Legenda dari Kalimantan Timur  (The Legend from East Kalimantan)

 

Seratus tahun yang lalu, hiduplah seorang nenek tua di tengah-tengah kelompok masyarakat Dayak Punan tepatnya di hutan Marut Kalimantan Timur. Nenek tua itu dipanggil dengan sebutan Adu’oroh. (A hundred years ago, there lived an old lady among Dayak Punan people in Marut forest, East Kalimantan. The old lady was called Adu’oroh.)

Kelompok masyarakat Dayak Punan saat itu memiliki tradisi hidup secara mubut, mereka hidup berpindah-pindah dari hutan yang satu ke hutan yang lainnya untuk berburu. (Dayak Punan people lived by mubut tradition, which means they moved around from one forest to another to hunt.)

Karena Adu’oroh tidak lagi dapat berjalan, maka anak cucunya menggendong Adu’oroh dalam sebuah Kalong. Kalong adalah keranjang rotan yang biasa dipergunakan untuk membawa hasil meramu, atau untuk menggendong bayi. (Because Adu’oroh couldn’t walk anymore so that her grandchildren carry her in a Kalong. Kalong is a rattan basket usually used for carrying foraged goods or babies.)

“Adu’oroh mari ku gendong, kita akan pindah,” tutur cucunya. Sesampai di lahan baru, mereka pun sibuk membuka lahan untuk mereka tinggali. (“Adu’oroh let me carry you, we’re going to move,” said her grandchild. Once they arrived, they were busy preparing the forest for them to live.)

Keesokan paginya, para pria dari suku Dayak Punan ini pergi berburu. Adapun para perempuan dewasa lainnya menyiapkan makan siang dengan mencari umbi-umbian, ikan-ikan atau serangga-serangga kecil. (The next morning, the men from Dayak Punan clan went hunting. While the ladies went to prepare the lunch by searching for roots, fishes, and small insects.)

Sore harinya, kaum laki-laki pun kembali pulang dari berburu. Mereka membawa cukup banyak buruan. (During the evening, the men came back from hunting. They brought many preys.)

Bulan ke-lima, cadangan makanan sudah menipis dan tidak memungkinkan bagi mereka untuk berlama-lama mendiami daerah itu lagi. Maka anak tertua dari Adu’oroh pun memutuskan untuk kembali mencari lahan baru. (During the fifth month, the food supply was getting low, which means that they can’t stay there any longer. Adu’oroh’s oldest child decided to move and find a new place.)

Keesokan harinya, mereka sudah bersiap-siap untuk melanjutkan petualangan mereka. (The next day, they were ready to continue their adventure.)

“Ayo, Adu’oroh ku gendong di Kalong ini,” ucap salah satu anak Adu’oroh. “Tinggalkan saja aku. Aku hanya akan merepotkan kalian semua karena aku sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Biarkan aku tinggal di gubuk ini saja,” pinta Adu’oroh pada anak-anaknya. Anak-anak Adu’oroh tidak setuju, tetapi Adu’oroh bersikeras. (“Let’s go Adu’oroh, I’ll carry you in this Kalong,” said one of Adu’oroh’s child. “Just leave me here. I can’t do anything besides giving you trouble,” asked Adu’oroh to her children. Adu’oroh’s children refused but Adu’oroh insisted.)

Dengan berat hati, anak-anak Adu’oroh meninggalkan Adu’oroh seorang diri di hutan tersebut. Anak sulungnya menjenguk ibunya seminggu sekali. (With a heavy heart, they left Adu’oroh alone in the forest. The oldest child visited her every week.)

Pada minggu ke-empat ketika anak sulungnya menjenguk, dia tidak lagi mendapati Adu’oroh di gubuknya. Ia khawatir Ibunya menjadi santapan hewan-hewan buas di hutan tersebut. Ia pun segera mencarinya. (On the fourth week, when the oldest child visited her, he couldn’t find Adu’oroh anywhere in the hut. He worried that his mom had been eaten by wild animals in the forest. He was soon looking for her.)

Saat tiba di tepi sungai, ia melihat seekor kodok besar duduk di atas tikar. “Anak cucuku, jangan mencari aku lagi. Akulah Adu’oroh kalian. Aku tidak apa-apa di hutan ini,” ucap Kodok itu. (When he arrived at the riverbank, he saw a big frog sitting on top of a mat. “My child, don’t look for me anymore. I’m Adu’oroh and I’m doing fine in this forest,” said the frog.)

Ternyata, sepeninggal anak-anaknya, Adu’oroh bertapa untuk mendekatkan dirinya kepada sang Pencipta. Setelah sekian lama bertapa, Adu’oroh pun berubah menjadi seekor Ja’ui atau kodok besar. (Apparently, after being left by her children, Adu’oroh went to meditate in order to get closer to the Creator. After she had been meditating for quite sometimes, Adu’oroh turned into a Ja’ui or a big frog.)

Kodok besar tersebut berbicara seperti manusia sembari menangis. Ia berpesan untuk tetap menjaga kelestarian hutan serta tetap menjalani hidup secara mubut (berpindah-pindah). (The big frog spoke like a human as it cried. It told them to take care of the forest and to keep on living by mubut traditions.)

Hingga kini suku Dayak Punan yang masih tinggal di pedalaman hutan, tetap menerapkan hidup secara mubut. Mereka pun tidak boleh memakan kodok. (Until now, Dayak Punan people still live in the forest and they live by mubut traditions of moving. They are also prohibited from eating frogs.)

 

 

Cerita: JFK     Ilustrasi: JFK      Translator: JFK

You may also like
Latest Posts from Majalahjustforkids.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *