Di balik sebuah sajian khas Nusantara, ternyata ada beragam kisah dan sejarah yang menarik untuk dibicarakan. Misalnya saja Seruit dan Gulai Taboh, kuliner legendaris kebanggaan masyarakat Lampung. Untuk mengetahui filosofi dan cerita di balik Seruit dan Gulai Taboh, Lembaga Kebangsaan Ikatan Alumni Universitas Indonesia (ILUNI UI) bersama ILUNI UI Wilayah Lampung mengadakan gelar wicara secara daring bertajuk “Festival Kuliner Nusantara Lampung”, Sabtu (20/2). Acara ini menjadi episode perdana dari rangkaian yang akan diselenggarakan di 10 Provinsi di Indonesia.

Seruit merupakan kuliner olahan ikan yang dimasak dengan cara dipepes ataupun dipupul (dibakar). Seruit banyak dibuat oleh masyarakat Lampung papadun (Lampung kota), sehingga kerap kali menggunakan ikan sungai sebagai bahan dasarnya. Kunci dari kenikmatan Seruit terletak pada penggunaan bumbu-bumbu seperti bawang putih, garam, ketumbar, kunyit, dan jahe yang dibalurkan pada ikan sebelum diolah. Seruit disajikan dengan tiga jenis sambal yakni sambal terasi, tempoyak (dari durian), dan sambal mangga sehingga menciptakan kombinasi pedas, manis, dan asam yang menyegarkan.

Sedangkan, Gulai Taboh adalah sajian sayur pendamping berbahan baku santan dan terbuat dari ikan. Gulai Taboh dibuat menggunakan ikan laut dan ikan sungai. Gulai Taboh mirip dengan sayur lodeh, yang membedakan adalah penggunaan ikan dan bahan rempah-rempah dengan cita rasa khas Lampung. Keunikan Gulai Taboh terletak pada proses pengasapan pada saat memasak. Oleh karena itu, Gulai Taboh juga disebut sebagai Gulai Tabo Tapah Semalam karena ia harus diasapi selama 6 jam atau lebih sebelum disajikan,

Kuliner Legendaris yang Masih Menjadi Primadona

Seruit dan Gulai Taboh merupakan contoh bagaimana kuliner mampu merekatkan kebersamaan di dalam suatu masyarakat. Tak hanya memiliki cita rasa yang kaya akan rempah khas Sumatera, namun kedua kuliner khas Lampung ini juga menyimpan cerita, sejarah, kekhasan, dan potensinya tersendiri. Gulai Taboh dan Seruit pun biasa disajikan di saat acara adat.

Pengamat Budaya Lampung Dr. Eng. Admi Syarif mengungkapkan, Seruit tadinya merupakan kuliner yang dinikmati di dalam keluarga secara bersama-sama. “Seruit berasal dari kata nyeruit yang artinya dilakukan bersama-sama. Dulu, Seruit disajikan dalam satu piring besar dan satu keluarga makan bersama. Itu yang menambah cita rasa dan memiliki filsafatnya sendiri,” papar Dr. Admi. Dia juga menceritakan keunikan Gulai Taboh karena bisa diisikan macam-macam sayuran, seperti labu, terong, ataupun jagung muda. Selain itu, Gulai Taboh dinilai memiliki nilai komersil dan digemari banyak orang.

Deputi Bidang Sumber Daya dan Kelembagaan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Indonesia, Bapak Wisnu Bawa Tarunajaya yang turut hadir dalam acara, memberikan dukungan atas diselenggarakannya gelar wicara Festival Kuliner Nusantara. Dia menyebut, industri kuliner menjadi salah satu subsektor penyumbang PDB terbesar di Indonesia yakni sebesar 41 persen. Industri kuliner juga tergolong stabil dan menyerap lapangan kerja yang besar yakni 8.8 juta tenaga kerja. Dia menekankan Kemenparekraf akan terus mendorong pertumbuhan industri kuliner. “Perlu inovasi baru dalam kuliner. Perlu dipikirkan taste terutama pada turis wisatawan mancanegara yang harus disesuaikan,” kata dia.

Melalui sambutannya, Ketua Lembaga Kebangsaan ILUNI UI, Ibu Nurmala Kartini Pandjaitan Sjahrir menyatakan program Festival Kuliner Nusantara ini bertujuan untuk membangun semangat kebangsaan melalui legenda dan sejarah kuliner di Indonesia. Dia juga berharap, program Festival mampu mendorong pariwisata dan ekonomi daerah. “Semoga melalui kemasan obrolan ringan dan santai, termasuk peragaan demo masak, pesan-pesan untuk mencintai dan menjaga khasanah budaya dapat tersampaikan dengan baik,” imbuhnya.

Sementara itu, Wakil Gubernur sekaligus Ketua ILUNI UI Wilayah Lampung, Ibu Chusnunia Chalim menyampaikan apresiasinya atas digelarnya Festival Kuliner Nusantara Lampung. “Kami berterima kasih atas kepercayaan ILUNI UI Pusat untuk menggandeng ILUNI UI Wilayah Lampung sebagai pilot project dari Festival Kuliner Nusantara. Kami berharap program seperti ini akan terus diadakan dan berkelanjutan, sehingga mampu memberikan wawasan seputar kekayaan kuliner Lampung. Kami juga berharap, kehadiran program ini mampu meningkatkan minat masyarakat untuk berkunjung ke Lampung,” pungkasnya.

Foto: Novi, Ist

You may also like
Latest Posts from Majalahjustforkids.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *