Di Kerajaan Caca, ada seorang ahli masak yang sangat angkuh dan sombong bernama Numa. Dia pergi berkeliling ke seluruh dunia dan berguru pada ahli-ahli masak terbaik. Kekayaan dan pengalamannya di luar negeri membuat Numa dikagumi banyak orang, dan suatu hari seorang petinggi istana memintanya bekerja di istana.

Di istana, Numa jadi ahli masak yang  hanya percaya pada kemampuannya sendiri. Dia  menolak menerima saran dari orang lain. Numa yang merasa dirinya hebat,  membuat aturan makan. Dia membuat makan pagi, siang, dan malam menjadi sulit dan menyebalkan. Semuanya harus berdasarkan peraturan yang menurutnya sangat bermartabat. Harus ada lonceng untuk menandakan waktu makan. Makan harus di ruangan yang bagus. Tidak boleh ada yang mengobrol dan harus berkumpul waktu makan. Menurut Numa, makanan harus dinikmati dengan konsentrasi sebagai tanda  menghormati rasa makanan. Tentu saja makanan itu dibuat dengan resep ciptaan Numa, yang dibuat dari bahan impor terbaik.   Lagi-lagi semua penghuni istana tak bisa melawan Numa, mereka hanya bisa menggerutu.

Pada suatu kesempatan, pangeran dan putri, anak-anak sang Ratu, memanggil Numa dan bertanya, “Mengapa kau tidak pernah membuat makanan dari cabai,  yang sangat disukai masyarakat?” tanya mereka. “Maafkan hamba, tapi sesuatu yang bersifat lokal dan rasanya terlalu kuat seperti cabai, tidaklah pantas disebut sebagai berkelas dan bermartabat. Rasa makanan harus harmonis, seperti yang selama ini hamba pelajari di luar negeri,” jawab Numa dengan percaya diri. Pangeran dan putri tidak bisa berargumentasi karena menurut mereka Numa yang paling tahu soal memasak.

Waktu berlalu, tapi Numa heran mengapa namanya  belum juga terkenal di dunia. Lalu Numa mendengar kabar kalau guru memasak yang sangat dihormatinya akan berkunjung ke Kerajaan Caca. “Aku bisa membanggakan prestasi dan hasil kerjaku!” seru Numa bahagia. Dan tibalah hari guru memasaknya datang ke istana. “Selamat datang, Guru!” sambut Numa. “Aku berkunjung ke negerimu karena ingin makan masakanmu yang dimasak dengan cabai,” kata si Guru. “Aku tidak pernah membuatnya Guru, karena cabai tidak berkelas,” kata Numa. “Apa?! Numa, negaramu, Kerajaan Caca dikenal oleh para ahli masak sebagai penghasil cabai terbaik di seluruh dunia! Mengapa kau tidak mau menggunakan cabai untuk memasak?” kata Guru Numa. “Selama ini aku mengira rasa masakan harus harmonis,” kata Numa terkejut. “Itu karena masakan dari negara lain tidak punya bumbu yang sangat kuat seperti cabai. Mengapa kau harus meniru negara lain? Ambillah ciri khas dari negaramu sendiri, karena itulah yang paling menarik!” jelas Guru Numa. “Kami setuju, Numa,” kata keluarga kerajaan yang mendengar pembicaraan Numa dan Gurunya. “Nama kerajaan kita, Caca berasal dari cabai, “ jelas sang Ratu. “Dan makan bersama sambil bercerita adalah kebiasaan kita yang dipandang menarik oleh negara lain,” tambah pangeran dan putri. Numa merasa sangat malu. Saat itu juga dia berubah. Numa meminta maaf atas keangkuhannya dan kini menggunakan bahan yang ada di negaranya sebagai ciri khas masakannya. Dia juga menciptakan makanan yang hanya bisa dinikmati dengan banyak orang.  Dan  semua inilah yang akhirnya membuat Numa terkenal!

 

 

 

Cerita: Seruni   Ilustrasi: Agung

You may also like
Latest Posts from Majalahjustforkids.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *