Matahari sudah terbenam. Burung-burung hantu bersiap untuk berburu. Noni, anak burung hantu, bertengger di dahan. Tiba-tiba, Ayi, anak burung hantu lainnya, sudah berada di sisinya. Burung hantu memang mampu terbang tanpa mengeluarkan bunyi.

“Noni, kita main dulu, yuk, sebelum berburu dengan Ibu kita,” ajak Ayi. “Tidak mau! Aku mau berteman dengan Kenari, yang berbulu indah. Atau dengan Kutilang, yang suaranya merdu!” kata Noni.

Aaah… kita ini payah. Sudah wajah jelek, suara kita juga jelek! Orang menyebut kita burung hantu pula,” gerutu Noni lagi. “Kata Ibuku, kita istimewa. Bisa menangkap mangsa dengan cepat. Penglihatan kita di malam hari juga tajam,” timpal Ayi. “Pokoknya kita jelek!” kata Noni, sambil berlalu.

Noni pergi ke rumah Kenari dan mengajak bermain. “Aduh, maaf ya, aku lelah setelah seharian mencari buah-buahan. Aku mau tidur,” kata Kenari.

Noni pun menuju rumah Kutilang. Melihat Noni datang, teman-teman dan keluarga Kutilang terbang pergi. “Lho, kenapa semuanya pergi?” tanya Noni heran. “Mereka takut kepadamu,” jawab Kutilang.

Kutilang ternyata juga tak bisa main dengan Noni. Ia harus tidur. Besok pagi, ia harus mencari makanan, berupa biji-bijian.

Noni pun akhirnya ikut berburu bersama Ibunya. Dalam kegelapan malam, Noni melihat seekor anak katak di bawah daun pohon talas. Swiiing… Noni segera menyambarnya. “Kamu hebat, Noni!” puji Ibunya. “Buat apa pintar berburu? Penampilan dan suara kita begitu jelek. Teman-teman Kutilang saja takut melihatku!” ujar Noni.

“Setiap burung diciptakan Tuhan dengan keistimewaan masing-masing, bersyukurlah,” ujar Ibu Noni. “Pokoknya, besok malam aku tidak mau ikut berburu. Aku mau tidur saja, supaya paginya bisa bermain dengan Kutilang dan Kenari!” seru Noni.

Besok malamnya, Noni benar-benar tak mau ikut berburu. Noni malah mencari serangga di semak-semak.

“Kamu tidak ikut Ibumu berburu?” tanya Ayi. “Tidak! Aku sebenarnya mau tidur supaya besok pagi bisa main dengan Kutilang dan Kenari!” jawab Noni. “Tapi aku tak bisa tidur. Jadi tadi aku mencari serangga!” kata Noni lagi.

“Kita tidak mungkin bisa tidur malam, Noni! Kita kan burung malam. Siang hari tidur dan malam pergi berburu. Kalau Kutilang dan Kenari, siang mencari makan dan malam hari mereka tidur!” kata Ayi.

“Ikut aku saja, yuk! Kita berlomba menangkap katak,” ajak Ayi. Mereka lalu terbang dan masing-masing berhasil menangkap seekor katak. Ayi lalu mengajak Noni ke dalam hutan, menemui seekor burung hantu tua di lubang pohon.

“Nenek, aku dan temanku Noni membawakan katak untukmu!” kata Ayi.

“Kalian baik sekali. Terima kasih, ya. Noni, kamu cantik sekali!” kata burung hantu tua itu.

“Aku tidak cantik! Aku jelek, burung hantu lain juga jelek!” kata Noni. “Itu salah. Cantik atau jelek itu bukan terlihat dari bulu dan suaranya.  Tapi, kecantikan itu berasal dari dalam hati. Kamu membawakan makanan untuk burung tua yang lamban. Itu artinya kamu cantik karena baik hatinya,” kata burung tua itu.

Noni merasa perkataan burung hantu tua itu benar. Ia dan Ayi kemudian pergi berburu lagi. Jelang subuh, mereka pulang dan tidur. Ketika Noni terbangun, hari sudah petang. Ia tak bisa bermain dengan Kutilang dan Kenari. Namun, Noni tidak sedih karena ia kini bangga menjadi burung hantu. Ia berjanji akan lebih rajin latihan berburu.

 

Cerita: JFK     Ilustrasi: JFK

You may also like
Latest Posts from Majalahjustforkids.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *