguh dalam urusan parenting, yang penting ketika lelah, kita bisa kembali bersemangat menjalani peran orang tua di kemudian hari,”ujarnya.
Selain itu, Mom Tasya juga membagikan pola asuhnya terhadap sang buah hati terutama di tengah pandemi ini. Mom Tasya lebih memilih untuk memprioritaskan kebutuhan anak sesuai saran dokter yang berlaku termasuk perihal pemberian vaksin anak untuk memelihara kesehatan si kecil dan pemilihan popok yang tepat bagi anak. “Anakku sedang dalam masa yang lagi aktif-aktifnya, maka penting bagiku untuk memilih popok yang tidak bikin ruam dan nyaman untuknya. Makanya, aku lebih pilih Baby Happy karena sudah terbukti popok sekali pakai Baby Happy itu daya serapnya tinggi, popoknya lembut, serta karet elastisnya yang tidak membuat kulit anak menjadi ruam. Selain menjaga kesehatan anak dengan hal itu, tentunya kita juga berikhtiar dengan menjalankan protokol kesehatan yang ketat, misalnya membersihkan diri sehabis bepergian keluar sebelum bertemu dengan anak dengan demikian keluarga juga tetap sehat dan happy,” tambah Mom Tasya.

(Foto : Ist)

 

You may also like
Latest Posts from Majalahjustforkids.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *