Cerebrofort Luncurkan Panduan #MindMappingAnakMasaDepan

Imbauan #dirumahaja selama masa pandemi yang dicanangkan pemerintah membuat orangtua dan anak harus beradaptasi dengan situasi baru. Meskipun periode ini memberikan waktu lebih banyak bagi orangtua dan anak untuk berinteraksi, tak jarang orangtua kelimpungan dengan multi peran mereka selama di rumah. Apakah Moms termasuk di antaranya?

“Meskipun tinggal #dirumahaja, orangtua dan anak-anak zaman now tetap punya aktivitas padat. Bagi kebanyakan orangtua, mereka mendadak menjalani 3 peran, yakni pengasuh, pekerja, maupun guru. Selain cari nafkah, dituntut mengasuh anak dan mengurus rumah. Anak-anak pun tak kalah banyak aktivitasnya. Mereka harus belajar dari rumah di tengah pandemi Covid-19,  ada pula tambahan ekstrakurikuler yang nggak bisa dihindari. Itulah mengapa, perlu untuk menjaga keseimbangan antara asah (stimulus dan pendidikan), asih (kasih sayang orangtua) dan asuh (asupan nutrisi) agar orangtua bisa memaksimalkan tumbuh kembang anak-anaknya,” ungkap Saskhya Aulia Prima, M. Psi, Psikolog, Co-Founder Rumah Konsultasi Tiga Generasi pada acara digital media briefing Cerebrofort #MindMappingAnakMasaDepan di Jakarta, Selasa (28/04).

Ciri Anak Visioner

Nah, untuk membantu orangtua mengoptimalkan tumbuh kembang anak selama masa study from home (SFH), Cerebrofort, merek multivitamin menginisiasi sebuah panduan praktis melalui konsep brain mapping dan mind mapping. Panduan ini merupakan bagian dari kampanye #AnakMasaDepan yang bertujuan untuk menjadikan anak visioner dan mampu menciptakan masa depannya sendiri dengan keseimbangan nutrisi dan pendampingan orangtua.

Karakter Anak Visioner

Menjadikan anak dengan tipe visioner, sangat penting di zaman sekarang ini. Anak-anak sekarang hidup di zaman Vuca World, yakni dunia yang penuh dengan berbagai hal yang tidak terduga; persaingan ketat, perubahan cepat, dan penuh ketidakpastian. Anak perlu lebih dari sekadar smart (cerdas).

“Anak cerdas penting, tapi itu nggak cukup. Anak butuh menjadi anak masa depan, anak yang visioner agar bisa survive (bertahan),” katanya. Ia mengatakan setidaknya ada 5 karakter yang dipunyai seorang anak visioner, yakni: memiliki tujuan (goal setting), punya banyak akal, berdaya juang tinggi, optimis & berpikiran positif dan bermanfaat bagi orang lain.

Mind Mapping

Guna melatih anak menjadi seorang yang visioner, orangtua bisa menggunakan konsep mind mapping. Ini adalah salah satu cara mengelola informasi dan mengatur strategi melalui pemetaan pikiran sehingga dapat membantu mengorganisir informasi, memudahkan daya tangkap dan daya ingat otak dalam memroses informasi, dan meningkatkan keterlibatan seseorang dalam proses belajar.

Sebelum diterapkan pada anak, ujar Saskhya, orangtua perlu menerapkan konsep mind mapping pada dirinya, yakni dengan mindset management (mengatur pola pikir) dan menyusun strategi pengasuhan anak.

Contoh konsep mind mapping bagi orangtua adalah membuat struktur jelas dengan semua pihak di rumah mulai dari jadwal hingga lokasi belajar atau bekerja, kerja sama pembagian tugas dengan pasangan atau pengasuh anak, mengatur ekspektasi, dan salah satu hal terpenting adalah self-care atau me-time sebagai apresiasi untuk diri sendiri dan mengembalikan semangat.

Dengan mind mapping, orangtua memiliki gambaran yang jelas akan situasi di hari itu, potensi masalah yang terjadi, dan siap membentuk alternatif solusi agar semua tetap kondusif terutama dalam hal interaksi bersama anak.

Nah, setelah Moms dapat mengaplikasikan mind mapping dengan baik, Moms dapat menyusun strategi dengan sistematis agar fokus mendampingi anak menjadi visioner. “Melalui konsep mind mapping, ibu dapat membantu anak menjadi visioner dengan membiasakan memiliki tujuan sejak dini, mandiri dan disiplin, mampu berempati, memberikan ruang untuk mengatasi kebosanannya sendiri, dan selalu bersyukur serta melihat sisi positif dari suatu masalah,” terang Saskhya.

Asupan Nutrisi yang Baik

Dalam melatih anak visioner, diperlukan adanya peran aktif dan kasih sayang orangtua. Selain itu, anak juga perlu didukung dengan asupan nutrisi yang baik agar perkembangan otaknya bisa optimal. Apalagi di masa pandemi ini, di mana kondisi lingkungan kurang baik disebabkan penyebaran virus, ditambah aktivitas anak yang tinggi, kecukupan gizi anak harus terpenuhi.

Hal ini diperparah bila si kecil mengalami kondisi seperti susah makan, suka pilih makanan, tidak suka makan sayur atau buah, hanya mau minum susu tanpa makanan lain, suka makan junk food, dan sebagainya, tentu asupan nutrisi dalam tubuhnya tidak seimbang. Sebagai solusi, orangtua bisa memberikan anak tambahan vitamin.

Salah satu varian jenis multivitamin Cerebrofort

Helmin Agustina Silalahi, Medical Manager Kalbe Consumer Health mengungkapkan, “Cerebrofort adalah multivitamin lengkap yang diperkaya kandungan AA, DHA, EPA, Vitamin C, serta vitamin dan mineral lainnya yang berfungsi untuk membantu perkembangan otak, tumbuh kembang, dan daya tahan tubuh.”

“Kami memahami bahwa bertambahnya peran orangtua sebagai pekerja, guru, dan pengasuh anak rentan menyebabkan konflik, sehingga suasana dan hasil belajar anak tidak maksimal. Karena itu, Kalbe Consumer Health, melalui Cerebrofort, berkomitmen untuk selalu menjadi teman terpercaya bagi orangtua dalam membantu melengkapi kebutuhan nutrisi dan pengasuhan anak,” ujar Feni Herawati, Director Kalbe Consumer Health.

Cerebrofort juga akan mengadakan sejumlah program terkait dengan sosialisasi panduan ini yaitu salah satunya adalah kuliah online yang dapat diakses melalui akun resmi Instagram @Cerebrofort.ID. “Kami berharap kampanye #AnakMasaDepan dengan panduan #MindMappingAnakMasaDepan ini dapat menginspirasi ibu dalam proses mendampingi anak di masa krusial mereka,” tutup Feni.

(Foto: Istimewa)

You may also like
Latest Posts from Majalahjustforkids.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *